
Neta, entah kenapa sosok itu selalu bisa bikin orang waras jadi separuh gila karena sering mencercanya. Wajahnya cantik, seksi, dan untuk ukuran gadis desa dia termasuk produk unggulan.
Tapi, di balik wajah juga bodynya yang tak diragukan ehemnya, dia punya sifat bak Medusa. Tahu kan siapa itu Medusa? Yes, benar.. wanita ular! Dia selalu punya bisa atau racun untuk menyerang musuhnya.
Baginya tidak ada yang benar dan baik selain dirinya sendiri. Egonya tinggi, cara berpikirnya dangkal, ngomong dar-der asal keluar dari mulut tanpa filter. Tanpa memikirkan yang diajak ngomong bisa tersinggung atau enggak nantinya. Intinya dia ingin membuat dirinya sendiri bahagia, orang lain menderita karena ucapan atau tindakannya? I don't care! Kata Neta.
"Net kamu ngapain ke sini?" Tegas Jo menyipitkan matanya bentuk ketidaksukaan yang Jo tunjukkan nyata tanpa basa-basi.
"Berisik!! Kenapa memangnya kalau aku di sini? Ini rumahmu? Tanahmu? Lokasi ini kamu yang punya? Enggak kan?? Gembel diem aja deh! Ini tempat umum, yang artinya siapa aja boleh ke sini. Ngerti?!!" Bentak Neta tak karuan.
"Jo... Kita balik aja. Kasih kesempatan si tajir ini have fun sendiri di sini. Ndis..." Fajar kesal saat dengar Neta ngatain Jo gembel. Dia lalu mengulurkan tangannya untuk Ndis. Tapi, Neta langsung menarik tangan yang belum digapai Ndis untuk dia genggam.
"Sayang enggak boleh bersentuhan sama kuman macam dia! Bisa tercemar berbagai penyakit kulit nanti lho. Sayang mau kemana? Aku ikut ya.. iyaa boleh kan? Atau sayang ke rumah aku aja yuk hihihi.. rumah aku lagi sepi yank."
Fajar menarik cepat tangannya. Agak kaget tapi, Neta tetep stay cool dan tersenyum sumringah. Maju terus pantang mundur, tak ada usaha yang tidak membuahkan hasil. Setidaknya Neta punya semangat membara di dalam dada untuk merebut dan menaklukkan hati Fajar. Tanpa dia tahu jika Fajar telah memiliki seseorang yang biasa disebut pacar!
"Kamu ini cewek kok enggak tahu malu banget sih Net! Kamu buta atau belajar bodoh secara permanen sih? Kamu lihat kan mas Fajar enggak sedikitpun respon kamu tapi kamu kok ngebet banget mepetin dia mulu! Bisa enggak jadi cewek yang mahalan dikit?!" Lintang jadi ikut ngebul karena ulah Neta yang dirasa udah keterlaluan.
Neta terima dikatain seperti itu sama bocah? Tentu, tentu tidak maksudnya. Dengan mata berapi-api, Neta menatap garang ke arah Lintang.
Ndis menarik Lintang agar menjauh dari Neta yang siap nyemburin serangan makian yang udah khatam dari sononya.
"Enggak usah ngatain aku enggak tahu malu, kamu tahu apa tentang aku hah? Bukan aku yang enggak tahu malu tapi mbakmu yang sok alim ini!! Coba otakmu yang pinternya cuma separuh itu dipake buat mikir, dia udah punya calon suami tapi masih suka ngelayap nongkrong bareng laki lain. Apa dia mikir gimana perasaan calonnya itu saat tahu dia hahahihi sama cowok lain di sini? Enggak kan??! Kelian enggak bisa lihat kesalahannya, tapi dengan gampang nilai aku enggak tahu malu. Emang bener peribahasa gajah di pelupuk mata tak nampak tapi panu orang lain meski ditutupi rapat kelian bisa lihat!! Kaum sok alim enggak guna!!"
Dengan angkuh Neta berdecak pinggang, selalu merasa paling bener.
"Heeeh Paijo, lancang sekali mulutmu itu ngatain aku panuan!!"
Neta makin kesal.
"Mbak Neta yang maha pintar... Sepertinya kita musti sering-sering ngopi bareng biar mbak Neta ini tahu kalau tanpa ijin dari calon suamiku, aku juga enggak akan ada di sini. Yang artinya semua yang aku lakuin udah dapet persetujuan darinya." Ndis berusaha bicara selembut mungkin.
Mendengar Ndis mengucapkan kata calon suami tadi, muncul perasaan seperti menohok hati mungilnya. Dia berusaha menepis rasa itu.
"Ngopi bareng kamu? Hahahaha... Mimpi aja sana! Oke aku ngopi campuran gula plus susu kalau kamu cocoknya kopi campur kaporit sama sianida!!"
"Kamu bilang apa tadi? Tanpa persetujuannya kamu enggak akan ada di sini? Mau pamer biar aku mikir kamu diposesifin sama calon lakimu?? Enggak banget!!" Imbuh Neta makin jutek tak terkendali.
Dengan berlanjutnya drama lutung kasarung yang enggak tahu kapan berakhirnya, Lintang berinisiatif mendatangkan Dewa ke lokasi mereka berada. Dia melakukan panggilan telepon tanpa bicara dengan makhluk di seberang sana yang mendengarkan apapun yang sedang dibicarakan di tempat tongkrongan Ndis.
Tahu harus apa, Dewa segera mengambil kunci motor dan bergegas menuju lokasi yang udah dia ketahui letaknya. 'Tunggu aku beb'
Ya mungkin itu yang ada di pikiran Dewa saat melesatkan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Maaf ya gaess akhir-akhir ini aku sibuk banget di rl... Maaf kalau up nya lama. Aku harap kelian enggak ngutuk aku dalam hati karena mikir novel ini bakal aku gantung 😐.
Tenang gaess, Angel bakal nyampe end di sini kok. Meski yang baca itu-itu aja, yang komen juga orang yang selalu sama.. tapi aku tetep mau ucapin big thanks buat seluruh makhluk yang udah support aku nyampe titik ini. Love you gaess ❤️