
Tepat tiga hari setelah kecelakaan menimpa Ndis, Bagas yang masih ada di desa Wekaweka berhasil menemukan lokasi Neta biasa nongkrong. Bukan Bagas namanya kalau tahu ada yang tidak beres tapi tetap diam berpangku tangan. Siang itu Bagas samperin Neta di kafe tempatnya nongkrong bareng Yuni dan Rizna.
"Aku mau nyalon ah.. kukuku perlu perawatan lagi. Mau ganti warna rambut juga." Tidak ada yang bertanya tapi, dia tetap ngecipris kayak burung beo yang kurang makan.
"Neta!!" Bentak Bagas tanpa basa-basi.
Yuni dan Rizna kaget, apalagi Neta. Dia langsung menoleh ke arah suara yang menyerukan namanya berasal.
"Apa sih berisik banget! Kamu siapa? Salah satu fans aku hah? Maaf deh aku lagi malas foto bareng sama orang kampung!" Lah. Emang sekarang ini kamu ada di mana sih Net? Kamu juga orang kampung lho!
"Siapa itu Yun? Ganteng tapi masih berondong keknya!" Tukas Rizna berbisik ikut kepo. Yuni hanya mengerucutkan bibirnya dan menggeleng tanda tak tahu.
"Aku cuma mau ngomong, apa yang udah kamu lakuin ke kakakku akan aku laporin ke polisi! Tindakan kamu yang kriminal itu pasti mendapat balasan yang setimpal!" Bagas tak segan mengatakan semua itu di depan Yuni dan Rizna yang sepertinya tidak tahu jika temannya lah yang menjadi alasan kenapa Gendis ada di puskesmas, mendapat perawatan di sana.
"Ngomong apa sih? Gaje banget!" Masih santuy menanggapi ucapan Bagas.
"Indah Gendis Saeayu. Akrab dengan nama itu? Kenal? Atau emang kamu punya dendam pribadi sama dia sampai kamu bikin dia ada di puskesmas seperti sekarang?" Deg. Raut muka Neta langsung berubah mendengar nama lengkap Gendis disebut oleh Bagas.
"Kamu siapa?? Aku enggak kenal tuh sama nama aneh yang kamu sebutin tadi!" Masih bisa pura-pura. Emang drama queen banget! Dia malah dengan santai mengaduk es leci yang ada di depannya.
"Pura-pura aja terus. Enggak apa-apa. Sampai bukti yang aku bawa ini sampai ke tangan polisi jangan harap hidupmu masih bisa sesantai ini."
Tentu saja Bagas hanya menggertak Neta, dapat dari mana dia bukti kalau Neta lah penyebab Ndis kecelakaan, cctv? mana mungkin ada! Kejadian Ndis kecelakaan ada di jalan desa dekat persawahan. Enggak ada yang masang cctv di jalanan yang hanya dilalui petani, orang-orang yang mencari rumput dan nyawah (ke sawah).
Mendengar gertakan Bagas, sedikit menciutkan nyali Neta. Tapi, dia tetap dengan dramanya yang berpura-pura tidak tahu apa-apa. Nice girl!
Setelah mengibarkan bendera perang untuk Neta, Bagas segera pergi dari sana. Bertemu Jo adalah tujuannya. Jo gampang ditemukan, siang-siang gini dia enggak akan ngelayap kemanapun. Pasti ada di rumahnya nyuci galon-galon yang sudah jadi pekerjaannya setiap hari.
Sekali cling Bagas sudah sampai di rumah Jo, heeeh dikira Bagas titisan jin iprit kok bisa cepet banget sampai rumah Jo?!! Anggap aja iya! Yang nulis lagi males njlentrehin (jelasin) perjalanan sucinya menuju rumah Jo.
"Assalamualaikum," Bagas langsung memberi salam kepada para penghuni rumah yang berwujud maupun yang tak kasat mata.
Jo hanya menggunakan kaos dan celana pendek, menjawab salam Bagas dengan elegan! "Waalaikumsalam bro!"
"Tumben ke sini? Kapan balik ke kota J? Masih betah aja di mari hmm.." Jo yang slengean bertemu dengan Bagas yang tak kalah absurd darinya. Bagi yang enggak kuat iman mending skip aja obrolan mereka yang gaje ini. Apa hubungannya? Entah, hahaha!
"Nembe bali kon lungo neh? Aku jikuk cuti kok, gampang lah rono neh nek wes rampung urusane nek kene." (Baru pulang disuruh pergi lagi? Aku ambil cuti kok, gampang lah ke sana lagi kalau udah kelar urusannya di sini.)
Jo langsung menyuguhi temannya itu minuman kaleng berkarbonasi, melemparnya asal. Ditangkap sukur, enggak ditangkap nek kena muka ajur!
"Urusan opo? Gayamu sok penting banget. Gampang cuti nok gaweanmu kono opo? Oda wedi dipecat kowe?" (Urusan apa? Gayamu sok penting banget. Gampang cuti di tempat kerjamu di sana apa? Enggak takut dipecat kamu?)
Kampret, mau ngomong bahasa Jawa mulu ini!??
Setelah intro yang tak penting-penting amat tadi, Bagas menyampaikan maksudnya bertamu ke rumah Jo. Dia curiga kalau Neta lah yang menjadi penyebab kecelakaan Ndis. Memang belum ada bukti tapi, Bagas punya insting kuat soal hal itu.
"Terus kepiye? Ameh nuduh tapi ra no buktine yo podo wae setor nyowo! Mateni awak'e dewe Gas." (Terus gimana? Mau menuduh tapi enggak ada buktinya ya sama aja setor nyawa! Bunuh diri Gas!)
Bagas menunjukkan muka datar.
"Kok kowe soyo goblok to Jo! Kowe kan duwe pakdhe polisi, uripmu ra tau ngaleh-ngaleh onone mung nek kene tok! Yo gari pinter-pintere kowe mainke omongan. Pancing Neta mben keceplosan, gertak mbi jabatane pakdhemu! Tak tinggal lungo bukane pinter malah soyo o_on kowe!" (Kok kamu makin bodoh to Jo! Kamu kan punya paman polisi, hidupmu enggak pernah pindah-pindah adanya cuma di sini aja! Ya tinggal pinter-pinternya kamu mainin kata. Pancing Neta biar keceplosan, gertak dengan jabatannya pamanmu! Tak tinggal pergi bukannya makin pintar malah tambah o_on kamu!)
Asli yang translate capek!
Giliran Jo yang menunjukkan muka datarnya.
"Kowe sing goblok opo aku sih jane? Sejak kapan pakdheku jadi polisi? Dia dokter lah! Ancen wedus kowe!!"
Bagas seperti berpikir sesaat. Lalu tertawa dengan tanpa dosa.
"Eh iyo deng, lha sing polisi kae sopo mu yo? Hahaha!" Teman lucknut, udah ngata-ngatain o_on tapi ternyata dia sendiri lebih dari itu.
"Ha mbuh!" (Entahlah!)
Bagas malah makin ngakak karena kegajeannya. Berhasil membuat Jo menekuk mukanya.
✨✨✨✨✨✨✨
Jo, udah pada hafal dong ya sama cowok slengean satu ini?
Bagas,
Kenapa? Terlalu ganteng? Lebih ganteng dari Fajar? Ya udah sih nikmati aja pisual dari othor gaje ini🤣