Angel!!

Angel!!
Bab 72. Bantu Aku Melupakannya



Terkadang apa yang kita pikir benar belum tentu benar juga di mata orang lain. Dan sebaliknya, setiap orang mempunyai cara pikir dan cara menyelesaikan masalah yang berbeda-beda. Intinya ngene, baik untukmu belum tentu baik juga untukku.


Seperti sekarang ini, Fajar berpikir apa yang dia katakan untuk membungkam Sofi tadi siang dengan mengatakan datang ke desa Meica dengan tujuan ingin meresmikan hubungan mereka malah dianggap menambah masalah baru untuk Meica.


Dengan cepat Fajar berpikir, tindakan apa yang mesti dia lakukan untuk mengurai benang kusut agar enggak makin muntel ini!?


"Ca.. Aku minta maaf." Awal pembicaraan mereka, Fajar mengakui dia salah.


"Kamu minta maaf untuk apa Jar?" Meica bertanya sambil menebak kemana arah obrolan mereka.




"Kamu tahu kenapa aku minta maaf Ca. Aku udah mikirin ini baik-baik.. Dengerin aku.. Aku mau jujur sama kamu. Aku memang belum bisa menggeser posisi Ndis dari hatiku. Belum satu inci pun dia berpindah tempat, masih dia yang ada di sana.. Tapi, aku juga enggak bisa bikin kamu kena masalah karena ucapan ku tadi di depan banyak orang. Ca.. Bantu aku.. Bantu aku menggeser dia yang masih ada di sana dan menggantinya dengan kamu.."


Meica seperti tidak percaya dengan apa yang Fajar katakan barusan. Meica sampai mengerutkan keningnya. Sedangkan Fajar, dia terlihat sangat serius dengan apa yang dia ucapkan.


"Jar.. Aku enggak ingin menjalin hubungan dengan seseorang yang belum bisa lepas dari masa lalunya. Lalu apa bedanya kamu sama Rizal kalau seperti itu?" Itulah yang ada di pikiran Meica. Dia ucapkan tanpa filter sedikitpun, dia hanya tidak ingin bernasib sama seperti Sofi.


"Bedanya? Kamu nyamain aku sama mantanmu Ca.. Kamu kok tega? Ca.. mantanmu itu kayak gitu karena dia memang sengaja enggak mau lupain kamu di hidupnya, enggak ada niatan gantiin posisimu dengan yang lain. Meski yang dia nikahi anak presiden misalnya, kalau hatinya masih sayang sama kamu tetep aja di matanya akan selalu kamu yang menjadi sumber kebahagiaannya."


"Anak presiden mana pula yang mau nikah sama dia? Kamu ini kalau bikin perumpamaan kok ya nyeleneh." Meica berusaha menahan senyumnya.


"Jadi gimana Ca?" Fajar melihat Meica yang sekarang memainkan kukunya.


"Enggak tahu lah Jar. Buntu aku, enggak bisa mikir."


"Siapa yang nyuruh kamu mikir? Aku kan cuma minta kamu bantu aku hapus jejaknya dan menggantinya dengan coretan baru bareng kamu. Sesulit itu ya sampai kamu aja enggak mau bantu aku?" Menunjukkan muka melasnya.


"Kamu nembak aku?" Meica bertanya ingin memastikan maksud perkataan Fajar.


"Kamu terpaksa lakuin semua ini Jar?" Tanya Meica.


"Aku memaksa diriku sendiri lebih tepatnya."


Hari ini banyak hal yang terjadi, dan disetiap kejadian pasti ada berkah dan pelajaran yang bisa diambil. Seperti sekarang, dari niatnya iseng ikut Meica pulang kampung agar bisa melupakan sejenak bayangan Ndis yang selalu bermain di mimpi dan netranya, Fajar malah mendapatkan status baru dengan Meica.


Fajar jadian dengan Meica? Iya, Fajar tidak mau terus melihat Ndis sebagai gadis yang harus dia perjuangkan. Karena dia tahu hubungan antara dia dan Ndis mungkin cukup sebagai sahabat aja. Ada Meica yang bersedia mengisi hati dan harinya untuk kedepannya. Mereka sama-sama belajar melupakan masa lalu, berusaha menciptakan kisah baru dengan cara mereka.


Meski banyak netijen yang enggak terima nantinya, mereka berusaha cuek dan bodo amat! Netijen hanya menilai mereka dari luar, lha iya lah kalau daleman mereka juga dishare, dikasih tunjuk ke khalayak luas nanti bakal dilaporin sebagai tindakan pornografi! Ngerti enggak? Enggak ya? Sama! Hahaha..


"Ngomongna teh Ica, aa isukan kuring balik ka kota nya? Naha gancang pisan a?" (Kata teh Ica, aa besok udah pulang ke kota ya? Kenapa cepat banget a?)


Fajar melihat ke arah Meica. Dia beneran enggak ngerti Kiki bilang apa. Yang dia tahu hanya kata 'aa' panggilan yang ditujukan Kiki untuk dirinya.


"Kiki nanya kenapa kamu cepet banget pulang ke kota?" Meica tahu pacar barunya itu kesulitan mengartikan bahasa daerahnya.


"Kiki ngomong sama a Fajar pakai bahasa Indonesia aja, dia enggak ngerti kamu ngomong apa Ki." Ucap Meica memberi pengertian kepada adiknya yang dibalas dengan anggukan kepala patuh dari gadis kecil itu.


"Emang Kiki suka kalau aku di sini lama-lama?" Tanya Fajar kepada Kiki.


"Suka atuh a.. Teteh jadi ada yang nemenin. Rumah jadi rame, ayah ada temen ngobrol. Kiki bisa main nyampe sore kalau ada aa. Soalnya teteh kan sibuk sama aa, jadi Kiki bisa bebas mainnya hahaha." Hilih dasar bocah.


"Tapi, sayangnya kakakmu yang ngusir aku buat buru-buru pergi dari sini tuh Ki.. gimana dong?" Minta diracun ini orang, ngadi-adi sekali.


"Kenapa? Bukannya aa sama teteh pacaran? kok teteh ngusir aa?" Jiwa polos Kiki bertanya, sepolos othor budiman ini.


"Jawab Ca. Kenapa kamu tega banget ngusir pacarmu ini." Fajar tersenyum geli melihat ekspresi muka Meica yang memerah. Entah nahan marah, malu atau nahan boker!