Angel!!

Angel!!
Bab 37. Curhat



"Makan ya Ndis! Ibu bikin bubur buat kamu nduk." Shela menatap anaknya yang terlihat melamun. Gelengan kepala pelan menandakan Ndis menolak tawaran ibunya.


"Kenapa?" Masih dengan sabar bertanya.


"Bu.. Apa Ndis ini egois?" Shela nampak tak paham dengan apa yang anaknya tanyakan.


"Bu, Ndis mau cerita.." Ndis memilih posisi ternyaman untuk duduk. Kaki dan kepalanya terasa nyut-nyutan saat ini.


"Iya, ibu suka kalau kamu mau terbuka dan berbagi cerita sama ibu atau bapak. Itu artinya kamu percaya kepada kami, orang tuamu." Tersenyum ramah. Di usianya yang sudah menginjak kepala empat, Shela tetap terlihat cantik. Hampir tak ada beda dengan Shela beberapa puluh tahun lalu sebelum memiliki dua anak.


"Bu.. Ibu tahu, Fajar sempat mengungkapkan perasaannya kepada Ndis beberapa waktu lalu. Ndis ndak jawab buk, bahkan sampai dia pergi pun Ndis ndak kasih jawaban apapun tentang perasaannya. Itu karena Ndis ndak mau persahabatan yang udah seperti saudara ini hancur karena hal cinta-cintaan. Ndis anggep Jo dan Fajar sama. Mereka adalah saudara Ndis. Apa Ndis salah buk? Apa itu artinya Ndis mainin perasaan Fajar?" Terlihat mata Ndis berkaca-kaca. Shela masih diam dan mendengarkan keluh kesah anak sulungnya.


"Bukan karena mas Dewa atau siapapun juga, yang menjadi alasan Ndis belum memberi jawaban kepada Fajar. Tapi, karena perasaan itu hanya sebatas sayang sebagai sahabat, saudara, dan ndak lebih dari itu. Jujur saja buk, Ndis ndak suka saat Fajar jadian sama Neta dulu.. Ndis tahu Neta hanya terobsesi sama Fajar. Rasa Neta kepada Fajar itu ndak wajar." Ndis terdiam sesaat.


"Ibu tanya, jika kamu di posisi Fajar, suka sama dia, sudah mengungkapkan apa yang kamu rasa ke dia tapi dia hanya diam dan tidak merespon apapun, apa kamu bisa baik-baik saja? Apa kamu masih bisa melanjutkan persahabatan yang dibayang-bayangi rasa cinta dan ingin memiliki?"


"Saat kamu ingin memulai cerita baru dengan orang lain, perasaanmu kepada Fajar membelenggumu. Menunggu tapi tanpa kejelasan, ingin bersama orang lain tapi perasaan bersalah karena berpaling dari Fajar pasti menghantuimu. Nduk.. Itulah yang Fajar rasakan. Ibu kasih saran boleh? Jangan egois yo, tentukan pilihan. Menerima atau melepaskannya, itu akan lebih baik dari pada menggantung perasaan Fajar tanpa kejelasan."


Shela mengusap pundak Ndis yang bergetar. Sudah bisa dipastikan Ndis menangis saat ini.


"Fajar orang baik nduk. Saat dia tahu kalau kamu hanya menganggap dia saudara, ibu tahu, rasa kecewa itu pasti ada di hati Fajar. Tapi, setidaknya dia tahu jika kamu hanya menganggapnya kakak. Dia tidak lagi berharap balasan rasa darimu. Kelian bisa menjalani pertemanan secara lepas dan plong, tanpa ada rasa mengganjal seperti ingin miliki dan dimiliki. Paham nduk?" Sekali lagi, pikiran Ndis terbuka saat itu juga.


Memang ya bercerita atau curhat kepada orang yang tepat itu pasti akan menemukan perasaan lega yang haqiqi. Dan nilai plusnya, kita bisa menemukan jawaban dari permasalahan yang kita hadapi. Right?


Gendis mulai makan bubur buatan ibunya. Hanya beberapa suap yang masuk ke perut, bukan tidak enak tapi, memang selera makannya sedang hilang entah kemana.


Bercerita kepada ibunya ternyata bisa membuat perasaannya membaik. Gendis jadi tahu harus menentukan pilihan apa untuk kedepannya.


"Buk.. Maturnuwun nggeh."


Shela kembali mengusap pundak Gendis, seakan menyalurkan semangat untuk putrinya. "Ibu, bapak, dan semua orang yang ada di sini sayang sama kamu Ndis. Jangan pernah memendam segala sesuatu sendiri."


Dari masa lalu Shela belajar satu hal, sesuatu yang dia pendam sendiri hanya akan menjadi racun dalam hatinya. Ingin berbagi tapi tak ada tempat berbagi, dia tidak ingin membebani ibunya saat itu dengan apapun yang dia rasakan. Karena dia tahu ibunya sudah sangat menderita dengan perlakuan bapaknya yang dianggap tidak manusiawi.


Dan sekarang, saat dia mempunyai anak, dia ingin anaknya bisa terbuka dan berbagi apapun permasalahan dan beban dalam hidup kepada dirinya.