
Waktu yang berlalu seperti memaksa setiap orang untuk melakukan perubahan. Perubahan dalam hidup untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan. Seperti sekarang, setelah mengucapkan sumpah dokter.. Fajar dan Meica serta puluhan rekan mereka lainnya telah resmi menyandang status dokter di pundak mereka.
Sumpah dokter ini dilaksanakan setelah para mahasiswa profesi dokter berhasil lulus pada Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).
Meica tak kuasa menahan air matanya saat mengingat kembali apa yang sudah dia lalui demi mengejar cita-citanya ini. Banyak keringat dan air mata, banyak pengorbanan yang ayahnya lakukan untuknya. Rasanya semua ini sebanding. Benar-benar sebanding, saat dirinya dengan lantang mengucapkan sumpah dokter dengan menyebut nama Allah. Mendedikasikan diri untuk kepentingan masyarakat.
'Demi Allah saya bersumpah, bahwa :
Saya akan membaktikan hidup saya guna perikemanusiaan.
Saya akan menjalankan tugas dengan cara yang terhormat dan bersusila sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter.
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur profesi kedokteran.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena keprofesian saya.
Saya tidak akan menggunakan pengetahuan saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam.
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai saat pembuahan.
Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien, dengan memperhatikan kepentingan masyarakat.
Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan,
gender, politik, kedudukan sosial dan jenis penyakit dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien.
Saya akan memberi kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya.
Saya akan perlakukan teman sejawat saya seperti saudara kandung.
Saya akan mentaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia.
Saya ikrar kan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.'
Meica mencium tangan ayahnya beberapa kali kemudian memeluk tubuh lelaki yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dia dan juga adiknya, menunjukkan betapa dia sangat menyayangi dan berterimakasih untuk semua jasa, kasih sayang, ketulusan serta cinta sang ayah untuk dirinya sehingga dia bisa di titik ini sekarang. Melihat hal itu, Kiki adik Meica ikut larut dalam suasana haru. Gadis kecil itu terisak.
"Yah.. Haturnuhun," Dengan derai air mata, Meica hanya bisa mengucapkan satu kalimat ucapan terimakasih. Memang benar, ucapan terimakasih saja tidak akan cukup membalas semua rentetan kasih sayang ayah untuk Meica tapi, setidaknya kalimat terimakasih itu terucap tulus dari lubuk hati Meica.
"Neng... Ayah yang harusnya bilang terimakasih pada neng. Ica selama ini selalu jadi kebanggaan ayah, juga ibu yang sekarang pasti ikut bahagia melihat Ica berhasil seperti ini. Neng.. tetap rendah hati ya. Ayah bangga sama neng." Ayah Meica menahan air matanya agar tidak jatuh, diusapnya kepala putri sulung nya itu. Menyalurkan kasih sayang di setiap usapan nya.
Engkaulah nafasku
Yang menjaga di dalam hidupku
Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik
Kau tak pernah lelah
Sebagai penopang dalam hidupku
Aku hanya memanggilmu ayah
Di saat ku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu ayah
Jika aku telah jauh darimu
Kau tak pernah lelah
Sebagai penopang dalam hidupku
Aku hanya memanggilmu ayah
Di saat ku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu ayah
Jika aku telah jauh darimu
Aku hanya memanggilmu ayah
Di saat ku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu ayah
Jika aku telah jauh darimu
Meica teringat waktu kecil saat ayahnya pulang dari sawah dengan cucuran keringat masih membasahi wajah serta badannya, senyum selalu hadir kala dia dengan manja meminta gendong ayah tanpa memikirkan sang ayah letih atau tidak. Dan tanpa menolak permintaan Meica, ayah selalu menuruti rengekan gadis kecilnya yang meminta gendong.
Bukan memanjakan tapi, ayah berpikir hanya itu yang bisa ayah lakukan untuk membahagiakan putrinya. Saat anak seusia Meica mengadakan pesta ulang tahun di sekolahnya, Meica puas hanya bermain tanah liat yang dibentuk layaknya kue tart dihiasi lidi diatasnya. Dengan wajah polosnya, Meica menunjukkan hasil karyanya kepada ayah. Hati kecil ayah seakan tercabik melihat putrinya menyanyikan lagu ulang tahun untuk dirinya sendiri.
Saat Kiki lahir, Meica sangat senang memiliki teman bermain selain ayah dan ibunya. Tapi, kesenangan itu tidak berlangsung lama.. Ibu harus pergi menghadap Sang Illahi. Meninggalkan ayah, Meica dan si kecil Kiki sendiri di dunia ini. Meica sangat ingat bagaimana pontang-pantingnya ayah merawat dan membesarkan dirinya dan Kiki tanpa bantuan ibu.
Bergetar tangan lelaki paruh baya dengan tanda kebijaksanaan yang hampir rata di seluruh kepalanya itu. Air mata itu akhirnya turun tak terbendung saat Meica berusaha tersenyum di balik tangisnya.
Memang benar ini adalah hari bahagia tapi mereka menangis bukan karena sedih melainkan perasaan gembira dan haru bercampur jadi satu.
Selamat Ca.. Akhirnya kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan, mencapai cita-cita dengan usaha dan kerja kerasmu. Untuk kedepannya othor ucapkan ganbatte kudasai!!