
Selesai perform, Neta sangat bersemangat untuk langsung menghampiri Fajar, dia berharap Fajar akan memujinya dengan mata berbinar dipenuhi cinta. Itu yang ada di ekspetasi Neta.
"Lho.. Paijooooooo, ayangku mana??" Neta menghentakkan kakinya karena saat kembali ke meja tempat Fajar makan tadi, dia tidak menemukan Fajar di sana.
"Mana aku tahu. Makanya kalau nyanyi enggak usah merem terus, ditinggal kan jadinya! Hahahaha..." Neta mengambil sendok di depan Jo dan memasukkan sendok itu ke mulut Jo yang tertawa mengejeknya.
"Dia kemana Paijo? Aku tanya serius ini!!" Sangat kesal, Neta sampai meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Waktu kamu nyanyi, aku ke toilet, pas balik ke sini Fajar sama Ndis udah ngilang. Coba tadi kamu jangan merem-merem nyanyinya, kan bisa tahu kalau ditinggal pergi Fajar." Jo menjelaskan kepada Neta, tapi Neta malah memukul pundak Jo,
"Apa sih Net, kok ngamuk sama aku??" Jo mengusap pundaknya karena terasa perih juga tabokan Neta tadi.
"Harusnya kamu cegah dia dong! Ini pasti si linggis itu yang maksa ayangku buat pergi dari sini, dasar cewek pecicilan!! Hiiiiih!!"
Terang saja Neta kesal, dia merasa apa yang tadi dia lakukan sia-sia aja.
"Heh Net, kamu kira kamu aja yang mumet karena Fajar minggat? aku aja bingung ini mereka main kabur, mana makanannya belum dibayar lagi! Kamu mau bayarin Net? Itung-itung amal,"
"Ogah!!!" Neta mendengus kesal.
"Terus ini gimana dong?? Aku bayarnya gimana?" Jo seakan memelas ingin dikasihani.
"Ya mana aku tahu!! Ngapain aku peduli sama kamu Paijo!! Jual aja ginjal mu buat bayar makanan itu!!" Neta pergi meninggalkan Jo yang hampir ngakak oleh ocehan cewek berambut panjang sepundak itu.
Yang terjadi beberapa menit sebelumnya adalah..
Fajar melihat ekspresi tak suka yang nyata di wajah Ndis. Bukan tak tahu alasannya apa, Fajar sangat tahu.
"Jo, ini buat bayar yang kita pesan. Aku bawa Ndis keluar dulu." Ucap Fajar berbisik.
Jo mengerutkan kening. Tapi, langsung mengangguk aja. Urusan paham atau enggak belakangan aja.
"Kenapa? Kan kita belum makan? Udah santai aja, biarin kelabang itu nyanyi.. Aku santai kok." Di mulut bilang santai di hati gondoknya bukan main.
Fajar enggak mau banyak bicara, setelah Ndis menyelesaikan ucapannya Fajar lalu menarik tangan Ndis keluar cafe. Mau tak mau Ndis mengikuti kemana Fajar akan membawanya.
"Kita mau kemana? Itu Jo ditinggal sendiri..?" Ndis bertanya saat udah di atas motor. Angin malam sangat dingin saat ini. Suara Ndis sampai bergetar.
"Ke tempat lain aja, Jo aman kok. Aku udah kasih tau dia buat nyusul kita nanti,"
Tahu kalau Ndis kedinginan, Fajar menghentikan sebentar motornya.
"Ada apa lagi?" Tanya Ndis. Fajar melepas jaketnya, helmnya juga, dia pakaikan helm itu untuk Ndis. Helm full face sekarang sudah bertengger di kepala Ndis.
"Eh apa ini? Kan aku udah pakai cardigan, pakai aja jaket mu. Kamu kan di depan, anginnya kenceng ini.. Enggak usah sok kuat. Badan cungkring gitu juga," Ndis berusaha menolak saat Fajar meletakkan jaketnya di pundak Ndis. Membentangkan jaket itu agar pundak Ndis terlindungi oleh terpaan angin malam.
"Pakai ya." Hanya dua kata yang keluar dari mulut Fajar. Dia lalu kembali menaiki motornya.
Ndis memandang punggung itu dari belakang, sering Ndis berboncengan dengan Fajar tapi sepertinya malam ini ada yang beda. Perasaan berbeda yang dia sendiri tidak mengerti itu apa.
Ditempat lain, Neta berjalan cepat menuju tempat parkir. Laki-laki yang bersamanya tadi buru-buru mengejar Neta sebelum Neta meninggalkan cafe itu.
"Enggak usah dikejar!" Cegah cowok itu tegas.
"Apa sih?! Mau aku kejar apa enggak bukan urusanmu tahu enggak!!" Neta udah kesal malah ditambah makin emosi dengan cowok yang berada di samping motornya sekarang ini.
"Karena aku enggak ngijinin kamu ngejar dia! Cowok brengsek yang enggak pernah melihat semua usahamu, pelet apa yang dia gunakan sampai kamu enggak bisa melihat ke arah lain? Ada aku Net... Ada aku.." Memegang tangan Neta.
"Kamu gila ya?!! Lepasin!! Aku enggak suka sama kamu, dan kamu tahu itu! Aku sih enggak nyalahin kamu kalau kamu tergila-gila sama aku, jelas aku patut digilai, dipuja, disanjung! Aku cantik dan punya segalanya!! Tapi, bukan kamu yang aku mau!! Ngerti enggak sih??" Neta menatap dengan pandangan kesal ke arah cowok yang dari tadi menemaninya.
"Kamu akan nyesel saat kehilangan semuanya Net, enggak dapatin semuanya, enggak aku.. ataupun cowok brengsek itu.." Ucap Rama. Cowok yang memandang kepergian Neta dengan hampa.