
Dengan penolakan Meica apa Fajar langsung kembali ke asalnya desa Wekaweka? Tidak! Fajar masih ada di kota Meica. Hari sudah siang, Fajar menikmati hembusan angin yang sedikit memberi kesejukan pada tubuhnya.
"Aa, kok kelihatan pucet. Sakit ya a?" Tanya seseorang yang memperhatikan Fajar diem hanya menatap lurus ke arah jalanan. For your info, saat ini Fajar ada di sebuah taman yang tak jauh dari rumah sakit tempat Meica bekerja. Fajar melihat sekilas ke arah seseorang yang menegurnya tadi. Seulas senyum yang dipaksakan Fajar tunjukkan untuk menjawab pertanyaan gadis yang masih menggunakan seragam SMA itu.
Gadis itu berdiri dan berlalu pergi, tingkah si neng tadi tak dihiraukan Fajar. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Kepalanya terasa makin pusing. Kendaraan berlalu-lalang meramaikan jalanan. Meski begitu Fajar merasa sangat sepi saat ini. Entah kenapa dia merasa enggak ada yang mengerti dia, atau dia yang tidak mengerti perasaan dan maksud orang lain? Terus berpikir membuat kepalanya terasa semakin nyut-nyutan.
"A.. Minum dulu gih." Gadis yang tadi pergi sekarang kembali dan membawakannya air mineral. Fajar melihat ke arah gadis yang tersenyum kepada dirinya.
"Terimakasih." Bukan tak mampu membeli air minum sendiri, tapi Fajar memang tak ingin apapun saat ini. Meski mengambil air itu dari tangan si neng geulis, Fajar tak langsung membuka dan meminumnya.
"Kenapa tidak diminum a?" Gadis itu mulai perhatian dan sok akrab. Padahal sejak tadi Fajar terkesan cuek kepadanya.
"Iya. Nanti aja."
Gadis itu memperhatikan Fajar dengan seksama. Ganteng. Itu kesan pertama yang dia tangkap dari seorang Fajar. Diam-diam si neng geulis mengambil ponselnya dan membidik ke arah Fajar. Sebuah foto dihasilkan dari keisengan jempolnya saat Fajar terlalu fokus pada jalanan. 'Ieu si aa atuh kasep pisan' Senyum sumringah ditunjukkan si neng saat melihat hasil jepretan kameranya.
Pandangan Fajar makin lama makin ngeblur. Dengan kesadaran yang masih tersisa, Fajar mengambil ponselnya menghubungi nomer perempuan yang berstatus mantan pacarnya. Tidak dijawab. Fajar tersenyum miris, sebenci itukah Meica sama dia? Padahal Meica sendiri yang mengatakan kalau mereka masih bisa berteman dan komunikasi tapi, mungkin itu hanya alasan agar Fajar segera pergi meninggalkannya di depan tempat kerjanya.
Saat Fajar memaksa dirinya untuk berdiri, keseimbangannya oleng. Dia ambruk.
"A.. Aa.. Kumaha ieu teh, duh ieu si aa meuni beurat pisan! A... Kunaon maneh a?" (A.. Aa gimana ini, duh ini si aa mana berat lagi! A.. kenapa kamu a?)
Dengan bantuan dari beberapa orang, Fajar bisa mendapat pertolongan karena memang lokasi taman tempat dia leyeh-leyeh tadi dekat dengan rumah sakit.
---------------\_-
Meica baru sampai rumah. Dia melihat adiknya main ayunan bersama teman sebayanya. Duduk di teras rumah, Meica membuka dan tas mengambil ponsel yang sejak di rumah sakit belum dia sentuh sama sekali. Meica dikagetkan dengan dua panggilan tak terjawab dari nomer Fajar.
'Ada apa? Kenapa Fajar telepon aku ya?'
Baru punya niat ingin menghubungi nomer mas mantan, nomer itu malah menghubungi dia lebih dulu. Tapi, Meica lebih terkejut lagi karena yang berbicara di seberang sana bukan Fajar melainkan suster rumah sakit tempat dia bekerja. Suster tersebut mengabarkan bahwa Fajar tengah dirawat di sana.
"Teteh bade ka rumah sakit heula ki."
Tanpa membuang waktu, Meica membawa motornya melaju ke rumah sakit. Singkatnya, setelah Meica meminjam kekuatan sailormoon gadis manis itu tiba di rumah sakit. Meica sedikit berlari setelah mengetahui Fajar masih berada di UGD.
"Kamu kenapa Jar?"
"Pasien hanya dehidrasi ringan dok. Hb nya rendah dan tensi nya lumayan tinggi.." Suster memberi penjelasan tentang kondisi kesehatan Fajar kepada Meica. Fajar diam. Dia melihat atap ruangan itu. Tadi aja nyariin Meica, pas udah ketemu malah sok jaim.
"Jar.. Jangan bilang kamu enggak makan dari pagi? Kenapa kamu jadi kayak gini..? Ini enggak kayak Fajar yang aku kenal tahu enggak."
Mbak suster keluar setelah mendapat kode dari Meica.
"Ngomong Jar.. Jangan diem aja. Atau kamu lebih suka aku pergi aja? Oke kalau itu mau kamu." Langkah Meica menjauh dari sisi ranjang tempat Fajar berbaring.
"Ca.." Panggil Fajar pelan. Meica menoleh, melihat Fajar dengan posisi yang cukup jauh.
"Maaf aku repotin kamu. Aku ke sini cuma punya satu tujuan, balikan sama kamu! Hanya itu. Aku akan perbaiki semuanya.. Itu bukan sekedar janjiku tapi akan aku buktikan. Ca.. di sini enggak ada yang aku kenal selain kamu dan keluargamu.. Kalau kamu aja enggak peduli sama aku, terus kemana aku harus pergi?" Jangan bilang nyuruh pergi ke rahmatullah ya Ca.
"Kalau aku enggak peduli sama kamu enggak bakal aku ke sini Jar."
Meica sudah ada di dekat Fajar. Tangan Fajar merembet menyentuh jemari lembut Meica.
"Maafin aku.."
Fajar berusaha duduk dari ranjangnya berbaring. Tahu Fajar kesulitan dengan kondisi tangan terpasang selang infus, Meica mencoba membantu dengan menopang tengkuk Fajar agar lebih mudah untuk duduk. Tapi, kejadian seperti di pilem-pilem eptipi pun terjadi.. Meica malah jatuh lepas landas ke pelukan Fajar. Di saat bersamaan suster membuka pintu ruangan itu... Elaaah gagal romantisnya!
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
'Buat semua reader angel!! Maaf othor gabut ini ga bisa konsisten up, dan aku mau ucapin terimakasih untuk semua dukungan kelian yang selalu kasih semangat buat aku. Terimakasih yang sudah gift, vote, like, nonton iklan, ngerate, bahkan sekedar nengok kepoin isi nopel ini pun aku ucapin terimakasih. Semoga jempolnya diberi hidayah untuk mau ikut komen di kolom komentar. Semua komen kelian adalah semangat buat aku. Sehat selalu all❤'