Angel!!

Angel!!
Bab 73. Gelisah



Malam itu, meski memaksa matanya untuk terpejam, Fajar tetap saja tidak bisa tidur. Dia meletakkan tangan kanannya di atas kening, menatap langit-langit atap rumah Meica. Apa yang dia pikirkan sebenarnya sampai segalau


itu?


Padahal setelah tiba di desa Meica tadi pagi, belum semenit pun matanya terpejam untuk beristirahat. Harusnya sekarang ini Fajar tidur dengan lelapnya mengarungi alam mimpi. Apalagi dengan perasaan menghappy karena pergantian status pada dirinya dari single menjadi double. Membuang titel jones yang melekat pada dirinya, karena adanya Meica yang resmi jadi pacarnya. Kalau begitu bukankah keputusannya untuk mengantar Meica pulang ke kampung halamannya adalah merupakan sebuah anugerah untuk Fajar?


Memilih tidur di ruang tamu meski sudah disediakan kamar, Fajar tidak ingin membuat keluarga Meica repot karena hadirnya. Masih belum bisa tidur, dia memilih menyumpal kupingnya dengan headset . Jemarinya lincah memilih lagu yang akan dia dengar.


Tapi, mendadak dia berpindah ke galeri. Melihat foto Ndis di sana. Secepatnya dia taruh ponsel tak berdosa itu di atas bantal. Seakan tak ingin membuat hatinya menjadi rindu akan sosok yang baru saja dia lihat. Sungguh dilema ya Jar? Kesian...


"Belum tidur a?" Tegur ayah Meica yang baru saja selesai menyeduh kopi. Dua cangkir kopi saat ini sudah ada di meja ruang tamu. Satu buat ayah Meica satunya buat othor! Hehehe.


"Belum pak." Fajar langsung duduk dari matras yang dia pakai untuk alas tidurnya.


"Ada yang a Fajar pikirkan?" Tanya ayah Meica menyodorkan secangkir kopi kepada Fajar, ternyata bukan buat othor!


"Ibu Meica kemana pak? Dari datang ke sini kok saya belum ketemu beliau," Tanya Fajar yang belum tahu jika ibu Meica sekarang mempunyai alam yang berbeda dengannya.


Tersenyum, ayah Meica tak langsung menjawab. Menikmati kopi buatannya sendiri, menyesap rasa pahit, asam dan sedikit manis karena efek sejumput gula yang beliau tambahkan di akhir proses penyeduhannya.


"Ibu Ica dan Kiki sudah lama berpulang." Masih dengan senyum yang sama. Memperlihatkan ketegaran hati seorang suami yang ditinggal pergi selamanya oleh sang istri.


Selama berteman dengan Meica di kota, gadis itupun tak pernah membahas tentang kehidupan pribadinya kecuali satu kisah tentang kandasnya hubungan yang dia jalin bersama Rizal.


Mungkin dulu jika Fajar tidak seperti orang kena sawan yang sering melamun akibat putus asa karena sikap cueknya Ndis kepadanya yang nyaris menggerogoti akal sehatnya, Meica juga tidak akan bercerita tentang kisahnya dengan Rizal. Membuat perbandingan jika kisahnya lebih pilu dan nyesek dari pada nasib ngenes yang dialami hati Fajar saat itu.


Tidak ada hal baik yang harus selalu diingat tentang mantan, apapun itu kecuali pelajaran untuk bisa mengiklaskan mereka karena mereka memang tercipta untuk yang lebih membutuhkan. Seindah apapun kenangan bersama mantan, hanya akan jadi boom waktu dalam hati jika terus diingat. So gaess.. Mop on lah, sebelum rumah Spongebob berubah bentuk dari nanas menjadi pisang!


"Iya a.. tidak apa-apa. Dia sudah bahagia di sana, doa kita di sini yang membuat dia damai di keabadiannya."


"Aa juga katanya calon dokter ya? Semoga cita-cita mulia aa dan Ica diridhoi Allah, bisa menolong siapapun dengan ilmu yang sudah Allah amanahkan untuk kelian ya." Tambah ayah Meica mengalihkan pembicaraan tentang almarhumah istrinya.


"Aamiin, insya Allah pak."


Kedua lelaki beda generasi itu larut dalam obrolan ringan, tentang apa saja. Mereka menghabiskan malam dengan mengakrabkan diri.


Tanpa mereka tahu, ada seseorang tengah ikut begadang mendengarkan obrolan kedua lelaki itu. Siapa lagi kalau bukan Meica. Sesekali dia ikut tersenyum karena merasa obrolan antara ayah dan pacarnya itu lucu.


Pacar? Huuuft Meica menghembuskan nafas berat. Hubungan yang baru tadi sore terjadi, acara nembaknya pun enggak ada manis-manisnya. Tapi, entah ikut bodoh apa emang sudah tumbuh rasa berbeda itu untuk Fajar, nyatanya Meica malah menerima pernyataan cinta yang dirasa belum ada kemistrinya antara mereka berdua.