Angel!!

Angel!!
Bab 52. Keributan



Ndis dengan motornya bergerak menuju toko roti yang dimiliki ibunya di seberang desa. Perjalanan panjang tidak terasa karena hijaunya pemandangan di samping kanan dan kirinya. Banyak pohon, serta persawahan yang terlihat sangat asri.


Tiba di tempat tujuan, Ndis langsung memasuki toko milik ibunya. Dia disambut karyawan yang bekerja di sana. Ndis langsung menuju dapur.


Konsep toko itu seperti kafe yang tidak hanya menjual makanan dengan olahan tepung. Sudah dibahas di episode panjang nan berliku kemarin ya gaess! Yang masih bingung banyangin aja restoran kraby patty. Nah kek gitu!


"Mbak.. Sini aku saja, baru datang kok malah langsung ke dapur." Salah satu karyawan toko menawarkan diri untuk bersibuk ria membuat adonan roti. Eleeeh mbaknya.. kenapa enggak dari tadi lho hmmm!


"Ndak usah. Ini juga kan biasa aku yang buat. Mbak, kamu ke depan aja. Siapa tahu ada pembeli." Ndis tersenyum seraya menolak bantuan dari si mbak karyawan.


Patuh kepada bos adalah sikap wajib yang harus dimiliki semua karyawan wahai sodara. Kalau enggak mau manut, ngeyelan, dan kang bantah.. Enggak usah kerja! Para bos juga mikir-mikir mau terima manusia yang langsung membuat naik tensi darah model gitu itu!


Baru beberapa menit ada di luar, si mbak karyawan masuk lagi ke dalam dapur. Mengambil sapu dan kain pel, sudah dipastikan dia akan membersihkan toko tempatnya bekerja. Ndis membiarkan saja si mbak melakukan tugasnya.


Menunggu kue yang dia buat matang dan keluar dari oven, Ndis memainkan jarinya di ponsel pintar miliknya. Seulas senyum terukir saat dia membaca pesan dari Fajar. Orang itu, meski jauh selalu saja bisa membuat Ndis bahagia dengan caranya.


Sedang asyik dengan acara berbalas pesan dengan Fajar, Ndis dikagetkan dengan keributan di tokonya. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Ndis berjalan menuju lokasi keributan yang sebenarnya hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya sekarang berada.


"Ada apa mbak?" Tanya Ndis kepada mbak karyawan.


"Ngadu aja ngadu!!" Suara lantang dari seseorang yang sudah dipastikan adalah biang dari keributan yang terjadi.


"Oooowh pantes, temen kerjamu di sini bibit pelakor sih! Orang nyebelin yang bisanya cuma ngerusak kebahagiaan orang lain!"


Nyolot, nyelekit, binti nyebelin! Neta! Bagus kelian mulai apal sifat manusia satu itu.


"Ada apa?" Ndis mengangkat kepalanya memandang lurus ke arah Neta.


"Apanya yang ada apa?? Aku ke sini buat ambil pesanan cup cake ku!! Tapi, nyampe sini ternyata pesenanku belum jadi. Belum disiapin!! Belum dibikinin!! Kelian ini pegawai yang enggak berdedikasi banget dalam bekerja!! Buang-buang waktu aku ke sini!!" Neta ngamuk.


"Kapan kamu pesan?" Ndis memeriksa ponselnya, tidak ada notifikasi apapun di sana. Jika ada pelanggan yang memesan kue atau apapun dari toko ibunya, Ndis pasti tahu karena ibunya menyerahkan pesanan berbau daring dan delivery kepada Ndis. Meski kepalanya udah ngebul oleh emosi yang sengaja diciptakan Neta untuk Ndis, Ndis masih bisa santai menghadapi arogansi seorang Neta.


"Tadi lah!!" Bentak Neta kasar.


"Biasa aja ngomongnya, enggak usah teriak-teriak. Aku enggak budek. Aku bisa denger kamu ngomong, enggak usah pakai urat!" Ndis masih memeriksa ponselnya. Nihil tidak ada pesanan cup cake atas nama Neta.


"Ya namaku lah!! Panggil owner toko ini, biar aku komplen ke dia dan mecat kamu yang enggak pecus kerja!"


Sambil berdecak pinggang Neta berusaha menggertak Ndis dan mbak yang bertugas menjaga toko kue itu. Dia enggak tahu aja kalau Ndis lah anak dari pemilik toko yang sedang dia jadikan ajang ngereognya.


"Sebenarnya apa masalahmu sama aku? di manapun ketemu, kamu selalu aja nyari masalah sama aku! Hobi atau emang kamu segitu ngefansnya sama aku hmm nyampe segitunya semangat ingin dapat gamparan dari aku?!" Neta melebarkan matanya mendengar perlawanan dari Ndis.


"Heh!! Kamu ini cuma kacung ya, sopan kalau ngomong sama customer! Nantang aku hah? Kalau kamu dipecat dari sini, kamu bakal jadi gembel tahu enggak!!" Neta udah siaga empat! Siap nerkam siapapun di depannya yang dirasa adalah ancaman untuknya.


"Mbak.. gini aja mbak.. tadi mbaknya pesen cup cake apa? Biar aku yang siapin." Kata mbak penjaga toko menengahi. Berusaha menjadi orang paling waras di sini. Tapi, bukan hal baik yang didapatkan oleh si mbak, dia malah dibentak-bentak oleh Neta.


Ndis tentu tidak terima, enggak ada angin enggak ada hujan tiba-tiba Neta datang dan mencak-mencak cari masalah di toko ibunya. Tentu aja dia enggak akan tinggal diam.


"Kamu boleh gila, kamu boleh kehilangan seluruh kewarasan mu dan menyisakan secuil kepintaran meski itupun juga tidak berfungsi dengan baik! Tapi, coba bersikap seperti manusia yang pernah mengenyam pendidikan! Meski aku ragu, kamu ini lulus sekolah karena prestasi atau guru-guru mu terpaksa ngelulusin kamu karena enggak betah sama kelakuanmu! Takut ketularan gila kalau terlalu lama ngajar kamu di sekolah."


"Heeeeehh!!!!-" Neta kembali diam saat jari telunjuk Ndis ada di depan mukanya. Memberi isyarat agar Neta diam.


"Sebelum kamu ngamuk-ngamuk di sini, merusak fasilitas yang ada di toko ini, mending kita keluar! Selesaikan di luar!" Tantang Ndis.


"Kenapa?? Kamu takut dipecat hah? Hahaha.. Gembel bersertifikat halal dari MUI kayak kamu sok-sokan mau lawan aku! Aku malas buang waktu sama bibit pelakor kayak kamu!!"


"Heeh kamu yang dari tadi diem aja! Siapa pemilik toko ini?? Aku mau aduin dia karena kelakuan enggak terpuji yang udah menyakiti hati murniku!! Biar dia dipecat!!" Hedeeeh Net...


"Maaf mbak.. Sebenarnya pemilik toko ini ada di depan mbak sedari tadi. Toko ini milik mbak Gendis." Jawab si mbak karyawan sambil menatap mantap ke arah Neta.


Neta melotot. Seakan enggak percaya, kok bisa Ndis punya toko roti yang selama ini jadi langganannya. Sejak kapan!? Ini pasti hoax!


"Enggak usah bercanda kamu ya, sejak kapan toko ini jadi punya dia?? Di depan itu terpampang nyata tomprang nama pemilik toko ini! Shela G n S!! Bohong aja kamu ya!? Biar apa? Mau melindungi mahkluk kembaran Anoman ini hah??" Berusaha menutupi gugupnya.


"Mbak.. Shela itu ibu dari mbak Ndis. Beliau kasih nama tokonya Shela G n S itu singkatan dari kedua anaknya. G untuk mbak Gendis yang sekarang ada di depan mbaknya, dan S untuk Syahira anak kedua ibu Shela. Toko ini dipercayakan bu Shela kepada mbak Ndis. Dengan kata lain, mbaknya sekarang sedang bicara langsung sama anak dari pemilik toko ini."


Penjelasan dari mbak karyawan membuat Neta melongo. Matanya berkedip beberapa kali, mencerna informasi yang tadi diterimanya.


Alih-alih meminta maaf dengan segala keributan yang barusan dia ciptakan, Neta justru berlalu pergi tanpa mengucapkan apapun. Dia masih enggak percaya kalau Ndis bukan kaum gembel seperti yang selama ini dia tuduhkan.