Angel!!

Angel!!
Bab 56. Gagal Karena Dia



Mendengar alunan lagu yang dinyanyikan Dewa untuk kakaknya, malah Lintang yang kegirangan. Dia langsung mendekati mbak Ndisnya untuk tahu jawaban apa yang akan mbaknya kasih ke pak Dewa, guru kaporitnya.


"Kalau kamu minta pembuktian lebih dari ini, besok aku ajak orang tuaku ke rumahmu. Aku enggak akan menunda sesuatu yang aku yakin hal itu terbaik untukku. Aku harap dengan ini kamu ngerti kalau aku beneran sayang kamu."


Dibukanya sebuah kotak kecil yang dari tadi dia simpan di saku celananya. Sebuah cincin cantik, bahkan Lintang langsung berbinar melihat isi di dalam kotak mungil itu.



"Ya Allah.. Pak Dewa ngelamar mbak Ndis? Ini harus dipiralin!" Bermodalkan ponsel ditangannya, Lintang merekam momen penting ini.


"Apa ini mas?" Tanya Ndis yang kebingungan, dan hal itu terlihat nyata di wajahnya.


"Bukan apa ini. Tapi, yang di sini. (menunjuk letak jantungnya) Aku suka kamu dari awal lihat kamu, rasa suka itu udah berubah jadi sayang dan ingin memiliki kamu. Bukan terobsesi karena aku sadar perasaan tidak bisa dipaksakan tapi, di sini aku mau bilang kalau aku serius dengan apapun yang aku ucapkan. Ndis.. Kamu mau jadi istriku? Menjadi satu-satunya wanita yang aku utamakan di hidupku? Ndis.. Jangan pernah berpikir aku bercanda dengan semua ini. Dan sekarang aku ingin dengar jawabanmu Ndis." Dewa memegang jemari Ndis.


Seluruh mata masih berfokus pada mereka berdua, Lintang juga sangat menikmati momen ini. Rama hanya menyaksikan pertunjukan lamar melamar itu di ujung kafe, bersender pada dinding yang ada di sana. Menantikan kejutan apa yang akan terjadi setelah ini. Dia berpikir, Ndis pasti akan menolak sahabatnya. Menurutnya, Ndis adalah tipe cewek dingin yang enggak suka cara-cara romantis ala roman picisan seperti itu tapi, balik lagi dalamnya hati manusia siapa yang tahu?!


Ndis melihat sekeliling, banyak orang yang memperhatikan mereka saat ini. Masih membiarkan tangannya digenggam Dewa, dia menghirup nafas dalam. Matanya melihat ke arah Dewa yang seakan begitu memujanya.


"Heiiiii apa-apaan ini? Ada apa hah? Ada acara apa?" Dengan suara cempreng bak terompet tahun baru, Neta datang bersama dua dayangnya.


Perhatian Neta langsung teralih pada kedua insan yang menjadi pusat tatapan banyaknya mata di sana. Ndis menarik tangannya tapi, Dewa justru mengeratkan genggamannya.


"Net apa sih, suaramu kenceng banget! Malu tahu enggak." Kata Rizna ingin sekali menutupi mukanya dengan besek saat ini juga.


Tanpa memperdulikan Rizna atau siapapun yang melihatnya dengan tatapan 'Ada apa denganmu?', Neta mendekati Ndis dan Dewa.


Neta iri. Tentu! Mana pernah dia diperlakukan seistimewa ini sama cowok yang dia suka. Pernah dikejar-kejar Rama tapi, Neta tak sedikitpun menaruh hati pada lelaki bernama Rama.


"Kalau mau bucin di tempat lain aja! Aku mau pesan makanan! Mana nih pelayannya? Atau kamu aja yang layani aku. Owner kan juga harus membuat semua pelanggan mereka nyaman!!" Neta melengos. Tapi, hatinya masih kesal.


"Owner?" Tanya Dewa ke arah Ndis.


"Mas nanti aja main India Indiaannya, aku masih sibuk. Bentar ya..." Ndis terpaksa menarik tangannya yang sejak tadi digenggam Dewa.


Rama berjalan mendekati Dewa. Senyum tersungging di sana.


"Piye bro? Diterima?" Tanya Rama padahal udah tahu jawabannya.


"Mbahmu diterima! Ini katanya malah aku dikira main India Indiaan." Rama tertawa. Tapi, tawanya terhenti saat melihat sosok Neta duduk bersama dua dayangnya di pojok ruangan.


"Sya.. aku mau tanya, ini kafe punya mbak kamu?" Dewa nyamperin Lintang yang happy banget dengan postingan di ig nya.


Dewa makin kagum sama Ndis. Di balik sesuatu yang dia punya, dia selalu terlihat sederhana. Dia tidak memamerkan apa yang dia punya.


Karena Neta acara lamaran tadi amburadul. Dewa hanya bisa menunggu di depan kafe. Karena mau di dalam sana pun juga percuma. Tempatnya penuh pelanggan.


"Kamu bisa kerja enggak sih?? Lihat ini, baju aku basah kan??!!" Bentak Neta kepada Lintang yang baru saja menaruh minuman yang dia pesan.


"Apa? Apanya yang basah? Makanya kalau minum itu hati-hati! Kamu pantesnya minum di ember bukan di gelas! Minum gitu aja tumpah-tumpah! Mana nyalahin orang lagi!" Lintang yang emang dari awal enggak suka dengan kemunculan Neta di tempatnya jadi ikut terpancing karena perkataan Neta.


"Heh anak kecil, sopan ya kalau ngomong! Aku bisa kasih rate bintang satu buat tempat ini! Biar enggak ada yang ke sini! Biar ditutup, biar bangkrut!" Neta ngegas. Yuni ngelus dada. Rizna sampai menunduk karena malu.


"Kamu yang cari masalah! Jangan mok pikir aku diem aja ya sama semua yang kamu lakuin ke mbakku! Lagian enggak usah capek-capek rate bintang satu, bintang tujuh dari kamu pun enggak guna buatku!" Baru kali ini Lintang yang biasanya lemah lembut jadi sebar-bar ini.


Sorot mata Lintang juga menunjukkan dia tidak takut dengan cewek di depannya.


"Udah Net udah. Kamu ini waktu kecil suka nyemil sajen barongan ya? Tiap hari marah-marah mulu." Yuni berkata pelan tapi, cukup jelas terdengar oleh Neta, Rizna dan Lintang.


Melihat keributan di ujung ruangan, Ndis segera nyamperin adiknya yang ternyata juga ada di sana.


Tidak ingin sesuatu buruk terjadi, Rama yang tahu kayak apa tingkah polah Neta menepuk pundak Dewa.


"Kalau mau terlihat wah di mata targetmu, ini saatnya. Noh lihat, dia lagi dapet costumer sekelas seblak level iblis pakai cabe dua ratus biji! Pedes, nyolot, bikin tensi naik! Bantuin sono!"


Rama ini, ngomong kayak gitu padahal cewek yang dia sebut seblak level iblis itu adalah cewek yang dia suka selama dua tahun belakangan.


"Lin, kamu ke belakang aja." Menyuruh adiknya meninggalkan situasi yang memanas karena ulah Neta.


"Adik kakak sama aja, bisanya cuma bikin emosi! Sana pergi aja sana! Bocah kurang asupan sopan santun!" Teriak Neta pada Lintang.


"Yang enggak tahu sopan santun di sini siapa? Silahkan pergi kalau tujuanmu ke sini hanya bikin keributan. Aku juga enggak sudi layanin pembeli macam kamu!" Lintang masih tak mau kalah beradu debat dengan Neta.


Buat apa menghindar, dia enggak salah apa-apa kok. Pikir Lintang.


Saat kesabaran Neta udah hilang menguap entah kemana, dia mengambil vas bunga kecil yang memang ada di setiap meja sebagai pemanis dekorasi ruangan.


Vas itu diarahkan ke Ndis tapi dihalau oleh Dewa. Tangan atau lebih tepatnya, lengannya dia pakai untuk menepis serangan Neta itu. Beberapa orang di sana langsung merekam adegan ala pilem-pilem yang tersaji di depan mereka. Sebagian lagi berteriak seolah memeriahkan suasana.


Lengan tanpa pelindung itu seketika berdarah oleh terjangan vas dari mbak Neta. Melihat hal itu, Rama segera menarik Neta keluar dari kafe Ndis. Meski sekuat tenaga Neta ingin melepaskan diri dari tarikan paksa tangan Rama tapi, tenaganya tak sekuat itu.