Angel!!

Angel!!
Bab 67. Kepulangan Meica



"Jar.. kenapa kamu enggak pulang ke kotamu aja? Kok malah repot-repot anterin aku pulang. Pasti keluarga dan teman-temanmu juga menunggu kepulangan mu ini." Meica berjalan menuju bus yang akan membawanya menuju kampung halaman tercinta.


Meica tidak menggunakan pesawat atau akomodasi lainnya karena selain karena faktor biaya, Meica juga ingin meminimalisir pengeluaran yang dia pakai selama pendidikannya. Padahal Fajar sudah berkali-kali menawarinya tiket pesawat pulang pergi tapi, gadis mandiri itu selalu menolaknya.


"Udah diem. Kamu juga ngeyel banget, dibilangin naik pesawat aja. Kan bisa cepet sampai rumah, waktu buat kumpul sama bapak ibumu lebih banyak." Fajar mengusap keringat di dahinya karena cuaca yang lumayan panas siang ini.


Keduanya memasuki bus dengan jurusan kampung halaman Meica. Duduk bersebelahan, Fajar memilih posisi di pinggir. Jiwa untuk melindungi muncul saat dia melihat sendiri beberapa mata lelaki di terminal menatap Meica seperti ingin menerkam gadis itu.


"Jar.. Kamu enggak jawab pertanyaan ku. Kenapa kamu enggak pulang ke kotamu aja? Apa karena sahabat mu udah milih cowok lain?"


Meica masih penasaran dengan jawaban dari pertanyaannya karena Fajar seperti menghindar tidak ingin menjawabnya.


"Itu tahu." Hanya itu yang Meica dapatkan. Fajar seperti malas membahas kisah cintanya yang telah karam.


"Kamu enggak bisa kayak gini terus Jar. Kenyataan itu harus dihadapi bukan dihindari. Toh kita enggak ada yang tahu dengan siapa kita berjodoh nanti, bersikap biasa aja sama sahabatmu. Jangan tunjukkin kalau kamu kecewa dengan keputusannya. Jangan jauhi dia." Saran Meica yang tidak digubris Fajar.


Fajar lebih memilih menyumpal telinganya dengan earphone, membuat Meica langsung nabok pundak lelaki itu.


Bus mulai berjalan, Meica sesekali membuka obrolan karena Fajar diem-diem bae.


"Kamu ini cerewet banget lah Ca, aku mau tidur bentar, kamu bisa diem enggak?"


"Lah kan aku tanya Jar, aku tanya gini biar kamu enggak kaget lagi nanti di sana. Jar.. desaku itu termasuk kolot, hmm gimana ya.. Takutnya nanti kamu dikira calonku lagi karena nganterin aku nyampe sana, mending nanti pas nyampe terminal kamu langsung balik lagi aja ya ke kota. Atau langsung pulang ke kampung mu aja. Bapak ibumu kan juga pasti rindu kamu." Meica masih saja membahas hal itu berulang kali.


"Iya udah bilang aja iya." Fajar mulai memejamkan kembali matanya.


"Iya apa lho? Jar.. Jar! Kamu ini iya iya apa?" Makin berisik.


Fajar melepas sumpelan kupingnya, menatap Meica dengan intens. Meica yang dilihat dari jarak sedekat itu jadi memundurkan mukanya. Seperti bertanya 'Mau apa kamu wahai kisanak?'


"Diem." Satu kata itu mampu membuat Meica mengangguk mengerti. Dia ngeri juga kalau disosor Fajar di dalam bus. Seenggaknya itu yang ada di pikiran Meica saat melihat wajah Fajar begitu dekat dengannya.


Rasa kagum Meica untuk Fajar muncul karena kedekatan mereka selama masa koas. Sudah tak terhitung berapa banyak bantuan yang Fajar berikan untuknya. Apalagi saat dia sedang sakit, Fajar rela bolak-balik dari kostnya untuk sekedar memastikan Meica baik-baik aja.


Mata itu tertutup tapi, Meica malah memperhatikan secara detail maha karya yang Tuhan ciptakan dengan sempurna di sampingnya.


"Ca, bisa enggak kamu jangan lihat aku kayak gitu banget?" Meski matanya terpejam, Fajar bisa tahu kalau Meica merhatiin dia.


Beberapa menit setelahnya, Fajar malah mendengar dengkuran kecil di sampingnya. Tak khayal hal itu mengukir senyum tipis di wajah Fajar.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


Perjalanan melelahkan mereka telah tempuh untuk mencapai tujuan, desa tempat tinggal Meica. Ya, mereka sudah sampai di sana. Tak jauh beda dengan desa Fajar. Cuma di sini jarak antar rumah satu dan yang lainnya masih berjauhan.


"Yah.. Ayah.. Teteh pulang, yaaah itu teteh yah," Gadis kecil berusia sekitar delapan tahun loncat-loncat kegirangan melihat kakaknya kembali dari kota.


Lelaki paruh baya yang mendengar teriakan putri bungsunya bergegas keluar dari rumah. Alangkah terkejutnya beliau melihat sosok yang sangat dirindukannya. Tergopoh-gopoh ayah dari Meica menghampiri putrinya.


"Ica.. Kamu pulang, ayo nak ayo masuk.." Mata ayah Meica menangkap pemandangan asing. Fajar. Anak gadisnya pulang bersama dengan lelaki yang tentu dia tidak kenal.


"Ayo masuk, ini temenmu juga diajak masuk." Ayah Meica tidak lantas menanyai siapa pemuda yang bersama putrinya.


Gadis kecil yang merupakan adik Meica sampai memaksa membawakan tas bawaan Meica saking senangnya melihat kakaknya pulang setelah sekian lama berpisah.


"Teh, teteh mau minum haus pasti ya? si Aa nya juga? Kiki ambilin air dulu ya teh." Kiki, nama gadis itu melesat cepat menuju dapur.


"Yah, ini Fajar. Temen Ica di kota. Dia yang sering Ica ceritain itu." Meica menjelaskan kepada ayahnya sebelum ayahnya salah paham tentang siapa sosok yang duduk di sampingnya tersebut.


Cerita? Cerita apa yang Meica share ke ayahnya tentang Fajar?


Fajar hanya tersenyum sambil menyambut uluran tangan ayah Meica saat diajak bersalaman. Ayah Meica beberapa kali mengucapkan terimakasih kepada Fajar atas bantuan yang selalu Fajar berikan kepada putrinya selama di kota. Ternyata apapun yang Fajar lakukan untuk Meica selalu Meica ceritakan kepada ayahnya lewat sambungan telepon.


"Jar kamu istirahat aja dulu. Aku mau ke warung bentar." Kata Meica menaiki kuda besi miliknya.


"Ikut." Fajar meninggalkan ponselnya di meja, menghampiri Meica yang bengong karena ucapannya.


"Enggak usah. Ngapain ikut? Kayak anak kecil aja. Mau jajan? Nanti aku beliin hahaha.."


"Aku ke sini bukan untuk numpang tidur aja Ca. Awas minggir, aku di depan."


Enggak mau berdebat lebih lama, Meica membiarkan Fajar mengendarai motor dan memboncengnya sampai tempat yang dia maksud.