
"Ya Allah Dew... Kamu kenapa bisa kayak gini?" Bulek syok. Tentu saja, pagi tadi beliau masih mengobrol tentang kelanjutan hubungan Ndis dan keponakannya itu. Dan sekarang dia malah melihat tubuh lemah Dewa terbaring di ruang ICU (Intensive Care Unit).
"Kami sudah melakukan tindakan untuk menolong pasien. Kita berdoa saja semoga ada mukjizat untuk pasien." Terang dokter Ardiaz menjelaskan.
"Pakdhe.. gimana kondisi Dewa?"
Ardiaz mengenal suara itu. Jo berdiri diantara keluarga Dewa. Dan setelah memperhatikan lagi, di sana ada Parto dan Shela yang sangat dia kenal adalah teman dari adik iparnya.
"Kritis." Hanya itu yang diucapkan Ardiaz kepada Jo. Ardiaz meminta pihak keluarga untuk menuju ruangannya, menjelaskan resiko pasca operasi dan kemungkinan terburuk yang akan mereka hadapi jika kondisi Dewa terus seperti itu.
Ndis menatap nanar pada ranjang rumah sakit tempat Dewa berbaring. 'Mas.. kamu yang kuat ya. Kamu bilang mau jaga aku, enggak mau bikin aku nangis karena kamu, kamu enggak boleh pergi mas.. Mas maaf udah ngajak kamu pergi.. Kalau aku enggak ngotot ngajak kamu pergi, pasti ini semua enggak akan terjadi.. Mas.. kamu bisa denger aku?'
Parto melihat Ndis, dia tahu saat ini anaknya pasti sangat terpukul. Sekuat hati Ndis menahan air matanya agar tidak jatuh. Ndis ingat ucapan Dewa yang mengatakan, tidak ingin melihat Ndis menangis karena dia. Beberapa kali Ndis memukul dadanya, rasanya sesak sekali saat melihat orang yang disayang terbaring lemah dengan berbagai alat penopang hidup berada di tubuh mas pacar.
"Jangan begini nduk.. Kamu yang sabar.. Istighfar nduk, kita semua juga sedih. Kita doakan saja semoga mas Dewa bisa melewati masa kritisnya ya.." Parto mencegah anaknya yang terus memukul dadanya menahan sesak.
Ndis menggigit bibirnya, matanya pedih menahan genangan air mata yang hampir lolos tanpa bisa dia cegah.
"Pak.. Aku yang salah pak.. Aku yang ngajak mas buat pergi tadi siang... Aku yang salah pak.." Suara lemah Ndis makin membuat mereka yang di sana merasa iba.
Parto jadi teringat beberapa puluh tahun yang lalu. Dia juga pernah di hadapan dengan posisi seperti sekarang ini. Adiknya, Indah juga pernah tertabrak mobil dan kritis. Sama seperti Dewa. Bahkan Indah sempat hilang kesadaran selama seminggu lebih. Tapi, keajaiban datang.. Doa dari orang-orang yang menyayangi Indah
diijabah Allah. Indah sadar dan kembali pulih. Bahkan sekarang hidup meghappy bersama sang suami dan dua orang anaknya.
Asline othor takut disembelih para readers kalau matiin tokoh Indah! Itulah kejadian yang sebenarnya. Hahaha!
Fajar yang masih menggunakan seragam dokternya, datang nyamperin Ndis dan keluarga Dewa.
"Ndis.." Fajar menyentuh pundak Ndis yang bergetar. Ndis menangis tanpa suara. Fajar benar-benar tak tega melihat Ndis seperti ini.
"Jar, ini gimana kejadiannya kok bisa Dewa nyampe kritis?" Jo yang bertanya duluan karena tak puas dengan jawaban irit nan medit dari pakdhenya tadi.
"Kecelakaan Jo. Dewa ketabrak mobil box, sopir mobil itu sekarang ada di kantor polisi untuk dimintai keterangan perihal kejadian di TKP. Untuk kondisinya, saat dibawa ke sini Dewa sudah banyak mengeluarkan darah. Hal itu terjadi mungkin karena terlalu lama di perjalanan serta benturan keras yang dia dapatkan dari hantaman mobil yang menabraknya, dan menurut keterangan warga saat perjalanan Dewa beberapa kali mun_tah darah. Organ yang paling parah terkena benturan adalah ginjal dan paru-parunya." Terang Fajar menjelaskan.
Kakek Dewa dan buleknya sudah kembali dari ruangan dokter Ardiaz. Muka mereka terlihat sedih dan sangat terpukul.
"Pak.. Minum dulu," Tawar bulek Aminah. Gelengan pelan menjawab usulan bulek.
"Pak, Dewa pasti bisa lewati masa kritisnya." Bulek Aminah pun berharap keponakannya bisa berjuang, bisa pulih dan kembali sehat seperti sediakala. Dia terus mensugesti dirinya jika Dewa pasti kuat.
"Aku teringat almarhum bapaknya Dewa Min." Bergetar suara lelaki sepuh itu. "Bapaknya Dewa dulu.. dulu.. meninggal juga karena kecelakaan.." Bulek Aminah langsung menggenggam tangan bapaknya.
Tidak ada yang ingin kehilangan orang yang dicinta, begitupun dengan mereka. Kesedihan jelas terlihat dari raut wajah masing-masing. Bukan hanya Ndis tapi, semua yang ada di sana terus berdoa untuk kesembuhan Dewa.
'Maaf mas kalau selama ini aku selalu cuek sama kamu, terlalu fokus sama kerjaan sampai-sampai lupa kalau di dekatku ada kamu yang selalu setia dan ada buat aku. Bodohnya aku baru sadar sekarang jika hadirmu sangat berarti buatku, mas sembuh ya... Aku sayang kamu mas.. Aku sayang kamu..'
✨✨✨✨✨✨✨
Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga... Nananana aku rasa kehilangan dirinya,.. Eleh othor ndak apal😐