Angel!!

Angel!!
Bab 43. Kemesraan



"Mau kemana Ndis?" Pertanyaan yang dilontarkan Shela untuk anak sulungnya.


"Balikin hape ini buk. Ndis ndak bisa nerima benda mahal kayak gini," Menjawab pertanyaan ibunya dengan tempo sesingkat-singkatnya.


"Lho apa tadi enggak dibawa Lintang sekalian berangkat sekolah? Atau bisa besok aja balikinnya minta tolong Lintang nduk, jalanmu aja masih kayak zombi gitu kok." Parto berkomentar sambil menyeruput kopi hitam buatan istrinya.


"Bapak ini apa lho, ngatain anak kok kayak zombi. Lha nek anaknya kayak zombi terus bapaknya ini apa?" Shela menoel gemas pundak Parto.


"Biar hapenya dianterin bapakmu aja Ndis, kamu masih sakit kok mau keluyuran." Imbuh Shela.


"Mboten usah buk. (Enggak usah buk). Ini ada Jo yang ngaterin Ndis. Biar Ndis sendiri yang ngasih ke mas Dewa buk." Ndis berpamitan kepada bapak dan ibunya. Diikuti Jo juga dari belakang.


"Jo, bawa motornya hati-hati." Pesan Parto kepada Jo yang dijawab dengan 'nggeh pak.' oleh Jo.


Sepeninggalnya Jo dan Ndis, Shela dan Parto masih ada di depan rumah mereka.


"Mas.." Panggil Shela kepada lelaki yang menjadi imam serta kepala rumah tangganya. Lelaki yang setia menemaninya dari dulu hingga sekarang. Tahun berganti tapi sorot mata dengan binaran cinta itu tak berubah. Hanya tertuju pada Shela.


Shela menaruh kepalanya pada bahu sang suami. Terasa nyaman. Parto selalu bisa membuatnya senyaman itu saat dia berada di dekat suaminya. Parto mengusap pelan pipi Shela dari samping.


"Iya dek.. Kenapa?" Tanya Parto dengan mesranya.


"Terimakasih.." Parto langsung melihat penuh ke arah Shela.


"Untuk apa?" Tanyanya sambil menggenggam tangan kanan Shela.


"Untuk semua hal yang telah kita lewati bersama. Kamu enggak pernah ninggalin aku. Waktu, kasih sayang, kesetiaan dan perhatian kamu untuk aku dan anak-anak kita. Jujur aja mas, aku selalu merasa beruntung memiliki kamu di dalam hidupku."


Parto merasa Shela agak melow hari ini. Tapi, jika dia menanggapi obrolan istrinya ini dengan candaan sudah bisa dipastikan kemesraan yang tercipta bisa jadi keambyaran yang haqiqi.


Terkadang pembicaraan seperti ini juga sangat diperlukan untuk suatu hubungan. Saling memuji dan mengutarakan rasa kepada pasangan halal itu sangat diperlukan. Demi terbentuknya suatu benteng yang kokoh tak tertandingi yang menjadi pondasi agar hubungan yang sudah terjalin tidak ambruk oleh terjangan pelakor atau pebinor yang menawarkan kenyamanan untuk para pasangan. Karena pasangan entah itu suami atau istri, merasa di rumah sudah terasa hambar tak ada rasa, berbeda waktu awal pernikahan. Atau pun saat berpacaran, tiap hari digrojok cinta-cintaan dan sayang-sayangan.


Percayalah saat ngetik ini aku merasa bukan aku yang bertindak di sini. Entah kepintaran siapa yang nemplok dan merasukiku sampai bisa sepandai ini. Sungguh sangat luar binazaah!


"Karena kamu, Gendis dan Lintang adalah amanah yang Allah berikan untukku. Akan sangat berdosa untukku jika aku menyia-nyiakan dan tidak menjaga amanah yang Allah embankan untukku. Dan.. Dari awal aku cinta sama kamu. Apapun dan bagaimanapun kamu, aku enggak akan bisa berpaling ninggalin kamu. Jika aku boleh meminta satu hal yang akan dikabulkan oleh Sang Pencipta, aku akan minta.. nyawaku dulu yang diambil. Karena aku enggak bisa bayangin hidupku tanpa kamu, hari-hariku tanpa kamu, aku lebih ikhlas jika aku pergi lebih dulu dari pada kamu dek.." Ucapan Parto membuat lelehan bening jatuh ke pipi Shela. Dia terharu.


"Jangan bilang gitu mas.. Kenapa enggak minta agar kita panjang umur? Kamu pikir aku bisa lewati semuanya tanpa kamu? Aku enggak pernah membayangkan hidupku tanpa kamu. Dan aku enggak mau.. Aku enggak mau berpisah dari kamu."


"Saat anak-anak kita sudah mulai dewasa seperti sekarang ini, bukan lagi kita yang menjadi prioritas dan sandaran mereka mas.. Mereka akan mencari kebahagiaan mereka sendiri dengan pasangan mereka masing-masing nantinya. Lalu kamu masih berpikir ingin mendahuluiku? Meninggalkan aku sendiri?" Atmosfer yang tadinya mesra berubah menjadi haru.


Parto tidak bersuara. Hanya kecupan ke kening Shela yang dia lakukan. Keduanya memasuki rumah, melanjutkan obrolan tadi di dalam istana mungil yang selalu bisa membuat mereka betah berada di dalam sana.