
"Udah malem Jar, kamu pulang aja." Meica berusaha menghindari tatapan mata dan obrolan yang Fajar ciptakan.
"Lihat aku Ca!" Perintah Fajar tak digubris Meica. Dia malah menunduk seperti mencari duit receh jatuh.
Merasa dicueki, Fajar menarik dagu Meica bermaksud membuat pacarnya itu melihat ke arahnya. Sontak Meica kaget dan menuruti kemauan Fajar. Yang terjadi berikutnya adalah, Fajar malah lebih fokus menatap bibir tipis dengan warna pink alami dengan sedikit sapuan dari pelembab bibir menambah kesan seksi dan natural.
Dengan keberanian dan mungkin juga terbawa suasana malam, Fajar mendekatkan wajahnya. Memposisikan bibirnya tepat di daerah seharusnya untuk mendarat, diamnya Meica membuat Fajar makin berani mengeksplor kunjungan pertamanya pada bibir Meica. Terdengar lenguhan tertahan saat Meica merasa paru-parunya butuh asupan oksigen.
Mengerti jika dirinya udah terlalu bar-bar, Fajar melepas tautan bibir antara mereka berdua. Meica langsung memalingkan pandangannya, menarik nafas sebanyak mungkin yang dia bisa.
"Maaf Ca.." Kata pertama yang Fajar ucapkan. Meica diam, dia mengatupkan bibirnya.. Tidak percaya jika dia baru saja menyerahkan ciuman pertamanya. Dan dengan sangat sadar Meica malah memberi balasan pada proses 'adu mulut' yang Fajar berikan untuknya.
"Ca.. Maaf.." Dua kata itu dibalik saja oleh Fajar karena tidak mendapat jawaban oleh Meica. Masa iya aku ci_pok kamu lagi baru mau ngomong.. Plis lah Ca, jangan ngadi-adi!
Fajar memilih mengambil ponselnya. Dia ketik beberapa baris kata dan dikirim kepada Meica yang jaraknya enggak ada empat puluh centimeter dari tempatnya duduk.
'Kamu mau ngomong apa enggak? Aku anggap diem mu itu cara kamu ngusir aku.'
Beberapa waktu menunggu, akhirnya Meica baru melihat ke arah Fajar. Meica menetralkan degup jantungnya yang naik turun tak karuan karena abis diajak olahraga bibir oleh Fajar. Mukanya yang putih bersih mendadak ngeblush saat mata mereka bertemu. Meski sama-sama baru pertama kali melakukannya, Fajar lebih bisa menguasai hati dan ekspresinya ketimbang Meica.
"Aku enggak tahu mau ngomong apa Jar, kamu minta maaf untuk apa?" Akhirnya suara serak manjah itu terdengar. Minta maaf untuk apa ceunah?
"Balik lagi ke awal.. Kamu mau aku gimana? Aku harus apa?" Uraian kata Fajar mendapat senyuman manis dari Meica. Bisa-bisanya Fajar nyamain bibirnya dengan pager depan kost Meica.
"Ehem.. Jar, aku tahu kamu masih nyimpen dia di hatimu. Aku juga tahu kamu berusaha keras buat cekokin pikiran kamu untuk berhenti mikirin dia, itu sulit.. Aku tahu.." Menetralkan kembali suaranya yang nyaris ilang karena rasa malu.
"Terus?" Fajar memotong ucapan Meica.
"Jangan jadiin aku pelarian Jar.. Itu aja." Menunduk, lagi-lagi Meica bingung dengan apa yang ingin dia sampaikan kepada pacarnya.
"Aku bukan atlet Ca, aku juga enggak minat bikin kamu capek dengan ngajak kamu lari-larian. Ca.. Aku mau tanya sama kamu, dulu pas aku nembak kamu kenapa kamu mau? Kamu bisa aja nolak aku kan? Kamu beneran sayang aku atau ada alasan lain?" Meica tergagap. Dia enggak nyangka Fajar justru menanyakan hal itu saat ini.
"Kamu bilang tadi, kamu enggak mau aku jadiin kamu pelarian ya kan? Berpikir ke arah sana pun enggak Ca. Jujur aja kamu udah punya ruang sendiri di sini (menunjuk dadanya). Aku suka saat kamu senyum, aku suka saat kamu kepo sama masa laluku, aku suka saat kamu cerewet tanya siapa itu Neta. Ca.. Semua butuh waktu dan aku enggak mau nyia-nyiain waktu bareng kamu hanya untuk mengingat masa lalu. Aku ingin kita berjuang bersama, jangan terus menoleh ke belakang... Kamu enggak akan menemukan apapun yang kamu cari saat terus melihat ke belakang kecuali kekecewaan dan sakit hati."
Fajar berhasil membuat lelehan bening mengalir jatuh dari mata Meica. Gadis itu tak tahu harus berkata apa, ternyata selama ini dia yang terlalu over thinking tentang perasaan Fajar. Dia membuat asumsi sendiri jika dirinya hanya dijadikan pelarian atau tempat mampir bagi Fajar.
Tapi ngko disik (nanti dulu) gaess, setiap orang bisa berkata bak pujangga atau penyair atau apapun itu yang berbau manis-manis saat berucap kalau mereka mau dan terdesak dengan keadaan untuk membela diri atau menutupi isi hati yang sebenarnya. Pertanyaannya, apa yang Fajar ucapkan itu adalah beneran jujur dari lubuk hati mungil terdalamnya atau hanya untuk membuat Meica enggak terus-terusan meragukan keputusan Fajar saat memutuskan macarin Meica?
Malam yang makin larut membawa Fajar pergi meninggalkan kost Meica. Dia juga sadar diri jika berkunjung terlalu malam dan terlalu lama di kost cewek itu enggak baik. Enggak baik untuk Meica dan untuk imannya! Asli, malam ini setelah mendapat servis perdana dari bibir tipis milik pacarnya itu.. Fajar jadi lebih sering memperhatikan Meica saat berbicara.
Emang dulu enggak perhatian? Maksudnya, Fajar jadi fokus ke arah itu-itu aja, ngono lho gaess! Nilai sendiri lah Fajar ini gimana, othor cuma bertugas up cerita hidupnya aja kok!