Angel!!

Angel!!
Bab 48. Sakit



Dari banyaknya pesan yang Jo kirimkan untuknya, ada satu pesan yang membuat dirinya tertarik. Yaitu saat Jo memberi tahu jika Ndis beberapa kali menanyakan dirinya. Fajar tentu senang. Hal kecil seperti itu udah bisa bikin mood boosternya naik.


Di kamar kost kecil itu, sekali lagi Fajar mencoret angka yang ada pada kalender. Kebiasaan yang dia lakukan saat menjalani masa koas nya di sini. Dia melakukan hal itu untuk menghibur dirinya sendiri, seakan berucap jika waktu yang dia lalui di sini tinggal sebentar lagi dan dia bisa kembali ke rumahnya. Kembali berkumpul dengan orang-orang yang dia sayangi, dan tentu merindukannya. Dan yang paling spesial dia kembali dengan profesi yang selama ini dia inginkan.


Untuk semua yang mendukungnya, menyemangatinya, dan juga selalu ada di hatinya.. Fajar ingin melakukan hal yang terbaik dengan cepat-cepat menuntaskan masa koas nya di sini.


Saat matanya hampir terpejam, getaran dari ponselnya membuat dia kembali terjaga. Ingin mengabaikan tapi, kemudian dia ambil juga ponsel yang menjadi sumber informasi tentang Ndis itu pada akhirnya. Nama Meica tertera di sana. Fajar mengerutkan kening. Kenapa Meica malem-malem gini menghubunginya. Enggak pernah sekalipun setelah keduanya bertukar nomer wa, keduanya saling menghubungi. Ini merupakan pertama kali Meica menelponnya.


'Assalamualaikum, iya Ca.'


Hening sesaat, Fajar menajamkan indera pendengarannya. Di seberang sana juga sepi. Tapi, wait.. Fajar mendengar samar-samar Meica memanggil namanya. Fajar melihat jam ditampilan layar ponsel, 20.35. Tanpa menunggu dan menebak ada apa, Fajar langsung ke luar kostnya.


Dengan menggunakan sepeda motor kepunyaan pemilik kost yang dia pinjam, Fajar berusaha secepat mungkin menuju tempat Meica. Dia tahu di mana kost Meica, karena dia pernah mengantarkan gadis itu pulang. Hanya sekali tapi, cukup untuknya mengingat lokasi tempat Meica tinggal.


Sekitar lima belas menit waktu yang Fajar butuhkan untuk tiba di tempat Meica. Langsung mengetuk pintu, saat tidak ada jawaban, Fajar bermaksud menanyakan kepada penghuni kost di samping tempat Meica. Tapi, pintu kost samping tempat Meica pun tidak merespon.


Fajar memanggil nomer telepon gadis yang membuatnya cemas saat ini, terdengar bunyi nyaring dari ponsel Meica ada di dalam sana.


"Ca.. Ca.. Kamu di dalam?" Panggil Fajar sedikit meninggikan suara.


"Ca.. kamu kenapa?" Sekali lagi Fajar meneriaki nama Meica. "Ca!!" Serunya lagi.


Fajar bergerak ke rumah pemilik kost tempat Meica tinggal, dengan sedikit memaksa Fajar meminta kunci serep kost itu. Meski dengan berbagai drama ngotot sana ngotot sini, akhirnya pemilik kost memberikan kunci serep kepada Fajar.


Langkahnya cepat, diikuti pemilik kost. Saat pintu akan dimasuki kunci, dengan pegangan yang dia putar terlebih dahulu.. ternyata pintunya tidak dikunci! Alamaaak lelucon macam apa ini??


Tapi matanya lebih kaget saat melihat Meica sudah tergeletak lemas dengan wajah pucat di lantai kost. Fajar cekatan mengangkat tubuh Meica ke atas tempat tidurnya. Hanya sebuah kasur yang cukup untuk tidur satu orang. Di sana Fajar merebahkan tubuh Meica.


"Mas, ini kenapa pacarnya bisa pingsan?" kost bertanya kepada Fajar.


"Iya iya ada, sebentar aku ambil dulu di rumah. Aku buatin teh hangat juga ya, sebentar.." Bu kost berjalan tergopoh-gopoh, dia pun juga tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di area kostnya.


Hal-hal yang tidak diinginkan yang dia maksud adalah dia takut Meica yang ngekost di tempatnya malah meninggal. Dia bergidik ngeri. Bayangan kostnya akan sepi dan berhantu sudah menyelimuti pikirannya. Ahhaaay Bu.. anda over thinking sekali. Kebanyakan nonton pilem Sinchan pasti ini!


Lima menit ibu kost kembali, melihat pemandangan masih sama. Fajar memandang Meica dengan tatapan kasihan dan khawatir. Ibu kost sampai berpikir jika Fajar adalah pacar dari Meica.


"Ini mas, eh tapi biar aku saja yang balurin minyak gosoknya ke mbaknya.. Belum muhrim jangan di ucel-ucel dulu! Dosa!" Fajar diam. Terserah mau mikir apa, dalam hati Fajar dia hanya ingin Meica cepat sadar.


"Bu, apa aku bawa dia ke klinik dekat sini aja ya?" Tanya Fajar dengan posisi badan membelakangi ibu kost itu.


"Iya itu juga boleh. Tapi, tunggu aku rapikan lagi bajunya mbaknya."


Merasakan badannya menghangat karena minyak gosok yang tadi diberikan oleh ibu kost, Meica berangsur-angsur membuka mata. Belum begitu fokus pandangannya tapi, samar dia bisa menangkap sosok Fajar di dalam tempat kostnya.


"Ca.. kamu kenapa? Ayo ke klinik!" Pertanyaan pertama yang dia dengar dari Fajar. Ibu kost juga langsung mendekatinya, mengecek suhu tubuh Meica dengan menempelkan punggung tangan tepat di kening Meica.


"Kamu enggak panas kok, tadi pingsan kenapa mbak?" Giliran ibu kost yang bertanya.


"Ca.. kamu dengar aku kan? Kita ke klinik sekarang yuk!" Fajar mendekati Meica. Ibu kost menggeser tempat dia duduk, memberi ruang untuk Fajar melihat kondisi Meica lebih dekat.


"Ke klinik mau apa? Kamu kan dokter.. Diperiksa kamu aja, apa bedanya." Jawab Meica asal.


"Wualah.. si mas dokter to, lha Napa enggak di cek dari tadi itu pacarnya mas?" Protes ibu kost.


"Enggak usah bercanda! Ayo aku antar kamu berobat, kamu di sini cari ilmu.. buat jadi dokter bukan cari penyakit dan malah jadi pasien!"


Setuju dengan penuturan Fajar. Ibu kost pun ikut memaksa Meica berobat. Ketakutan jika Meica kembali pingsan dan bablas di tempat kostnya menjadi faktor utama dia terus mendukung Fajar agar Meica mau dibawa ke klinik untuk berobat.