
Sayaaaaang... Kamu kapan pulang lho? Aku kangen kamu nyampe hampir gila di sini tahu enggak?? Tanpa kamu, aku kayak lagi napas diantara keteknya Paijo lucknut itu! Ngap, bau, sesak juga karena sudah terjadi pencemaran udara di sana. Cepet pulang ya sayang.. Aku tunggu kamu nyampe kamu jadi dokter dan lamar aku! Inget ya sayang, lamar aku!! #Rindu ayank Fajar_si cantek Neta.
Sebuah story dengan tiga foto yang berjejer rapi menemani, dirasa cukup untuk membuat para polowersnya berasumsi kalau Neta memang pacaran dengan Fajar.
Dilihat lagi foto-foto itu, terlalu unyu dan imut menurutnya. Segaris senyum terukir di wajah ayu Neta. Membayangkan foto itu akan berkamuflase menjadi kenyataan di dalam hidupnya.
'Lain kali kalau mau gila, gila aja sendiri! Ngapa bawa-bawa ketekku segala?!'
Salah satu balasan dari para juliders, para netijen yang enggak suka dengan kebahagiannya. Siapa lagi kalau bukan Paijo kacungnya cewek linggis yang sok perpek itu, ach Neta tak ingin menghancurkan sore indahnya dengan perdebatan tak penting dengan Paijo di sosmed.
"Kamu lagi seneng ya?" Tanya Elis merapikan rambut Neta.
"Biasa aja! Kenapa?"
"Biasa kok cengar-cengir mulu dari tadi."
Selesai dengan rambut Neta yang minta di ini onoin sama pemiliknya, Elis kembali duduk menarik kursi di sebelah Neta. Jarinya lincah membuka aplikasi yang ada di hapenya. Igeh adalah tujuan pertama Elis berselancar di dunia maya.
"Dieh apa ini Net? Kamu edit potomu sama Fajar? Kurang kerjaan banget sih kamu ini!" Kaget menemukan postingan Neta di igeh.
"Lama-lama kamu kayak linggis tahu enggak?! Benci aku sama kamu. Apa-apa di komenin, kenapa emang kalau aku kurang kerjaan edit poto ayank? Keluarga ku kaya raya, buat beli salon kecil mungilmu ini aja tinggal gesek ATM aja! Enggak usah kerja! Aku kaum rebahan yang udah terjamin suksesnya dari dulu kala, enggak ada di takdirku idup kekurangan sampai terlunta-lunta!! Jadi berhenti komenin apapun yang aku lakukan, ngerti??" Marah lagi. Ngomel lagi. Pegel juga ngetik ocehan Neta. Perlu dilakban keknya itu cewek satu!
"Seraaaaah Net seraaaaah!! Sak bahagiamu aja!" Elis pura-pura bersibuk ria dengan mengambil sapu dan sengaja menggerakkan sapu itu tak beraturan.
"Elis!! Kamu kesurupan ya?? Ini debunya terbang-terbang tahu enggak!! Dah lah aku mau pulang aja!"
Ngatain orang kesurupan, enggak sadar dia yang bikin orang lain sewot sama kelakuannya! Pulang sana pulang! Hati-hati nanti pulangmu malah pulang menuju Rahmatullah!
Elis hanya bergumam dalam hati. Tahu, jika dia meneruskan omongannya bakal makin panjang berurusan sama titisan wewe gombel itu.
Dengan hati berflowers, Neta menggiring motor yang dia tunggangi menuju minimarket. Dia ingin melupakan kejadian menjengkelkan di salon Elis tadi, dengan shoping beberapa cemilan kaporitnya! (favorit).
Perhatiannya teralih pada lelaki berparas tampan rupawan tapi di matanya tetap tak ada yang setampan Fajar. Lelaki itu mengambil beberapa potong coklat dan es krim lalu berjalan mulus menuju kasir.
"Masih jadi jongosnya si linggis kamu hmm?" Neta menyapa dengan bahasa sengaknya. Membuat lawan bicaranya malas menjawab tapi, tetap menunjukkan senyum dan anggukan kecil memberikan kesan ramah.
"Heran deh, kok masih ada ya orang yang suka sama si linggis! Apa sih kelebihan manusia sok cantik itu?? Dia enggak di sini aja bisa bikin mood ku hancur begini!" Berjalan menuju lemari pendingin di mana menyimpan berpuluh-puluh minuman dingin dengan rasa dan merek berbeda.
"Kelebihannya adalah tanpa dia ada di sini pun, dia selalu bisa membuatku jatuh cinta setiap mengingatnya. Mood mu hancur mungkin karena kamu tidak bisa seperti dia. Bahasa ngetrendnya kamu iri."
Dewa pergi meninggalkan kedongkolan di hati Neta. Ada apa dengan semua orang? Dia rasa, semua orang sudah tidak mempunyai akal sehat sekarang ini! Dari Rizna, Rama, Elis dan sekarang Dewa! Semua orang itu udah bikin harinya buruk!! Sangat buruk. Dan penyebab utama dari semua itu adalah satu mahkluk bernama Gendis!
"Semuanya seratus enam puluh lima ribu mbak." Ucap kasir yang sudah menjumlah total belanjaan Neta.
Neta mengeluarkan uang seratus ribu dan lima puluh ribuan. Menyerahkan kepada kasir. Dengan pedenya dia menenteng belanjaan dan ingin melenggang pergi.
"Mbak.. uangnya kurang! Lihat lagi struk belanjaannya mbak, ini uang yang mbak kasih hanya seratus lima puluh ribu. Kurang lima belas ribu mbak." Tegur kasir kepada Neta yang baru saja akan membuka pintu minimarket.
"Apa sih?? Kurang apa?? Itu kembaliannya ambil aja! Jangan ngarang deh! Aku ngasih duitnya dua ratus ribu tadi!!" Ngotot adalah jalan ninja yang ditempuh Neta untuk menyelesaikan semua masalah di muka bumi.
"Ini mbak. Ini uang yang mbak kasih, seratus lima puluh ribu, enggak kurang enggak lebih! Dan belum aku masukkan kedalam laci. Kalau mbak enggak percaya bisa lihat di cctv kami. Berapa jumlah uang yang mbak berikan tadi." Si kasir hanya bekerja di sana, tentu saja dia tidak ingin uang gajinya dipotong hanya karena costumer ngeyelan model Neta ini.
"Heh aku inget tadi udah ngasih kamu dua ratus ribu ya!! Kamu mau nipu aku hah??"
Neta membanting keras belanjaannya di lantai. si kasir hanya bisa istighfar banyak-banyak dalam hati.
Dewa yang belum beranjak dari parkiran melihat keributan di dalam minimarket, jadi kembali ke dalam sana. Setelah mendengar penjelasan mbak kasir, Dewa mengeluarkan uang lima puluh ribu untuk membayar kurangnya jumlah uang yang harus Neta bayar. Ucapan terimakasih mbak kasir itu tujukan kepada Dewa saat Dewa bilang kembaliannya boleh untuk mbaknya aja.
"Ini!!" Neta menyodorkan uang seratus ribu kepada Dewa saat keduanya sudah ada di luar area minimarket.
"Enggak usah. Anggap aja itu sedekah. Assalamualaikum," Dewa melipir pergi.
Neta sangat kesal mendengar ucapan terakhir Dewa tadi. Sedekah konon?? Dia pikir aku sefakir itu nyampe harus dikasih sedekah dari dia??
"WAALAIKUMSALAM!!!" Neta menjawab salam Dewa dengan berteriak. Entah apa tujuannya!