Angel!!

Angel!!
Bab 30. Bukan Meninggalkan



Fajar mengantarkan Ndis sampai rumah, melihat kesibukan di bengkel Parto, Fajar langsung menyingsingkan lengan bajunya untuk ikut nyemplung ke bengkel membantu Parto. Bukan untuk mencari muka dia melakukan semua itu tapi, memang sudah jadi kebiasaannya untuk membantu siapapun saat dia bisa melakukannya.


Orang yang tidak dia kenal aja dibantu apalagi Parto, orang yang dia segani, dia panggil bapak, serta ayah dari orang yang dia sayang. Otomatis melihat Parto repot seperti itu jiwa kemanusiaan yang adil dan beradab itu muncul dalam hati mungilnya.


"Maturnuwun Jar, bajumu sampai kotor kayak gitu. Padahal tadi sudah dibilangin ndak usah bantuin." Parto menepuk ringan pundak Fajar.


"Kersane pak, (Biarin pak,) berani kotor itu baik.." Parto tertawa mendengar ucapan Fajar.


Ndis yang melihat keakraban antara bapak dan temannya itu hanya diam. Dia ada di bawah pohon rambutan menyiapkan minuman untuk Fajar. Lha kok cuma Fajar? Bapaknya ndak disuguhi? Enggak. Karena Ndis tahu bapaknya enggak pernah mau ikut ngerumpi bersamanya waktu ada Jo atau Fajar yang ditengah-tengah mereka.


"Jar.." Panggil Ndis saat Fajar masih ngobrol dengan pekerja yang membantu bapaknya di bengkel. Fajar seperti pamit meninggalkan pekerja itu dan bergegas menuju Ndis.


"Opo?" Fajar mengambil es teh yang disediakan Ndis di teko. Langsung menenggaknya begitu saja.


"Orang tuh tanya-tanya dulu itu air buat siapa, asal diminum aja. Kalau di situ tak kasih racun gimana?" Ndis berucap dengan nada juteknya.


"Paling mati. Mati di pelukanmu, enggak apa-apa lah ikhlas.." Garing banget deh Jar!


"Ndis.. Aku mau ngomong.. Hmmm, Kamu tahu kan dokter adalah profesi yang aku pilih untuk masa depan karirku? Setelah gelar S.ked, aku harus melanjutkan ke tahap koas agar bisa meneruskan cita-citaku itu.."


Diam sesaat. Memberi jeda pada hati dan otaknya untuk tetap bisa waras dalam menyampaikan semua isi hatinya kepada Ndis.


Ndis pun diam. Sudah bisa menebak ke arah mana Fajar akan meneruskan kalimatnya. Hatinya seakan tak rela dan tak ingin mendengar apa yang akan Fajar ucapkan tapi, dia hanya diam. Sekali lagi,, dia dihadapkan dengan perpisahan...


"Setelah program profesi ku selesai... Aku akan langsung pulang,, Nemuin kamu.." Fajar melihat perubahan di raut muka Ndis.


"Berapa lama?" Ndis bertanya, tidak melihat ke arah Fajar sama sekali.


"Satu setengah tahun... itu paling cepat.. Tiap hari aku akan kasih kabar ke kamu. Baru kamu yang aku kasih tahu tentang ini, dan selama aku jauh.. Aku hanya akan fokus pada koas aja.. aku enggak akan macam-macam,"


Entah kenapa ucapan enggak akan macam-macam terlontar dari mulut Fajar. Padahal status mereka juga sebatas teman saja.


"Di mana?" Singkat. Ndis seakan tidak ingin perpisahan ini terjadi.


"Jauh Ndis.. Jauh dari sini." Fajar jadi tak tega saat melihat mata lentik itu berkaca-kaca.


"Dua hari lagi,"


Selama ini, Gendis terbiasa dengan Fajar. Meski jarak rumah mereka sangat jauh, ada saja alasan Fajar untuk bisa bertemu dengan sahabatnya itu. Nyaris tidak ada hari tanpa Fajar disetiap hari Ndis. Dan sekarang.. Fajar berpamitan padanya, ingin meninggalkannya sendiri.. meski dia tahu, semua itu adalah keharusan yang musti Fajar jalani untuk masa depannya.. Tapi, tetap saja Ndis merasa tak rela saat Fajar akan meninggalkannya.


"Kamu jaga kesehatan ya selama di sana," Entah Ndis harus berkata apa.. Dia terlalu sedih hari ini.


Saat berpamitan dengan anak didiknya tadi di sekolah saja sudah membuat Ndis nyesek, sekarang malah ditambah Fajar yang memberi tahu jika dia akan pergi selama satu setengah tahun untuk program profesi.


"Iya.." Fajar ingin sekali memeluk Ndis saat ini tapi, sebisa mungkin dia tekan keinginannya itu. Dia enggak ingin momen cap lima jari di pipinya menjadi penutup hari menyebalkan ini.


"Kamu jangan sedih lah Ndis, aku pergi sebentar kok.. Enggak selamanya ninggalin kamu. Jujur aja, aku pun berat pisah sama kamu, ninggalin kamu di sini... Tapi-"


"Enggak usah diterusin, aku ngerti kok." Potong Ndis cepat.


Saat mendung menerpa hati keduanya, Fajar memilih menghubungi Jo. Berharap Jo bisa sedikit menghibur hati Ndis, hatinya sih enggak usah dihibur.. Karena selama ada Ndis di dekatnya, semua terasa fine untuknya.


Beberapa puluh menit berlalu, dengan kecanggungan yang tercipta.. Sesekali Fajar mencoba menciptakan obrolan baru, tapi ujung-ujungnya mereka memilih diam dengan perasaan masing-masing. Belum berpisah aja sudah seperti ini, apalagi kalau nanti mereka benar-benar dihadapkan dengan perpisahan yang nyata?


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


Aku hanya pergi tuk sementara


Bukan tuk meninggalkanmu selamanya


Aku pasti kan kembali pada dirimu


Tapi kau jangan nakal...


Aku pasti kembali,


Enggak usah nyanyi,, kelian bukan paduan suara gaess 😅