
Lintang pulang. Dia dikejutkan dengan pemandangan di depan rumahnya. Jo yang juga melihat hal itu langsung menarik Lintang ke belakang, memposisikan diri sebagai tameng agar Lintang tidak melihat pemandangan plus dua satu secara live di depan mereka itu.
"Mas Jo ih.. Bau tahu enggak!" Jo lupa jika dirinya belum mandi. Demi apa, saat ini Jo mendekap Lintang di bawah keteknya. Bisa dibayangin gimana Lintang keracunan setelah ini?
"Hahaha maaf Lin, sengaja." Jo melepas dekapannya meski sebenarnya dia enggan melakukannya, Dia takut Lintang pingsan karena terkontaminasi bau-bau tak senonoh yang muncul dari lipatan ketiaknya.
Mendengar keributan yang terjadi, Ndis dan Dewa mengakhiri pergulatan bibir yang mereka lakukan. Antara malu aja dan malu banget Ndis rasakan saat ini. Dewa berhasil membuat Ndis terhipnotis dengan kehadiran dan sentuhan lelaki itu pada dirinya.
"Lanjutin kalau udah halal mas bro!" Bagas mengunyah santai singkong yang tersisa beberapa potong di piring. Dewa hanya tersenyum menanggapi teguran Bagas.
Jo ngakak melihat Ndis salah tingkah.
"Lin, aku pulang dulu ya. Nanti ke sini lagi boleh?" Pamit Jo pada pacar barunya.
"Ke sini lagi? Mau ngapain? Udah malem mas." Lintang, statusnya berubah jadi pacar Jo tapi sikapnya pada Jo tetep sama aja. Toh dari dulu juga mereka sering kumpul bareng. Tak ada beda kecuali status dan sedikit upgrade, rasa sayang pada lelaki yang saat ini menyerahkan boneka yang dibelikan Jo untuknya tadi.
"Kalau enggak boleh ke sini langsung nemuin kamu, ya tak nyamperin kamu lewat mimpi aja. Boleh?" Masih ngeyel ingin ketemu juga, Jo naik ke atas motornya.
"Enggak boleh. Mas Jo di dunia nyata aja males mandi apalagi di dunia mimpi. Pasti lebih parah! Aku enggak mau Mas Jo datang ke mimpiku dengan wujud genderuwo!" Jo dan beberapa orang di sana tertawa. Jo enggak marah atau cemberut sedikitpun dia justru sangat senang saat ini. Jadi, terserah lah Lintang mau ngomong apa. Asal kau bahagia aja lah Lin.
Jo pulang setelah berpamitan pada orang tua Lintang, pede nemuin calon mertua meski belum mandi dan bau terasi. Toh yang salaman tangannya, bukan keteknya!
Dewa masih di sana, sedang berbincang dengan pak Parto dan bu Shela. Ndis menemani calon suaminya itu dengan duduk berhadapan enggak bersebelahan meski tadi sudah mepetin bibir mereka satu sama lain. Ndis tahu bagaimana harus menjaga sikap di depan orang tuanya. Bucin boleh asal tetap sisakan sedikit kewarasan agar enggak kebangetan edannya! Mereka membicarakan acara pernikahan Dewa dan Gendis yang akan dimajukan harinya. Semua menyetujui, karena berlama-lama pacaran kalau sudah saling cinta malah mupuk makin banyak dosa.
Dan Bagas, cowok rese satu ini sibuk godain Lintang yang hanya bilang 'apa sih Gas.' setiap Bagas menanyakan rasanya ciuman pertama dengan Jo.
"Udah penampilan compang-camping, enggak mandi, enggak wangi, minta ci_pok pun kamu beri! Dia nembak kamu dengan penampilan kek gitu pun mok terima. Sungguh besar hatimu nak, menerima jelmaan biawak macam dia hahaha!" Hina aja terus hinaa! Mumpung orangnya enggak denger!
"Berisik tahu enggak Gas! Pulang sana!" Lintang ngambek.
"Cah cilik dijak pacaran yo ngene ki, diapusi boneka satus sewu ae luluh." (Anak kecil diajak pacaran ya kek gini, dibohongi boneka seratus ribu aja luluh.)
"Iso meneng oda kowe iki? Selot suwe tak racun kowe lho!!" (Bisa diem enggak kamu ini? Lama-lama tak racun kamu lho!!)
Bukannya diem, Bagas malah makin getol godain Lintang. Saking keselnya sama mulut lemes Bagas, Lintang sampai melempar boneka yang dia dekap sedari tadi ke arah Bagas dan benda itu meluncur mulus ke kepala Bagas.
Kegembiraan malam itu berakhir dengan senyuman di wajah masing-masing. Semua terasa sempurna dan bahagia!
Sampai tiba saatnya Fajar mendatangi kediaman Meica untuk mengikat Meica dengan status baru. Tak lagi menjadi pacar tapi, beralih ke tunangan. Fajar dan keluarganya di sambut ramah oleh ayah Meica juga beberapa tetangga dan kerabat dekat Meica.
"Udah. Udah lama." Jawab Jo asal. Dia sibuk berbalas pesan dengan Lintang.
"Bukannya seminggu lalu kamu masih galau karena dia, gimana ceritanya kamu bilang kelian udah lama jadian? Ngawur aja nih bocah."
"Tanpa jadian, pacaran, pedekate atau apapun itu.. Aku sama Lintang udah pasti bersama brother! Karena jodoh di takdir Lintang telah tertulis namaku, dan sebaliknya. Kamu dan Ndis masih harus repot pacaran, lamaran dan segala macam apa ini namanya.. Kalau aku enggak usah! Langsung gasspol ke KUA aja. Beres!" Celoteh Jo tak begitu di gubris oleh Fajar. Matanya terpaku pada sosok yang beberapa tahun belakangan ini mencuri hatinya.
"Jo aku ke sana dulu ya. Kamu terserah mau ngapain aja. Bebas! Makan sekenyang mu juga silahkan, asal jangan meja kursi aja yang mok jadiin cemilan." Fajar melangkah pergi nyamperin Meica.
"Kamu pikir aku rayap apa? Dasar tomcat!" Percuma juga Jo menjawab perkataan Fajar karena yang diajak ngobrol udah melesat jauh menemui pujaan hatinya.
"Kamu tadi kemana aku cari kok enggak ada." Tanya Fajar yang sudah ada di dekat Meica.
"Ngobrol sama orang tuamu. Kamu tadi asyik mojok bertiga sama Jo dan Bagas." Meica nampak malu-malu. Beda sama othor yang sering malu-maluin.
"Aku pernah bilang enggak kalau kamu cantik banget?"
"Udah. Aku emang cantik dari sononya." Meica tertawa saat Fajar mencubit pipinya pelan.
"Jar.. Kenapa Gendis enggak ikut ke sini?" Tanya Meica yang enggak menemukan sosok gadis yang dulu selalu spesial di mata Fajar.
"Dia mau nikah. Dipercepat, enggak jadi tiga bulan lagi Ca. Mungkin dua minggu atau akhir bulan ini." Terang Fajar yang diberi anggukan tanda mengerti oleh Meica.
"Apa kita juga harus mempercepat tanggal pernikahan kita Ca?" Tanya Fajar menggoda Meica dengan lirikan mata. Meica tak menjawab, dia hanya tertawa.
Dibelahan tempat yang lain, Neta melihat postingan Jo yang menunjukkan foto acara pertunangan Fajar dan Meica. Kebahagiaan mereka terlihat jelas.
'Jadi dia yang kamu pilih buat jadi teman hidupmu Jar..' Batin Neta meletakkan kembali ponselnya di meja.
Neta tersenyum getir, selama ini dia mengejar-ngejar Fajar seperti orang gila. Mungkin orang lain malah menganggap dia beneran udah gila karena obsesinya pada cowok yang pernah berpacaran dengannya beberapa jam itu.
Tapi, lihat sekarang.. Jangankan melihat ke arahnya balik, melirik saja enggak. Senyum itu berubah jadi tetesan air mata. Waktunya selama ini terbuang sia-sia untuk hal yang tak menghargainya. Kembali dia menunduk rasanya sakit banget, bukan patah hati yang dia rasakan.. Tapi, kekecewaan pada dirinya sendiri.
'Apa aku sebodoh itu? Membiarkan diriku sendiri jadi tontonan, jadi bahan ejekan, bahkan demi dia yang enggak melihatku ada.. Aku abaikan orang-orang terdekatku..'
'Pa.. Aku kangen papa..'