Angel!!

Angel!!
Bab 23. Belajar Dari Suhu



"Mampoos!! Makanya jadi cewek enggak usah sok laku! Kecentilan iyuuuuuh, Hahaha" Tawa Neta makin mempertegas kalau dia memang jelmaan wewe gombel.


Tak ada jawaban, bantahan, atau komentar apapun itu yang Ndis ucapkan untuk membalas omongan Neta tadi. Dia enggak peduli dengan ucapan Neta.


Tepukan ringan di bahu kanannya membuat Ndis menengok ke arah itu. Dewa sudah ada di belakangnya, memberikan jaket untuk Ndis pakai. Dan Neta, kemana dia? Setelah mengatakan hal tadi kepada Ndis, dia langsung brabat (buru-buru) ngejar Fajar. Tentu saja Neta enggak mau kehilangan momen jadi peri baik hati yang menghibur Fajar di saat seperti ini. Bukankah Neta sangat baik gaess?


"Pulang aja. Enggak usah lihat aku kayak gitu, nanti kalau aku makin enggak bisa bangun dari jatuh ku kamu harus mau tanggung jawab sama aku." Ndis mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Dewa.


"Jatuh cinta sama kamu." Empat kata itu hanya ditanggapi Ndis dengan kedipan mata. Tanpa senyum seperti gadis lain saat mengetahui jumlah followers hatinya bertambah. Flat tanpa ekspresi.


"Kamu ini, aku lagi bilang cinta kok kamu diem aja. Seenggaknya senyum kan bisa." Dewa udah berjalan mendahului Ndis dan nangkring di atas motornya.


"Enggak ada yang lucu sampai aku harus senyum. Ayo pulang." Ndis menaiki motornya sendiri. Kembali ke sifat aslinya, cuek, lempeng, terkesan tidak ramah pada orang lain.


Tanpa diberi komando, Dewa tetap mengawal Ndis sampai rumah. Hal wajib sebagai bentuk tanggung jawab saat ngedate bareng gebetan ya kek gitu. Balikin ke rumah orang tuanya dengan selamat sampai tujuan. Meski Dewa tahu ngedatenya malam ini berakhir diluar ekspektasinya tapi, tak masalah. Masih banyak waktu. Cinta itu karena terbiasa bukan karena terpaksa, meski banyak kisah 'terpaksa' yang jadi cinta, tapi di sini Dewa enggak menganut konsep seperti itu.


Di tempat lain, Fajar sudah bersama Jo. Mereka ada di warung legendaris tempat trio gabut pada masanya sering kumpul. Ya, di mana lagi kalau bukan warung mbok Yun. Bukan Yuni temannya Neta ya gaess.


"Capek Jar?" Tanya Jo yang kembali mendengar hembusan nafas kasar yang Fajar lontarkan untuk kesekian kalinya.


"Perasaan aku kok salah mulu Jo, maunya Ndis itu apa? Aku menjauh salah, aku deketin juga makin salah. Aku kudu piye?" (Aku harus gimana?)


"Angel Jar, aku sendiri juga kalau di posisimu pasti bingung." Jo geleng-geleng kepala.


"Itu bapakmu ke sini Jo?" Melihat ke arah mobil Beni ayahnya Jo, yang semakin mendekat warung mbok Yun.


Beni turun dari mobil. Langkah santai tapi tetap berwibawa, benar-benar jauh berbeda dengan Beni beberapa puluh tahun lalu yang slengean dan selalu cuek dengan penampilan. Sifat slengean itu sekarang menurun pada Jo.


"Pak.." Jo menyapa bapaknya.


"Lho ngapain di sini?" Sebenarnya sih Beni enggak terkejut bertemu anaknya di warung mbok Yun, cuma ya basa-basi aja. Ada ya orang kek gitu?


"Tuh, nemenin Fajar." Fajar mendekat dan menyalami Beni. Beni merasa benar-benar jadi sesepuh kalau seperti ini.


"Pak, Fajar ini sebenarnya lagi bingung sama Ndis." Jo bercerita seakan Fajar ghoib di sana, dan bisa digibah di depan mata.


"Ndis? Anaknya Parto? Kamu suka dia Jar?" Tanya Beni sambil sibuk dengan ponselnya.


"Iya om." Jawab Fajar sekenanya.


"Lha terus masalahnya apa?" Meletakkan ponselnya di meja warung mbok Yuni yang masih tetap sama posisinya meski sudah puluhan tahun berjualan. Tak ada yang berubah di warung itu, kecuali si pemiliknya yang sekarang terlihat memiliki banyak tanda kebijaksanaan di atas kepalanya.


"Masalahnya pak, Ndis itu udah tahu Fajar suka sama dia tapi enggak ngasih respon apapun. Ditolak enggak, diterima juga enggak tapi, malah lengket sama orang tua yang juga suka sama dia." Jo yang menjelaskan. Fajar diem aja.


"Kamu digantung sama anaknya Parto? Hahaha, maaf Jar.. aku enggak mau ketawa kok ya enggak bisa." Ini salah satu bukti bahwa sifat lucknut Beni tak lekang oleh jaman.


Jo dan Fajar saling pandang dengan tampang datar.


"Ehm.. Saran aja ya anak kuda hahaha.. Jalani apa yang ada di depanmu. Ikuti arusnya, pakai rumus itu untuk semua masalah di hidup mu. Kamu udah bilang apa yang perlu kamu ungkapkan, masalah diterima atau enggak.. itu urusan belakangan. Dia deket sama cowok lain ya kamu enggak usah ngoyak-ngoyak (ngejar-ngejar) dia, jadi lah tempat ternyamannya. Enggak usah jauhi seakan-akan dia itu virus Corona."


"Bersikap biasa aja, seperti saat kamu belum ungkapin perasaanmu ke dia. Dia mau cerita dengerin, kalau dia diem ajak ngobrol. Saat dia sadar kalau kamu ada di hatinya, pasti dia akan puter balik ke kamu."


Beni menyudahi wejangannya untuk Fajar.


"Tapi pak, kok kesannya Fajar yang mengemis cinta Ndis. Pak, kita cowok lho pak.. Harga diri kita tinggi. Masa cuma dijadiin serepan." Tutur Jo.


"Ya itu tergantung penilaian masing-masing orang. Sejauh mana hatimu bisa tahan waktu di uji dengan penantian seperti itu. Saat Gendis terlihat enggak menoleh ke arahmu sama sekali, itu waktunya buat kamu healing mas'e. Cinta itu sederhana kok. Kalau enggak bertepuk sebelah tangan ya diuji sama kesetiaan dan penantian." Beni mengambil ponselnya yang berkedip.


"Kalau sampai akhir Ndis cuma anggep aku sahabat gimana om?" Tanya Fajar dengan muka serius.


"Lho lha kamu selama ini ikhlas enggak jalani persahabatan sama Gendis? Sesuatu yang punya embel-embel enggak tulus dan ikhlas yang kamu dapat pasti cuma kekecewaan. Contohnya ya kisah mu ini, kamu tanya sama hatimu sendiri.. Persahabatan yang udah puluhan tahun terjalin itu mau kamu bawa ke arah mana, permusuhan saat rasa cinta tumbuh tapi tidak terbalaskan? atau persaudaraan yang akan menjadikan kamu selamanya punya dia?"


Fajar diam. Jo manggut-manggut seakan udah ngerti semua yang bapaknya omongin tadi.


"Kelian masih muda, jangan gunakan masa muda kelian hanya untuk cinta-cintaan yang belum tentu ke mana arah tujuannya. Saat kelian mantap berkeluarga baru boleh gasspol ngejar orang yang kelian sayang. Sebelum itu, nikmati aja alurnya."