
Rama memperhatikan Neta yang masih terisak. Dia membiarkan gadis di sampingnya itu menangis. Tak ingin menyuruh untuk diam atau merangkai ratusan kata agar Neta berhenti menangis. Siapapun pasti akan terluka dan sedih jika diposisi Neta.
Tisu dia ambil dan disodorkan, Neta menerimanya. Setelah menghabiskan separuh isi tisu dua ratus sheet, Neta baru mau melihat ke arah manusia yang sejak tadi menemaninya.
"Dalam hati, kamu pasti menertawakan ku. Ya kan?" Kalimat pertama Neta dengan suara parau.
"Jadi orang mok ya jangan su'udzon. Mana bisa aku tertawa saat kamu sesedih ini. Meski aku enggak ikut nangis, percayalah.. aku juga sedih lihat kamu kayak gini." Rama mengusap punggung Neta.
"Banyak yang enggak suka sama aku! Kenapa kamu masih mau deketin aku meski berkali-kali aku nolak kamu." Ingin rasanya Neta tenggelam ke dasar laut pulau pulu-pulu saking sedihnya.
"Karena aku sayang kamu." Kali ini Rama tersenyum tulus.
"Net, semua orang pasti ingin berguna untuk orang yang disayang. Aku juga seperti itu. Saat kamu udah capek ngejar Fajar, meski aku tahu kamu mau sama aku karena gabut enggak bisa dapetin Fajar.. Aku enggak apa-apa. Enggak apa-apa dalam arti enggak akan kesel sama kamu, enggak akan nuntut apapun ke kamu misalnya kamu harus sayang balik ke aku."
"Ram.. Enggak usah terlalu baik sama aku. Aku bukan siapa-siapa sekarang, aku bahkan enggak tahu aku ini siapa?" Menunduk menyembunyikan mukanya. Tangis itu kembali terdengar.
"Tapi aku tahu siapa kamu Net, kamu itu adalah tujuan hidupku! Basi banget ya? Tapi, emang itu hal terjujur yang ingin aku sampaikan. Kamu tahu, deket sama kamu kayak gini aja aku udah seneng. Bukan seneng karena kamu lagi sedih dan hanya aku yang nemenin kamu, tapi seneng karena akhirnya kamu lihat aku seperti cara kamu melihat Fajar dulu."
"Aku lagi enggak minat bahas perasaan Ram."
Rama menarik kepala Neta lalu dia sandarkan pada dadanya. Keduanya hanya diam dengan posisi seperti itu.
Capek banget. Itu yang dirasakan Neta. Kepergian papanya dan kenyataan kalau dia bukan anak kandung orang tuanya menjadi hantaman pada mental Neta. Meski mencoba untuk tidak menangis tapi nyatanya air mata itu terus mengalir mengingat semua ucapan mamanya.
"Aku enggak tahu mau tinggal di mana.." Ucap Neta lemah.
"Di rumahku aja."
"Jadi babu mu?"
"Jadi istriku lebih tepatnya."
Neta mendongak. Tangannya bergerak perlahan menyusuri pipi Rama, Rama diam. Tak disangka tangan Neta terus bergerak ke atas menuju kening Rama. Sebuah sentilan lumayan keras yang pasti bikin nyeri Neta layangkan ke kening Rama.
"Aduh.. Aaw sakit Net! Kamu kok hobi banget main kekerasan to." Rama mengusap keningnya yang merah karena perbuatan iseng jari Neta.
"Makanya jangan sembarangan kalau ngomong." Tak ada senyum. Hanya menoleh ke arah lain. Neta menghindari sorot mata Rama yang makin lama makin bikin jantungnya senam ojajing.
"Aku serius Net. Kita nikah yuk!"
Ini orang ngajak nikah kek ngajak naik odong-odong! Gampang banget.
"Apa sentilan tadi kurang keras? Mau aku pukul pake batu di sampingmu itu? Ram.. Aku lagi enggak pengen bercanda. Kamu diam aja lah daripada bikin aku makin pusing." Protes Neta marah.
"Aku enggak bercanda Neta." Rama menarik Neta makin mendekat sampai tak berjarak.
"Mau ngapain? Aku capek Ram.." Neta mendorong Rama.
Rama mengajak Neta makan. Meski awalnya menolak tapi akhirnya Neta luluh juga dengan rengekan Rama yang terus-terusan meminta Neta menemaninya mengisi perut. Sungguh Neta tak berselera memasukkan apapun ke dalam mulutnya meski hanya seteguk air putih.
Tapi, Rama selalu bisa membujuknya dengan cara-cara konyol yang justru malah membuat dia sedikit terhibur.
"Coba makan ini dulu, sesuap aja. Sisanya buat aku. Kamu kan lagi sedih jangan makan banyak-banyak." Ini model bujuk orang sedih agar mau makan? Yakin ada yang mau praktekin juga cara Rama ini?
"Kenapa mesti aku duluan yang nyobain makanannya? Kamu sengaja ya, kalau nanti di sana ada racunnya biar aku dulu yang mati." Lagi sedih pun masih suka su'udzon.
"Anggap aja iya. Debat sama kamu mana pernah bisa menang."
Mendengar Rama males debat, Neta jadi diam lagi. Beneran perasaannya sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Net, Jangan mikir kamu sendirian.. Ada aku!"
Rama mengirim pesan kepada Dewa. Sesekali Rama melihat ke arah Neta yang hanya minum air putih tanpa menyentuh makanan yang ada di depannya sedikitpun. Huuft.. Rama tahu, memaksa agar Neta mau makan pun percuma. Rama menggeleng pelan.
"Kenapa?" Tanya Neta setelah mengikat rambutnya tinggi ke atas. Memperlihatkan leher putihnya yang jenjang.
"Apanya yang kenapa?" Rama bingung.
"Kamu dari tadi diem. Geleng-geleng mulu, enggak bisa bayar semua makanan ini hmm?" Masih aja suka merendahkan orang.. Oalah Net Net.
Rama tersenyum. "Iya. Gimana dong. Aku lupa bawa dompet. Kamu mau kan nemenin aku nyuci piring buat ganti semua makanan yang kita makan?"
"Mimpi aja sana. Kita dari mana? Aku aja cuma minum doang. Kamu sih celamitan! Terus gimana ini?"
Rama tertawa. Mengusap rambut Neta yang langsung diberi pandangan menusuk kalbu oleh Neta, bisa-bisanya lelaki itu membohonginya!
"Pulang sana. Udah malem. Ngapain masih ngikutin aku?" Usir Neta.
"Ayo ikut aku." Rama menepuk jok belakang motornya.
"Enggak. Mukamu mesum!" Kali ini Rama menautkan alisnya.
"Mesum? Kayak kamu pernah aku mesumin aja. Ayo naik. Apa perlu aku ambil tali di jok buat maksa kamu ikut aku? Aku ikat kamu di situ." Menunjuk jok yang kosong. Bukan takut dengan ancaman Rama, Neta hanya males debat.
Bersamaan dengan kepulan asap motor yang makin menghilang, Rama dan Neta pun pergi meninggalkan tempat yang telah berjasa mengisi perut mereka.
🍒🍇🍎🍒🍇🍎🍒🍇🍎🍒🍇🍎🍒🍇🍎
Biar adil dan merata, ini tak kasih visual Rama.
Nah.. udah enggak penasaran lagi kan ya?