Angel!!

Angel!!
Bab 31. Pergi Untuk Kembali



"Netaaaa... Net, kamu di mana?? Net!!" Teriakan Rizna membuat pagi indah Neta jadi kayak orkes panci dan wajan yang berjatuhan karena gempa.


"Apa sih Riz? Berisik banget! Kamu udah mirip kayak cewek linggis yang onoh tahu enggak! Bar-bar, arogan! Ada apa hah, ada apa??" Menjawab dengan sewot. Tak sadar diri dia lebih bar-bar dan arogan dari pada orang yang dia katai!


Rizna mengeluarkan hapenya. Menunjukkan pesan dari Yuni, yang langsung membuat mata Neta melebar sempurna.


"Apa iniiii??" Neta sedikit berteriak.


"Hiiih, biasa aja dong! Suara model bajaj ngebut gitu kok masih pakai teriak di deket kupingku!!" Rizna menggosok telinganya yang berdenging setelah mendengar Neta berteriak cukup kencang.


"Ayangku mau pergi?? Enggak bisa!! Ini enggak bisa dibiarin, ayang pergi enggak pamit aku?? Wah ini enggak bisa!!" Neta berhambur menuju kamarnya, mengambil tas dan kunci motor. Tanpa menyadari masker charcoal hitam pekat masih menempel di mukanya.


"Heeeh Net, kamu mau kemana??" Rizna mengejar Neta yang sudah berada di atas motornya.


"Nyamperin ayang lah!! Masa ayang mau pergi tapi enggak pamit aku dulu,, Dia anggep aku ini apa??" Masih tak sadar dengan penampilannya yang bisa membuat anak kecil sawan saat melihatnya.


"Aku yakin Fajar akan anggep kamu salah satu penghuni Lawang Sewu kalau kamu nekat nemuin dia dengan muka seperti itu!" Segera Neta melihat ke arah kaca spion dan berteriak histeris.


Ya salam.. Dia lihat mukanya sendiri aja jejeritan kayak gitu, bisa-bisanya mau nemuin Fajar. Pikir Rizna sambil tepok jidat.


Beberapa menit setelah kejadian gaje itu, Neta langsung menggeber motornya menuju rumah Fajar. Tujuannya satu, bertemu Fajar!


Di tempat lain, Jo dan Ndis sudah ada di rumah Fajar. Hari ini adalah hari di mana Fajar harus pergi dari desanya untuk menjalani program profesi atau koas.


Tidak ada yang mengharapkan perpisahan tapi, jika itu untuk kebaikan dan masa depan yang Fajar impikan, Jo dan Ndis pasti mendukungnya.


"Cepet kelarin pendidikan mu, di sini Ndis aku yang jaga. Enggak usah khawatir!" Jo menepuk pelan pundak Fajar.


"Justru karena kamu yang jagain Ndis aku jadi khawatir! Kamu jaga diri sendiri aja keder, apalagi jagain Ndis." Masih bisa menjawab dengan nyebelin.


Segaris senyum muncul di wajah Fajar mendengar ucapan Jo. Saat Fajar melihat Ndis, gadis itu terlihat diam tanpa ekspresi. Fajar mendekati Ndis.


"Enggak usah sedih Ndis, aku pergi untuk kembali! Untuk kamu, untuk keluarga ku, untuk kelian semua.." Fajar meraih tangan Ndis.


"Siapa yang sedih?" Memalingkan muka saat tangannya digenggam Fajar.


"Satu setengah tahun itu cepat, saat kamu belum sadar aku pergi.. Aku udah ada di sini lagi untuk kamu." Seperti mengulang ucapannya, Fajar hanya ingin menghibur Ndis.


"Mok kiro aku pingsan apa.. Pakai bilang belum sadar."


Saat Ndis sedih seperti ini, Fajar berusaha menghiburnya, tapi sebenarnya Fajar pun butuh sandaran dengan perpisahan mereka ini. Hanya saja Fajar tak mau memperlihatkannya.


Enggak ada drama peluk-pelukan, hanya lambaian tangan saat mobil yang mengantar Fajar bergerak menjauh. Tapi, sesaat mobil itu kembali berhenti. Fajar turun dari sana. Menghampiri Ndis yang tertunduk mencoba menyembunyikan air matanya.


"Maaf.. Aku butuh ini, kamu boleh nampar aku setelahnya.." Fajar menarik tangan Ndis dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


Agak kaget dengan ulah Fajar tapi dia justru membalas pelukan itu. Beberapa pasang mata menyaksikan drama Teletubbies mereka pasti maklum kenapa mereka sampai seperti itu. Persahabatan yang dijalin dari kecil dan belum pernah terpisahkan oleh apapun, sekarang musti diuji oleh jarak.


"Jar.." Ucap Ndis pelan. Fajar melihat mata Ndis berkabut.


"Ya," Fajar menjawab dengan suara bergetar.


"Jaga kesehatan di sana ya," Tak ada kata lain lagi yang terucap, hanya itu.


"Iya." Setelah balasan singkat itu, Fajar benar-benar kembali masuk ke dalam mobil dan pergi dari pandangan mata Ndis.


"Enggak usah ditangisi Ndis, dia pergi untuk menuntut ilmu, meraih cita-citanya. Dia pasti juga merasa berat ninggalin kamu. Kita doakan semoga koas nya cepat selesai dan dia bisa kembali ke sini, kumpul sama kita." Ucap Jo yang kebetulan sudah mengupgrade kewarasannya sehingga bisa berkata demikian.