Angel!!

Angel!!
109. Kebenaran



Sebelum baca kelanjutan Angel!! Aku mau kasih bisikan rindu pada kelian hehehe.. Jadi gini, Angel!! bentar lagi akan selesai, aku usahain minggu ini kelar. Bukan terpaksa ditamatin karena kesibukan atau banyaknya kegiatan di rl, emang jalan ceritanya ringan dan udah waktunya selesai. Maaf kalau nanti endingnya tak sesuai ekspetasi kelian, dan terimakasih banyak atas dukungan kelian. Aku sayang kelian semua.. Aku enggak akan bisa sampai di titik ini tanpa bantuan kelian. Terimakasih.


🍒🍇🫐🍎🍋🍒🍇🫐🍎🍋🍒🍇🫐🍎🍋


"Net.. Papa kamu udah pulang belum? Kenapa ke luar kota lama banget ya Net? Nomer ponselnya juga enggak bisa dihubungi. Mama kok kepikiran terus sama papa?" Mama Neta terus menekan tombol memanggil di ponselnya. Berusaha terus menghubungi nomer suaminya siapa tahu akan tersambung nantinya.


Neta diam. Alasan apa lagi yang akan Neta berikan pada mamanya jika sudah seperti ini. Sebuah ide muncul, Neta mengambil proyektor, memutar video yang memperlihatkan sosok papanya saat masih hidup. Video itu diambil dulu sekali saat Neta masih kecil. Mama terlihat senang menyaksikan video yang sedang berlangsung memutar gambar keakraban mereka sebagai satu keluarga.


"Kamu dulu gembul banget ya Net, lihat pipimu itu seperti bakpao." Sebuah senyum muncul. Neta hanya mengangguk mengiyakan.


"Ma.." Neta mendekati mamanya, menatap dengan pandangan bingung tapi, sedetik kemudian tangan perempuan paruh baya itu dibentangkan dengan gestur ingin memeluk.


Menangis Neta di pelukan mamanya, rasanya udah sangat lama dia tidak merasakan pelukan mamanya.


Yang masih punya orang tua, jangan gengsi menunjukkan atau mengekspresikan rasa sayang kelian buat mereka ya. Seberapa sering kelian bilang 'aku sayang kamu' untuk pasanganmu? Apa sesering itu juga ucapan sayang kelian untuk orang tua kelian masing-masing?


"Kamu kok nangis, kenapa Net?" Tanya mamanya memperhatikan Neta yang masih berlinang air mata.


"Ma.. Papa udah enggak ada ma, papa udah meninggal.. Mama jangan kayak gini. Ikhlasin papa ya ma." Hampir seperti bisikan, Neta bahkan tak berani menatap mata mamanya saat ini.


Seketika Neta didorong mamanya, perasaan marah itu muncul lagi. Mamanya Neta bahkan berteriak tak terima dengan apa yang Neta sampaikan padanya. Berusaha menenangkan mamanya, Neta justru mendapat tamparan dari sang mama. Neta terhenyak. Bukan pipinya yang sakit tapi, hatinya. Kenapa mamanya bersikap begini padanya? Dulu, mama memang cuek tapi tidak separah sekarang.


"Ma.." Mata Neta sudah berkaca-kaca.


"Jangan panggil aku mama! Kalau bukan karena kebaikan hati papamu, aku juga tak mau mengasuh mu! Iya.. Aku ingat,, Aku ingat sekarang, kamu bahkan bukan anak suamiku! Kamu anak siapa? Kamu ini siapa? Hahaha.. Pa, siapa Neta ini sebenarnya?" Mamanya Neta sudah tak terkontrol.


"Ma.. Jangan gini ma, aku tahu mama sangat kehilangan papa tapi, papa enggak akan kembali hidup dan berkumpul sama kita meski kita menangisinya setiap hari."


"Apa ucapanku tadi belum jelas untukmu hah? Kamu ini bukan anakku, bukan anak suamiku!!"


Neta tercengang. Apa lagi ini? Dia yakin mamanya sedang terpengaruh sinetron ikan terbang! Ya. Mamanya pasti sedang berhalusinasi lagi, beliau membayangkan sedang bermain peran jadi ibu tiri yang jahat! Nah. Pasti seperti itu.


"Mama ngomong apa? Ma.. Bukan cuma mama yang kehilangan papa, aku juga ma!" Neta menepuk dadanya. Sekarang sesak itu mulai muncul.


"Aku ingat... Ya sekarang aku ingat. Sepuluh tahun pernikahanku dan suamiku, kami belum juga dikaruniai anak. Aku sedih, tentu saja. Suamiku pulang bekerja, dengan wajah dan senyum gembira yang masih aku ingat sampai sekarang.. Dia mengajakku ke puskesmas! Dia ngotot ingin membawamu pulang, dia bilang.. 'Ma mungkin bayi ini adalah jawaban dari Tuhan atas semua doa kita selama ini. Kita jadikan dia anak kita, siapa tahu nanti kamu akan hamil setelah kita mengasuh anak ini ma!' Benar. Seperti itulah cara suamiku membujukku dulu untuk mau menerima kamu menjadi bagian dari hidup kami."


"Di tahun ke dua kami menjadi orang tuamu, aku benar-benar hamil. Tapi, karena kamu! Karena kamu, anakku meninggal dalam kandungan!! Kamu berlarian di dalam rumah, saat di tangga itu (menunjuk arah tangga di dalam rumah yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua) aku terjatuh karena mengejar mu! Kamu bisa bayangkan berapa hancurnya aku saat itu? Dua belas tahun menanti hadirnya buah hati tapi kamu hancurkan penantian dan harapanku kurang dari dua menit!!"


Neta tak percaya dengan semua yang didengarnya. Neta bahkan hanya diam tanpa bisa menangis. Rasanya semua ini sulit diterima oleh akal sehatnya.


"Kamu pikir kenapa aku dan suamiku tidak peduli padamu? Karena pekerjaan? Karena sibuk dengan dunia kami sendiri? Jelas tidak!! Karena aku selalu kesal saat melihatmu! Suamiku lebih baik dari aku karena dia masih mau meluangkan waktu barang sebentar untuk kamu! Tapi aku? Melihat kamu tersenyum saja membuat aku berpikir kalau kamu sedang meledekku! Mengejek ketidakmampuanku! Mengejek kegagalanku melindungi buah hatiku sendiri! Pergi kamu dari sini!! Melihatmu membuat aku ingin mengakhiri hidup! Ingin rasanya aku menyusul anak dan suamiku!"


Tangis itu semakin kencang. Neta mematung. Apakah memang yang dikatakan mamanya adalah kebenaran?


Neta berbalik tapi dia menabrak dada bidang yang membuat dia tersadar dari hantaman syok yang dia alami sekarang.


"Pergii!! Aku bukan mamamu! Aku bukan orang tuamu!! Aku saja tidak tahu siapa kamu, siapa orang tuamu-"


Tangan Rama menutup kedua telinga Neta. Neta mendongak ke atas menatap netra itu. Neta menangis.. Masalah ini benar-benar mengguncang jiwanya.


Seperti mimpi. Baru kemarin dia ditinggal pergi oleh papanya dan sekarang dia dihadapkan dengan kenyataan bahwa dia bukan anak kandung keluarga yang dia yakini adalah keluarganya selama ini. Dua puluh tiga tahun dia hidup di dunia, hanya papa dan mamanya yang Neta kenal sebagai keluarga. Dia tak memiliki kakek nenek atau saudara yang lain seperti orang-orang pada umumnya karena mama dan papanya dulu tidak pernah memperkenalkan Neta pada keluarga inti mereka.


"Tante.. Mungkin Neta benar bukan anak kandung tante tapi, selama ini Neta lah yang ada untuk tante dan almarhum om semasa hidup." Rama berusaha mencairkan hati mamanya Neta.


"Diem kamu! Aku sedang tidak ingin mendengar ocehan kelian!!" Bentakan itu menggelegar di seluruh isi rumah.


"Neta.. Jangan lagi ke sini, kalau kamu masih anggap aku mama mu.. masih punya sedikit rasa kasihan untuk orang tua ini, tolong jangan datang ke sini lagi!"


Hancur pertahanan Neta. Dia tak kuasa mendengar mama yang dia sayangi mengusirnya seperti itu.


"Ma.. Enggak tahu mama anggap aku ini apa, tapi.. Dari dulu yang Neta tahu mama dan papa adalah orang tua Neta. Ma.. Neta sayang mama.. Neta pergi ma.."


Neta melangkah keluar dari rumah megah yang selama ini menjadi tempat bernaungnya. Perasaan Neta sudah seperti kambing yang tahu jika besok mau disembelih untuk kurban, galau, sedih, pasrah dan tak tahu harus berbuat apa.


Harus banget ya perumpamaannya itu kambing? Iya gimana yang terlintas di otak dan terketik di jempol cuma itu kok.