
Fajar tak ingin berlama-lama berdiam diri di kota Meica. Meica memberi kesempatan untuk Fajar memperbaiki hubungan mereka yang baru beberapa jam berakhir. Tak bisa dipungkiri Meica memang masih cinta sama Fajar. Fajar tak pernah menjanjikan sesuatu yang muluk-muluk hanya saja yang tidak Meica suka dari Fajar adalah selalu mementingkan Gendis. Setiap ada waktu luang untuk berkomunikasi, saat itu juga Meica harus dibuat mendidih karena menahan perasaan marah, kesal, jengkel dan ingin cekik Fajar semisal mereka dekat dan dia juga harus pura-pura tidak terjadi apa-apa pada hatinya saat tahu Fajar sedang bersama Gendis. Selalu seperti itu. Saat ditanya pasti dijawab 'Dewa nyuruh aku jagain Ndis Ca, kamu ngerti kan?'
Emang Ndis bocah yang musti dijaga atau kudu banget ya Fajar yang nemenin saat Ndis pergi? Pertanyaan itu selalu muncul dalam benak Meica. Selalu ngedumel dalam hati tapi tak langsung Meica sampaikan. Pada akhirnya boom rakitan di hati Meica itu meledak saat Meica merasa udah enggak dihargai sebagai ceweknya.
Dan itulah permasalahan mereka. Setelah kejadian ini, Fajar baru menyadari betapa pentingnya Meica buat dia. Meica yang menyemangati dia di masa-masa sulit sebelum menjadi dokter seperti sekarang ini, sama-sama berjuang dan menguatkan kalau mereka pasti bisa mewujudkan apa yang mereka impikan bersama. Dirinya terlalu fokus pada Ndis tanpa melihat jika di sampingnya ada sosok yang selalu ada untuknya.
Kenapa Fajar enggak sama Neta aja sih? Ada yang nanya begtu?
Karena Neta butuh makhluk yang bisa jinakin dia agar kebar-baran dalam hidupnya sedikit atau bahkan menghilang sama sekali. Sedangkan Fajar bukan tipe matador yang bisa jinakin banteng seliar Neta.
Sampai di kotanya dengan kondisi jiwa raga yang sehat dan full cintah karena abis di charge oleh Meica saat masih di kota Meica, Fajar menjadi sangat bersemangat memulai hari. Sebuah ciuman mempererat bibir dan hati mereka lakukan saat Fajar pamit pulang ke kota asalnya. Enggak perlu dijabarkan ciumannya kek apa, nanti kelian pada ngiler dan kepengin lagi. Kesian kan kalau enggak ada penyaluran.
"Kalau kamu sudah yakin, ya tidak usah ngulur waktu lagi. Sesuatu yang baik jangan ditunda-tunda, ya kan pa?" Kata Mamanya Fajar saat anak lelakinya itu bercerita tentang kedekatannya dengan dokter beda kota bernama Meica.
"Iya." Papanya Fajar lebih pendiem.
Sebenarnya beliau lebih suka jika Gendis yang menjadi menantunya. Gadis yang beliau kenal sejak kecil dan beliau juga tahu seluk beluk serta latar belakang Gendis. Tapi, mau gimana lagi. Fajar sudah ambil keputusan untuk menjadikan Meica tambatan hatinya.
"Papa kenapa?" Tanya mama Fajar saat Fajar sudah berangkat bekerja.
"Enggak apa-apa. Ada apa emangnya?" Bahkan untuk berbagi cerita pada istrinya pun malas papanya Fajar lakukan. Beliau malah sok sibuk ngaduk kopi yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.
"Mama itu tahu apa yang papa pikirkan sekarang, Pa.. Kita ini udah tua, mau maksain kehendak pada anak-anak pun percuma pa.. yang ada mereka nanti akan tertekan hidupnya. Kita nikah kan tanpa paksaan, papa suka sama mama dan sebaliknya. Biarin aja Fajar atau Damar nanti memilih pilihannya sendiri. Kita tinggal merestui. Ya pa!?"
Papa Fajar masih diam. "Paa! Iya kaaaan???!" Bentakan mama membuat papa tersedak saat ingin menelan kopi yang baru beliau seruput.
"Iya iya.. Iyaaa ma iyaaa." Pasrah. Akhirnya meski didahului drama keselek kopi, dan mendapat bentakan dari sang istri, papanya Fajar buka suara juga.
✨✨✨✨✨✨✨✨
"Bisa jelasin ngapain kamu sama Rizna hahahihi di sini?" Mata Neta merah menahan amarah. Rizna malah dengan tampang polosnya melambaikan tangan sambil tersenyum ramah pada Neta.
"Apa? Bebas dong aku mau jalan sama siapa aja toh kamu aja enggak pernah ngakuin aku jadi cowokmu." Rama bersikap acuh.
Neta menggebrak meja. Amarahnya sudah tak bisa dia kendalikan. Bisa-bisanya cowok yang selama ini ngejar-ngejar dia dan dia acuhkan keberadaannya malah secuek ini sama dia. Lebih edan lagi si cowok yang menurutnya sableng itu malah jalan sama temennya. Aiih teman.. Neta aja enggak pernah anggap Rizna, Yuni ataupun Eliz sebagai temannya. Dia peduli dengan dirinya sendiri. Dia enggak pernah mikir suatu saat dia juga pasti butuh seorang teman. Karena baginya, cukup dia aja. Neta bisa mengatasi apapun sendiri.
Mungkin Neta ini lebih cocok hidup terpencil di pedalaman hutan Amazon bersama flora dan fauna di sana. Lha gimana lagi, dia enggak suka hidup bersosialisasi kok.
"Kelian selingkuh?" Tanya Neta mencibir.
"Enggak." Jawab Rizna cepat, menggeleng kepala dan menggerakkan tangan meyakinkan Neta jika dia dan Rama bukan pasangan selingkuh.
"Bisa jadi." Jawaban Rama bikin Rizna dan Neta melongo.
"Na_jis!! Matamu buta?? Bisa enggak nyari selingkuhan yang lebih baik dari aku? Tapi aku yakin itu enggak mungkin karena enggak ada orang yang lebih baik dan perfect dari aku!! Seenggaknya aku tahu seleramu serendah itu!!" Mulut Neta seperti bon_cabe level iblis.
"Seleraku rendah? Kamu menilai dirimu sendiri?" Rama tersenyum puas bisa membalikkan ucapan Neta.
Ingin rasanya Neta menampar pipi mulus Rama tapi, dering telepon membuat Neta mengurungkan niatnya.
"Aku pastikan kelian akan menyesal dengan apa yang kelian lakukan sekarang ke aku!" Neta pergi sambil menerima telepon tersebut.
"Mas Rama kenapa ngomong gitu? Kan kita ketemu buat ngasih kejutan ulang tahun buat Neta.. Duuh pasti Neta marah banget sama aku." Rizna beneran ketakutan.
"Maaf Riz tapi, sebelumnya makasih udah bantu aku ya."
Rama juga akhirnya meninggalkan tempat itu. Sedangkan Rizna, gadis yang dijadikan tumbal oleh Rama ini hanya bisa terdiam saat tahu nomernya telah diblokir Neta.