Angel!!

Angel!!
Bab 69. Bertemu Mantan



Meica berjalan kaki setelah sampai di halaman rumah pak RT. Motornya dia parkir tak jauh dari rindangnya pohon alpukat yang sengaja ditanam di depan rumah sang perangkat desa.


Dia dikejutkan oleh dua orang sosok yang sangat dia kenal ada di ruang tamu kediaman pak RT. Rizal dan istrinya. Meica menutupi kekagetannya dengan bersikap biasa saja. Tersenyum ramah meski tidak mendapat balasan senyuman dari Sofi, istri Rizal.


"Assalamualaikum," Salam yang diucapkan Meica saat setelah dipersilahkan masuk oleh pak RT.


"Waalaikumsalam. Tadi neng Ica udah wa bapak ya, sebentar bapak ambil blankonya dulu. Nanti neng Ica tinggal isi blangkonya dan minta tanda tangan pak lurah."


Meica mengangguk pelan. Duduk agak jauh dari pasangan suami istri yang terlihat tak mesra itu, Meica berusaha bersikap senormal mungkin.


"Queen apa kabar?" Tanya Rizal pada Meica.


"Alhamdulillah baik." Jawaban singkat. Dan Meica tak mau menanyakan balik kabar sang mantan di depan istrinya. Pantang hukumnya!


"Baru pulang ya? Gimana kuliah mu di kota?" Kembali terdengar pertanyaan terlontar dari mulut Rizal.


Sebelum menjawab, Meica melihat ke arah Sofi yang acuh membuang muka saat mata mereka saling bertatapan.


"Baik. Semua lancar." Sebenarnya Meica tak suka terjebak di situasi seperti ini tapi, mau gimana lagi pak RT pun lama kali itu ambil blangkonya. Mungkin ambilnya di balai desa, jadi agak makan waktu!


Tak berapa lama, pak RT akhirnya muncul. Membawa secawan madu ealaaah maaf.. membawa secarik kertas dan bolpoin. Kedua benda itu diserahkan kepada Meica. Tak ingin berlama-lama dalam satu ruangan dengan pasangan suami istri itu, Meica meminta ijin mengisi formulir tersebut di luar rumah. Di teras yang juga ada meja dan beberapa kursi yang menemani meja itu agar enggak sendirian.


"Kamu bisa enggak jangan ganggu suamiku?" Meica lantas menengok ke arah suara yang dia yakin itu adalah suara Sofi, istri Rizal.


Wanita itu berdiri tepat di samping Meica yang sedang menulis keperluan perijinan menginap Fajar di rumahnya.


"Maaf? Kamu ngomong sama aku?" Meica tengak-tengok kanan kiri siapa tahu Sofi bukan sedang berbincang dengannya. Tapi, kok ya enggak ada orang lain di sana kecuali mereka berdua.


"Iya! Aku ngomong sama kamu. Asal kamu tahu, sejak menikah dengan a Ijal aku seperti penggantimu untuknya! Apapun yang aku lakukan selalu dibandingkan dengan kamu, aku punya hati.. aku ini istrinya bukan boneka yang selalu salah di matanya!" Mendadak luapan emosi itu meledak.


Meica sama sekali enggak ngerti dengan apa yang dikatakan Sofi. Dia aja udah putus hubungan lama dengan Rizal sejak Rizal memutuskan menikahi Sofi. Lalu apa yang mendasari Sofi sangat marah kepadanya?


"Maaf teh, aku udah lama putus hubungan, komunikasi dan apapun itu sama suami teteh. Mungkin teteh salah orang." Meica berusaha mengabaikan ocehan Sofi yang menuduh dirinya punya andil kuat dengan sifat dingin dan acuh Rizal kepada Sofi selama ini.


"Kamu juga wanita.. tolong.. tolong jangan rusak rumah tangga wanita lain. Aku udah punya anak, aku ingin mempertahankan rumah tanggaku.. di desa ini siapa yang tidak kenal kamu? Kamu calon dokter, pendidikan mu tinggi.. jangan kamu rendahkan dengan kelakuanmu merebut suami orang," Pilu. Isak tangis itu pecah. Tak ada bentakan atau kata-kata kasar lainnya, hanya kalimat permohonan yang terdengar menyayat hati.


Meica bukannya tak iba dengan penderitaan batin Sofi tapi, tuduhan Sofi kepada itu tak mendasar sama sekali. Dia tidak pernah punya cita-cita merebut suami orang.


Di sini bukankah Meica yang ditinggalkan? Meica yang dicampakkan karena Rizal harus menikah dengan Sofi karena ulah kakak Rizal yang udah ngobrak-ngabrik mahkota Sofi, berpikir akan tanggung jawab setelahnya tapi ternyata malaikat maut lebih dulu ngajak kakak Rizal pelesiran ke alam baka sebelum dia bisa menyicipi indahnya pelaminan?!


"Teh.. Jangan menuduhku seenaknya seperti itu. Dalam mimpi pun aku enggak pernah berpikir ingin merebut suami teteh atau kembali menjalin hubungan sama dia. Tanyakan sendiri pada suami teteh, kapan terakhir kali kami bertemu atau berkomunikasi! Bahkan sebelum teteh menikah sama suami teteh, aku udah putus hubungan dengan dia."


Keributan yang terjadi di luar rumah pak RT membuat Rizal dan pak RT keluar untuk mencari tahu apa gerangan yang sedang terjadi.


"Aya naon ieu?" (Ada apa ini?) Pak RT mendekat ke sumber keributan.


"Ada apa Sof?" Tanya Rizal kepada istrinya.


"Aku yang harusnya bertanya, ada apa sama aa dan bu dokter kebanggaan desa kita ini? Aa nikah sama aku tapi hati aa masih untuk perempuan ini! Aku punya raga aa tapi teu hati aa! Aa.. aku yang ada di dekat aa merasa jauh karena adanya dia!!"


Rizal kaget dengan apa yang diucapkan Sofi di serambi rumah pak RT. Ini masalah rumah tangga kok malah di share kayak gini, eladalah!


"Maaf pak RT, maaf Queen.. sepertinya aku harus pulang dulu. Sof.. kita pulang sekarang!" Sorot mata dingin ditunjukkan Rizal untuk Sofi. Jauh berbeda saat Rizal menatap Meica.


"Teu a!! Semua harus kelar di sini! Semua harus tahu, kalau aa nikah sama aku tapi hati aa masih sama dokter ini! Itu sama aja aa selingkuh ngarti teu??" Jerit Sofi yang membuat Rizal meradang.


"Pak RT, ini sudah aku isi semua. Aku langsung ke rumah pak lurah aja ya, Assalamualaikum." Pamit Meica tanpa menggubris keributan antara suami istri di depannya itu.


Saat akan pergi, Sofi bergerak cepat menarik Meica sehingga posisi mereka berhadapan, dengan hitungan detik pipi Meica udah terdapat cap lima jari hasil perbuatan Sofi. Semua yang di sana kaget. Tak terkecuali Fajar yang baru tiba di sana dengan Kiki.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


Yang, kemarin ku melihatmu


Kau bertemu dengannya


Ku rasa sekarang kau masih


Memikirkan tentang dia


Apa kurangnya aku di dalam hidupmu


Hingga kau curangi aku


Katakanlah sekarang


Bahwa kau tak bahagia


Aku punya ragamu


Tapi tidak hatimu


Kau tak perlu berbohong


Kau masih menginginkannya


Ku rela kau dengannya


Asalkan kau bahagia


Yang ku rasa sekarang kau masih


Memikirkan tentang dia


Apa kurangnya aku di dalam hidupmu


Hingga kau curangi aku


----Silahkan yang mau ngamen di pojokan----