Angel!!

Angel!!
Bab 33. Antara Calon Dokter dan Guru



Hari ini hari pertama Fajar menjalani program profesi koas. Tidak ada bayaran, tidak ada tunjangan apapun selama satu setengah tahun kegiatan tersebut, hanya menjadi asisten dokter senior dan membantu kegiatan medis yang mereka lakukan. Meski begitu Fajar sangat bersemangat.


Bayangan wajah Ndis yang tersenyum untuknya, selalu bisa membuat Fajar seperti orang gila. Seperti mendapat suntikan semangat, dia bisa melewati hari ini dengan lancar.


"Kamu enggak pantes jadi calon dokter, dari tadi senyum-senyum sendiri.. Udah gila ya?" Teguran nyelekit itu menyadarkan Fajar dari lamunannya.


"Maaf.. Apa kita saling kenal?" Fajar mengerutkan keningnya. Jelas Fajar belum pernah melihat atau bertemu dengan sosok itu. Gadis berparas manis itu hanya melengos dan berjalan menjauh saat Fajar bertanya.


Ada apa dengan orang itu? Pikir Fajar ikutan tak peduli saat dia dicueki oleh gadis yang menegurnya tadi.


Sudah sore, rasanya semua kepenatan berkumpul jadi satu. Capek. Fajar melihat ponselnya, mengirimkan pesan untuk Jo dan Ndis juga keluarganya. Seketika ponselnya rame oleh balasan dari mereka. Membaca satu persatu pesan dari sahabat dan keluarganya membuat Fajar senang. Tentu saja senang, karena mereka semua memberi semangat dan dukungan kepadanya.


Karena tidak fokus dengan jalan, hanya melihat ke ponsel terus.. Tak sengaja Fajar menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.


"Haiiis kamu lagi! Bisa enggak sih kalau jalan yang dilihat jalannya bukan hapemu!?" Meski dibentak seperti itu, Fajar tetap meminta maaf karena dia sadar dia yang salah.


"Maaf mbak.. Maaf, ini buku-bukunya mbak.. Sekali lagi aku minta maaf," Setelah membantu memunguti buku cewek yang dia tabrak tadi, dan menyerahkan kepada pemiliknya. Fajar baru sadar ada barang yang terjatuh dan belum sempat diambil oleh pemiliknya. Tapi, si empunya sudah melenggang pergi. Bayangan gadis tadi pun tidak nampak lagi setelah Fajar menyisir pandangannya ke segala arah untuk mencari gadis tadi.


Fajar mengambil id card tersebut, membaca identitas yang terpampang di sana. Nama Meica Queendy, menghiasi id card tersebut. Bermaksud mengembalikan benda penting itu, Fajar segera berlari mencari si pemilik id card yang sekarang dia pegang itu.


Nihil. Fajar tidak menemukan keberadaan gadis bernama Meica Queendy meski sudah menyusuri jalanan agak jauh dari rumah sakit tempat dia magang.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


"Pak Dewa, dapet salam dari mbak Ndis." Lintang senang saat berhasil menciptakan senyum di wajah Dewa saat mendengar nama kakaknya dia sebut. Sudah bisa dipastikan nama Ndis sudah meracuni otak dan hati Dewa.


"Itu kan bisa-bisanya kamu aja. Kakakmu lihat aku aja males kok Ra." Melirik jam tangannya, sudah cukup sore tapi belum ada tanda-tanda orang yang datang untuk menjemput Lintang.


"Ndak usah pak, nanti juga ada yang jemput kok. Aku udah wa mbak tadi tapi, belum dibaca. Mungkin mbak sibuk bantu ibu atau bapak." Mengeluarkan kembali ponselnya untuk mengecek aktif atau tidaknya nomer Ndis.


"Laaaah.. Nomernya mbak Ndis kok enggak aktif," Pelan Lintang berucap tapi cukup jelas terdengar di telinga Dewa.


"Ya udah aku anter aja ya? Nanti kalau ketemu kakakmu di jalan, kamu pulang bareng dia enggak apa-apa. Udah makin sore, juga. Ayo!" Lintang menimbang sesaat mau menerima ajakan Dewa atau bersikukuh tetap menunggu mbaknya datang menjemputnya. Akhirnya dia mengangguk tanda setuju.


"Pak.. Pak Dewa tahu enggak, mas Fajar sekarang lagi di luar kota. Lagi lanjutin pendidikan biar bisa jadi dokter." Lintang mulai mengoceh di atas motor Dewa tanpa di suruh.


"Wah hebat dong, calon dokter.. Profesi yang mulia." Menjawab dengan datar. Lha mau ngomong apa, Dewa sendiri bingung.


"Hiih bukan gitu pak, maksudku tuh saingan pak Dewa sekarang berkurang bahkan enggak ada! Pak Dewa harusnya bisa ambil kesempatan ini buat deketin mbak Ndis! Lagian guru juga kan profesi yang mulia, mendidik dan mencerdaskan anak bangsa yang imut, manis kayak aku hahaha!"


Bisa ditebak over pedenya Lintang itu menular dari siapa! Dewa hanya tertawa santai menanggapi ucapan Lintang barusan.


Sebagai lelaki dewasa yang udah pro dalam bidang percintaan, Dewa tahu harus apa. Enggak perlu mepetin terlalu getol, dan terkesan nguber-nguber, bikin risih dan ngap targetnya aja. Cukup ada saat dibutuhkan, meski kadang kerinduan itu muncul tak kenal waktu, Dewa cukup sadar akan posisinya. Menjadi teman yang baik dan membuat target nyaman adalah prioritasnya saat ini.


"Pak Dewa enggak ada niatan lamar mbak Ndis gitu?" Pertanyaan spontan Lintang langsung membuat Dewa mengerem motornya.


"Belum. Nanti ya." Berusaha menetralkan debaran jantungnya karena pertanyaan nyeleneh dari bocah yang duduk di jok belakang motornya, dan kembali melajukan motor pelan.


Lintang malah tertawa karena bisa membuat calon kakak ipar kaporitnya (favoritnya) grogi sampai salah tingkah seperti tadi. Hmm dasar bocah!


Dalam diamnya, Dewa juga berpikir.. Saatnya bergerak brother!!