
Neta marah kepada Rizna dan Yuni. Dia tidak bisa bertemu Fajar sebelum pergi karena terlalu sibuk make up memperbaiki penampilannya. Tapi, Neta tetap menyalahkan kedua temannya itu.
"Dia naik pesawat Net, kamu mau uber kemana?" Yuni tetap tenang meski sahabatnya udah cosplay jadi warok.
"Mau dikejar sambil ngesot kali." Rizna berbisik pelan, takut kena sembur Neta lagi.
"Bisa diem enggak?? Semua ini gara-gara kelian tahu enggak! Kelian ngasih info enggak bener! Minggir!!" Bentak Neta sewot.
Beberapa puluh menit yang lalu, setelah kepergian Fajar yang diantar Jo, Ndis dan keluarganya ke bandara, Neta baru sampai sana. Rumah Fajar sepi, tentu saja.. Orang-orang sudah pergi meninggalkan lokasi itu.
Yuni yang disuruh cari info tentang keberangkatan Fajar lebih mementingkan kesejahteraan perutnya, dia makan pecel dulu sebelum kirim pesan kepada Rizna tadi pagi. Setelah kenyang, Yuni baru ingat harus memberi info yang menurutnya enggak penting-penting amat kepada Rizna.
"Udah bagus dikasih tahu!" Yuni menjawab santai sambil menopang dagunya. Rizna enggak berani berkomentar. Melihat Neta yang seperti kerasukan aja udah bikin dia merinding.
Neta tadi sempat teriak-teriak memanggil nama Fajar dengan gaya lebaynya. Saat tahu rumah Fajar sudah sepi, ditambah dia mendapat info dari tetangga Fajar jika rumah Fajar sepi karena seluruh penghuninya pergi, Neta jadi ngamuk di sana. Menggedor-gedor jendela kaca dan mengetuk pintu tak beraturan.
Rizna dan Yuni yang malu karena ulah Neta memilih menarik Neta pergi dari sana.
"Harusnya aku tadi langsung ke bandara dari pada di sini bareng kelian!" Neta melempar ponselnya ke meja kafe tempat nongkrong mereka sekarang.
Menjadi teman Neta memang harus menekan ego agar tidak terjadi kegilaan berkepanjangan. Entah apa yang membuat Rizna dan Yuni bertahan jadi temen Neta, sifat Neta yang nyaris melewati semua batasan yang ada sebenarnya membuat mereka malu semalu-malunya.
Rizna membuka tasnya. Mengeluarkan ponsel yang baru saja berbunyi, "Yun, Net.. Aku pulang dulu ya. Ini ibuku wa minta aku jemput adikku. Udah pulang sekolah katanya."
Tanpa menunggu persetujuan kedua temannya, Rizna langsung tancap gas.
Kampret emang Rizna, ninggalin aku sama jelmaan wewe kek gini. Huuuft sabar Yun sabar.
Yuni cuma bisa bergumam sendiri melihat kepergian Rizna .
"Kamu mau aku pergi?" Tanya Yuni bersemangat.
"Udah pergi sana pergi!!! Muak juga lihat kamu, makin kesel aku!!" Wah kesempatan kabur Yun. Ayo gasskeun!
Entah emang mau pergi atau emang enggak peka, Yuni benar-benar meninggalkan Neta di kafe itu sendirian. Neta mengacak rambutnya, setelah itu berteriak kayak orang kerasukan.
Sampai sesewot itu dia, hanya karena enggak bisa bertemu Fajar sebelum keberangkatannya tadi. Ya pasti, karena nomer wa Neta aja udah diblokir. Enggak tahu lagi Neta mau hubungi Fajar lewat mana. Boleh kasih saran Net? Hubungi aja lewat mimpi, karena yang nulis ini pernah baca typingan seseorang.. Semua itu berawal dari mimpi. Mimpi yang membuat kita semangat dan terpacu untuk mewujudkannya. Wes skip ae hahaha.
"Boleh duduk di sini?" Ucapan dari seseorang membuat Neta buru-buru menengok ke arah suara itu. Huuuft.. hanya kekecewaan plus-plus yang dia dapat, karena dia bertemu dengan Rama di sini.
"Duduk tinggal duduk ngapain tanya-tanya??" Menaikkan nada suaranya. Menunjukan ketidak tertarikan yang nyata.
"Kamu tahu kenapa orang Jepang rata-rata berumur panjang? Orang Korea punya wajah yang kencang meski usianya di atas lima puluh tahunan? Dan orang Monako yang punya harapan hidup paling tinggi di dunia? Kamu tahu alasannya apa?" Rama mencoba bersikap ramah meski tidak dibalas dengan keramahtamahan dari lawan bicaranya.
"Apa sih? Itu takdir lah!! Aku lagi males ngomong sama siapapun tahu enggak?? enggak usah sok pintar, enggak usah sok bijak di depanku!" Seperti tabung elpiji melon yang meledak, suara Neta cukup nyaring hingga bisa didengar oleh siapa saja di kafe itu.
"Karena orang-orang di sana bisa mengontrol emosi mereka. Cobalah untuk sehari saja tidak ngamuk dan marah-marah. Urat di wajahmu sampai timbul seperti itu. Kamu enggak takut kena stroke di usia muda hmm?" Rama malah menambah dosis emosi Neta hari ini semakin memuncak. Perkataan Rama membuat Neta geram.
"Kamu doain aku kena stroke hah?? Enggak waras kamu ya?? Udah aku tolak berkali-kali, lalu doain aku yang jelek-jelek!! Manusia macam apa kamu ini?? Pergi sana! Minggat yang jauh, jangan sekali-kali nongol di hadapanku!!" Neta menggebrak meja.
Rama tak bermaksud demikian, dia hanya ingin ngobrol dengan Neta layaknya obrolan manusia pada umumnya. Tapi, sepertinya niat baik Rama itu tidak disambut dengan baik oleh Neta. Neta malah makin mencak-mencak karena kehadiran Rama.
"Selain pemarah, kamu juga punya hobi su'udzon sama orang lain. Hmm ya udah deh, aku pindah tempat duduk aja."
Selesai berkata demikian, Rama beranjak dari duduknya dan pindah ke tempat lain. Neta tidak punya niatan sedikitpun untuk melarang Rama pindah tempat duduk.
"Semua orang hari ini nyebelin!! Udah enggak ada yang waras kecuali aku!!" Ucap Neta, mengambil gelas berisi es jeruk dan meneguknya cepat.