Angel!!

Angel!!
Bab 75. Kedatangan Lampir



Mereka sudah berkumpul. Satu pesan dari Jo tadi langsung menggiring Ndis dan Lintang ke tempat yang biasa mereka jadikan pelampiasan saat gabut.


Dengan wajah cerah bak matahari pagi, Lintang asyik sendiri dengan Jo karena dimanjakan dengan berbagai jajanan kesukaan bocah Lima belas tahun itu.


"Apa kabar Jar? Makin keren aja kamu," Ndis duduk di sebelah Fajar karena memang hanya ada Fajar di situ, Jo dan Lintang lebih memilih menghabiskan jajanan di sudut gazebo yang berbeda dengan kedua manusia yang mematenkan diri sebagai sahabat.


"Baik Ndis. Keren apa to, aku dari dulu ya kek gini-gini aja kok.. Kerenan juga Dewa. Oiya, Kamu lamaran kok diem-diem aja sih Ndis. Ngomong-ngomong selamat ya..." Fajar terlihat santai mengucapkan kalimat tersebut. Tapi, tidak dengan Ndis. Gadis itu malah terlihat salah tingkah setelah mendengar ucapan selamat dari sahabatnya.


"Emmm.. iya Jar makasih. Gimana koas mu di sana?" Sepertinya Ndis tidak ingin membahas tentang statusnya. Menangkap hal itu, Fajar sedikit penasaran tapi, dia tak punya hak ikut campur urusan pribadi Ndis.


"Alhamdulillah lancar. Kamu udah makan belum? Kok kelihatan gugup banget, jangan bilang kamu grogi karena ketemu aku ya hahaha.." Fajar berusaha mencairkan suasana.


Belum sempat menjawab, Ndis dikagetkan dengan bunyi ponsel yang ada didalam tasnya. Dia melihat sesaat, nama mas Dewa terpampang di sana. Ndis langsung menekan tombol hijau tanpa berniat meninggalkan tempat duduknya.


"Assalamualaikum, iya mas.. Ini sama Lintang juga kok. Oke, enggak bakal malem-malem pulangnya. Huum.. waalaikumsalam."


Telepon dimatikan. Ndis menyimpan lagi ponselnya ke dalam tas. Melihat ke arah Jo dan Lintang yang asyik bercanda hahahihi.


"Pak guru perhatian banget ya, baru ditinggal bentar udah segitunya." Omongan Fajar hanya ditanggapi senyuman oleh Ndis.


Ndis lalu bertanya tentang kegiatan apa saja yang Fajar lakukan selama di kota. Dari situ Ndis tahu jika Fajar mempunyai teman perempuan bernama Meica. Fajar tak langsung bilang kalau Meica pacarnya. Dia hanya bilang kalau punya teman yang hampir mirip sifatnya seperti Ndis.


Asyik ngobrol, tiba-tiba mereka dikagetkan oleh kemunculan sosok tak diinginkan kedatangannya. Neta datang dan langsung memeluk Fajar dari belakang. Membuat Fajar kaget karena tindakan yang Neta lakukan.


"Saaayaaaaaaaaaaang... Aduh sayaaaaang.. Kamu pulang kok enggak bilang aku dulu sih?? Sayang aku kangen banget sama kamu.. Udah lama kita enggak ketemu, sayang.. Kamu pasti juga kangen kan sama aku!? Untung saja aku punya banyak temen, ada yang ngasih tahu kalau kamu ada di sini!! Aaah aku seneng banget yank bisa ketemu kamu."


Sontak saja rentetan kata Neta membuat dia langsung jadi pusat perhatian seluruh manusia yang ada di sana. Fajar berusaha melepaskan pelukan Neta yang melilitnya bak ular piton sedang menjerat mangsanya.


"Net, lepas.." Ucap Fajar, malu karena merasa diperhatikan banyak pasang mata di sana.


Ndis geleng kepala melihat kekonyolan Neta.


"Kamu!! Apa kamu lihat aku kayak gitu? Kamu enggak suka aku ketemu lagi sama ayank? Kamu pasti cemburu kan? Jeles kan kamu? Iya lah.. Ayank jauh-jauh pulang buat ketemu aku kok!!" Terserah Net, terserah!


"Apa sih enggak jelas banget." Ndis menatap malas ke arah Neta.


Neta baru melepas pelukannya dari pinggang Fajar tapi, langsung menarik lengan lelaki yang dia gandrungi itu. Tanpa sengaja lengan Fajar menyenggol onderdil atas Neta. Neta membulatkan matanya. Siyook ceritane!


"Sayaaang nakal banget sih, toel-toel gitu iih sekarang makin berani ya.. Makin cinta deh aku tuh!!" Gila!


"Apa lho Net, enggak sengaja itu makanya kamu jangan gini. Dilihat banyak orang ini Net, astaghfirullah.. Lepas dulu bisa enggak?!"


Fajar berusaha membela diri. Ndis malah merasa seperti melihat drama antara bawang merah ketemu bawang bombai. Rasanya dia ingin cepat-cepat pergi dari situasi yang membuat dirinya makin hmm itu. Padahal tadi niatnya kan ngumpul dan temu kangen bareng Fajar, tapi malah dapet sesuatu yang tak disangka-sangka ketemu temu ireng juga di sini! (Temu ireng atau temu hitam adalah sejenis tumbuhan yang rimpangnya dimanfaatkan sebagai campuran obat atau jamu. Temu hitam dikenal pula sebagai temu erang, atau temu lotong.)


"Heh linggis! Kamu mending pergi aja deh, merusak pemandangan tahu enggak! Hus hus sana pergi, aku mau berduaan sama ayank ku!" Harusnya kan dia yang pergi, kok malah lebih garang Neta dan ngusir Ndis dari sana!


"Ngapain kamu nyuruh Ndis pergi? Kan aku ke sini buat ngumpul sama Ndis!" Bela Fajar saat Ndis ingin melangkah pergi dari kegaduhan yang Neta ciptakan.


"Sayang.. orang kayak gini emang harus dikasarin biar tahu diri! Kamu enggak usah bela dia ya, kamu fokus sama aku aja!! Kamu tahu kan sayang, selama kamu pergi ke kota cuma aku yang masih setia nunggu kamu! Bukan jelmaan sundel bolong ini! Bukan dia lho!! Akhirnya kamu sadar dan mikir hanya aku yang pantas buat kamu, iya kan sayang?!" Ucapan Neta seakan menjadi tamparan untuk Ndis.


Benar.. Baru beberapa waktu Fajar pergi, tanpa memberi kepastian pada sahabatnya itu Ndis malah langsung menjalin hubungan dengan Dewa. Mungkin hal itu yang membuat Ndis sejak tadi bersikap sungkan dan seperti enggak mau membahas apapun tentang hubungannya dengan Dewa.


"Net.. Itu hak masing-masing orang. Kamu enggak usah mencampuri sesuatu yang bukan urusanmu. Dan lagi.. Apapun yang Ndis lakukan aku pasti dukung dia," Fajar masih membela Ndis.


Neta masih saja ngoceh kayak burung prenjak (yang enggak tahu, cari di gugel aja!). Tanpa bisa disela dan dibantah, bagi Neta apapun yang dia ucapkan adalah kebenaran. Dan itu udah valid!