Angel!!

Angel!!
Bab 64. Part Neta Lagi



Bunyi klakson memekakkan telinga. Belum sampai di kafe Ndis untuk merusuh, Neta harus dihadapkan oleh ulah pengendara motor yang sangat dia kenal yang sekarang menghalangi jalannya. Siapa? Rama!


"Kamu kira ini jalan moyangmu hah? Bawa mobil enggak bisa, mending naik odong-odong aja! Lebih pantas buat kamu! Turun!!" Bentak Rama kepada Neta.


Rama tahu siapa yang ada di mobil itu karena dia juga udah hafal dengan mobil yang sering dipakai Neta itu.


"Kamu yang salah masih bisa bentak-bentak aku hah? Ngapain nyuruh turun? Ogah!!" Enggak kalah ngegass Neta berucap dengan posisi masih di dalam mobil.


"Kamu nyalain lampu sen ke kiri, yang artinya kamu harus belok ke kiri! Napa jadi belok ke kanan?? Lalu bilang aku yang salah? Ini kalau aku kenapa-napa bakal ku bawa masalah ini ke tukang urut tahu enggak!"


Neta yang enggak tahan dengan bunyi gedoran di kaca mobilnya langsung turun. Kebetulan dia juga harus menuntaskan kejengkelannya sejak pagi. Mendapat lawan cowok lemes macam Rama pasti bisa menuntaskan kekesalannya, itulah yang Neta pikirkan.


"Jangan besar-besarin masalah ya kamu, kamu tahu kan ini jalan sepi. Suka-suka ku lah mau belok kanan atau kiri, mau ngesen atau enggak itu hak ku! Enggak usah baor-baor (ngoceh mulu) kayak gitu, lebay tahu enggak! Lebaaaayyy!!!" Ini nih jenis setan di dunia nyata, udah tahu salah aja enggak mau disalahkan.


Rama memalingkan muka sambil tersenyum mengejek. Dulu mata dan hatinya pasti sumbangan orang, sampai dia bisa suka setengah mati sama orang di depannya ini. Kenapa baru sadar sekarang kalau Neta itu kebangetan julidnya! Matanya dulu kelilipan apa nyampe bisa memandang kagum selama dua tahun ke sosok angker yang kalau dijadikan satu kandang sama gorila aja pasti si gorila yang kalah karismanya dibandingkan Neta.


"Aku pengen tanya sama kamu, kalau seumpama aku yang ada di mobil.. Dan kamu yang bawa motor, terus aku ngesen suka-suka ku.. Apa kamu akan terima? Aku hampir jatuh lho tadi karena ulah seenak udelmu itu! Ketampananku bisa menguap satu persen kalau sampai aku jatuh ngerti enggak?!" Rama memandang tajam ke arah Neta yang enggak ada takut-takutnya sama sekali.


"Heeeeeh manusia purba jenis Pithecanthropus erectus, enggak usah mendramatisir keadaan bisa enggak? Enek aku denger rentetan ocehan enggak berbobot dari mulutmu itu!"


Rama kesal. Dia tahu enggak baik adu mulut sama cewek tapi ya lihat-lihat jenis ceweknya dulu. Tipe Neta ini dihalusin ngelunjak, dikasarin bisa bikin tensi naik. Rama diem dipojokin mulu, bantah kata-katanya pun percuma karena bagi Neta hanya dia yang paling benar di muka bumi ini.


"Aku yakin emak mu dulu ngidam nuklir waktu mengandung kamu, bisa kek gitu lho bentukanmu setelah jadi manusia di dunia fana. Menyebalkan, enggak bisa diem, bisanya bikin orang naik darah. Dirukiyah pun enggak ngefek karena para dedemitnya udah membaur di darah dan pikiranmu." Rama mencibir.


"Jangan salahkan orang lain atas kesalahan yang kamu lakukan. Tuhan menciptakan manusia dengan akal dan pikiran tujuan untuk dipakai! Menciptakan otak untuk difungsikan bukan untuk pajangan. Kamu bukan satu-satunya makhluk cantik di desa ini, bahkan adikku saja jauh lebih cantik dari pada kamu. Bukan menghina fisik tapi, jika kecantikan yang kamu banggakan dan membuatmu sesombong ini.. ingat cantikmu itu bisa memudar seiring waktu."


"Kamu merasa di atas angin karena selama ini enggak ada yang ngelawan kamu? Kamu salah! Orang waras lebih suka menghindari bersitegang dengan kamu karena mereka pikir mereka hanya akan buang waktu. Kamu lihat Gendis? Iya.. cewek yang kamu benci setengah mati itu.. Kapan dia nanggapi kamu? Nyari masalah duluan sama kamu? Enggak pernah! Karena apa? Karena dia anggep kamu enggak sepenting itu sampai harus ribut tiap kali bertemu kamu."


Rama melepaskan pegangan tangannya, dia enggak akan seperti itu jika Neta enggak keterlaluan. Lagian harus ada pawang atau matador untuk makhluk sejenis banteng liar seperti Neta ini.


"Kamu enggak tahu apa-apa tentang hidupku, jadi berhenti menggurui ku dengan omongan unfaedah mu itu!!" Bantah Neta masih tak mau kalah.


"Bisa enggak jangan teriak-teriak hah? Aku enggak tuli!"


Di ujung kesabarannya Rama memutuskan untuk pergi saja dari lokasi itu. Terlalu syulit membuat Neta sadar hanya dengan satu dua kali omongan.


"Mau kemana?? Aku belum kelar ngomong! Kamu minta tanggung jawab kan? Apa mu yang rusak biar ku ganti!"


Ucapan Neta membuat Rama diam di tempat. Memutar arah dan kembali ke posisi tadi, semakin mendekat ke arah Neta.


"Kalau aku bilang hatiku yang rusak, kamu bisa ganti? Dengan apa kamu gantiin hati seseorang yang udah kamu rusak?"


Neta ingin bicara tapi slebew kilat dari bibir Rama membuat Neta mendorong paksa Rama. Dua kali Rama melakukan silaturahmi tak terpuji itu. Dan kali ini, tamparan di pipi Rama menjadi balasan untuk perbuatan yang dia lakukan kepada Neta.