
Fajar mengikuti petunjuk dari Meica yang memberi tahu lokasi rumah pak lurah. Mau ngapain mereka ke sana? Untuk melengkapi ijin agar Fajar bisa menginap di rumahnya lho. Lupa ya gaess? Kebanyakan beban hidup keknya kelian ini makanya masih muda udah pikun hahaha.
Setelah ini itu banyak sekali persyaratan yang sudah dilengkapi, Fajar memutuskan untuk tidak langsung mengajak Meica dan Kiki pulang ke rumah. Tadi di jalan menuju rumah pak lurah, Fajar melihat ada lapangan luas yang mau dijadikan lokasi pasar malam. Sebuah hiburan merakyat yang murah meriah gaess. Othor juga suka ke pasar malem, naik ombak banyu, beli sosis jumbo, beli kebab, beli pop es, abis itu pulang dengan perasaan riang gembira hahaha mulai gaje ya? Hahaha.
"Aa naha eureun di dieu? Kiki teu mawa duit a." (Aa kenapa berhenti di sini? Kiki enggak bawa duit a.)
"Adikmu ngomong apa Ca?" Fajar terlihat kebingungan dengan celoteh Kiki barusan.
"Dia enggak bawa uang. Ngapain berhenti di sini." Mood gadis ini masih kacau gegara kejadian di rumah pak RT.
Itulah kenapa Fajar menghentikan laju motornya di taman hiburan rakyat ini. Untuk mengembalikan mood Meica yang hancur.
Kiki terlihat senang, dia memang jarang pergi ke tempat seperti ini. Meski pasar malam sering diadakan di kampungnya tapi, kesempatan untuk ke sana tidak ada. Ekonomi yang pas-pasan membuat Meica dan Kiki dipaksa mengerti keadaan. Meski masih kecil, Kiki tak lantas merengek saat keinginannya belum bisa ayahnya turuti atau kabulkan.
Kesempatan langka ini membuat Kiki selalu tersenyum sepanjang kunjungan mereka ke pasar malam itu.
"Kamu lihat adikmu, dia manis banget ya?" Fajar berusaha menghibur Meica. Tapi, Meica diem aja.
Saat ini Fajar dan Meica duduk di pojok menyaksikan Kiki yang bermain di istana balon yang memang tersedia di sana. Meica menatap lurus ke depan.
"Jar.. Maksud kamu tadi bilang meresmikan hubungan kita itu apa? Kamu lihat sendiri kan kehidupanku di sini seperti apa? Bisa enggak jangan nambah bebanku.. Aku capek Jar." Masih melihat ke arah depan. Hanya sekarang suaranya terdengar bergetar.
"Aku enggak suka mereka nuduh kamu atas perbuatan yang sama sekali enggak kamu lakukan." Ucap Fajar datar.
" Tapi dengan caramu itu mereka akan mikir kamu beneran pacarku Jar, padahal di sini kita sama-sama tahu kalau kamu aja belum bisa move on dari sahabatmu."
"Orang-orang akan mikir-"
"Kenapa kamu terus memikirkan orang lain hah? Apa orang-orang yang kamu cemaskan itu tahu apa yang kamu rasakan sampai kamu harus terus memikirkan bagaimana orang lain menilai mu?" Fajar memotong omongan Meica.
"Aku salah? Terus apa yang dibilang istri mantanmu itu benar?" Perdebatan terjadi.
"Bagimu semua tidak apa-apa karena setelah pergi dari sini kamu enggak akan balik lagi ke sini! Kamu enggak akan tahu efek dari perkataan mu di depan banyak orang tadi! Tapi, orang akan mikir kamu pergi karena ninggalin aku! Sama seperti yang Rizal lakukan. Sama... Kelian sama! Dicampakkan tanpa ikatan, lucu sekali bukan nasibku ini?" Meica tak kuasa menahan air matanya.
"Ca.. Bukan itu maksudku. Kenapa kamu mikir terlalu jauh?"
Fajar enggak nyangka kalau niatnya membuat Sofi berhenti menindas Meica malah membuat Meica berpikir seperti itu tentangnya.
"Terus maksudmu tadi apa Jar?" Meica agak membentak Fajar.
"Aya naon teh? Naha anjeun ceurik?" (Ada apa teh? Kenapa kamu nangis?)
Buru-buru Meica menghapus air matanya. Menggeleng ke arah Kiki yang masih terlihat bingung. Fajar merasa apa yang dia lakukan malah memperburuk keadaan.
"Kamu maunya aku gimana Ca?" Fajar menghiraukan adanya Kiki diantara mereka.
"Udah lah Jar, kita pulang aja. Kepalaku pusing." Ucap Meica tanpa memandang ke arah Fajar.
"A hayu pulang aja.. Kiki enggak mau main lagi.." Kiki seperti mengerti kalau kakaknya saat ini sedang dalam suasana hati yang buruk.
Memilih menurut, Fajar membawa kakak beradik itu kembali ke rumah mereka. Tidak ada yang bicara, hanya deru motor yang terdengar mengiringi perjalanan pulang mereka. Mereka bertiga larut dalam pikiran masing-masing.
Sampai di rumah Meica. Kiki langsung masuk rumah saat sang ayah meneriakinya untuk segera mandi. Meica ingin masuk juga tapi, tarikan tangan Fajar menghentikannya.
"Aku mau ngomong sama kamu." Fajar menatap serius ke arah Meica.