
Pandangan mata Fajar bertemu dengan ayah Meica. Cepat-cepat Fajar menyalami ayah Meica disusul Rizal yang tak mau kalah terlihat sopan di depan ayah Meica.
"Kapan ke sini a? Ayo masuk sadayana" Ajak ayah Meica untuk kedua lelaki yang sekarang saling melemparkan pancaran hyper itu.
Sebelum masuk ke dalam rumah, Meica menarik tangan Fajar agak keras. Fajar mengerutkan keningnya, seakan bertanya 'ono opo? '
"Kalau ngomong dipikir dulu!" Ujar Meica.
"Aku salah apa?" Fajar enggak ngerti maksud pertanyaan Meica. Entah dia ini termasuk golongan orang yang enggak peka atau pekok (oon).
Meica memalingkan wajah malas sambil menghela nafas jengah. Meninggalkan Fajar yang masih berpikir 'Ada yang salah? Kenapa dia tiba-tiba ngamuk kayak gitu?'
"Punten A Rizal, Abah mah moal ngical sawah." (Maaf a Rizal, sawah itu tidak akan abah jual.) Memang sudah lama abah tidak menggarap sawah tersebut tapi, untuk menjualnya.. abah tidak pernah berpikir sampai sana." Senyum itu tercipta dari wajah teduh
"Muhun atuh Bah, ku abdi ke didugikeun ka mamang. Upami kitu, abdi bade wangsul heula. Ieu aya titipan ti mamang." (Begitu ya bah, aku akan sampaikan ke paman. Kalau gitu, aku tak pulang dulu. Ini titipan dari mamang.)
Abah mempersilahkan Rizal pulang. Meica dan Fajar yang sedari tadi menunggu di beranda rumah segera masuk setelah tahu Rizal sudah pulang. Tidak ada obrolan antara Rizal dan Meica. Hanya pandangan mata mereka yang sekilas bertemu, itupun hanya beberapa detik. Rizal langsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Begitu juga dengan Meica.
"Kamu masih ke ingat masa lalu bareng dia?" Tanya Fajar setelah tadi sempat melihat adu pandang yang terjadi antara Rizal dan Meica.
"Enggak lah. Apa sih kamu ini!" Dengan langkah cepat Meica masuk ke dalam rumah. Fajar hanya diam menatap punggung Meica tanpa berniat mengikutinya.
Masih duduk di teras rumah Meica, Fajar berpikir sepertinya dia salah memilih waktu berkunjung. Jauh-jauh dia ke rumah Meica, berharap hadirnya mampu melepas rindu diantara keduanya tapi, memang benar.. kenyataan selalu tak sesuai ekspetasi. Hanya karena kedatangan Rizal yang baru beberapa menit ke sana, Meica seakan mengacuhkan keberadaan Fajar di rumahnya.
"Aa kenapa masih di luar? Ayo masuk a." Kiki menghampiri Fajar.
Senyum dan gelengan kepala pelan menjawab pertanyaan Kiki. Dari dalam muncul ayah.
"Ki.. Tadi main apa? Kalau mainannya teu diberesin deui nanti dimasukin karung sama teteh lho." Mendengar mainannya terancam keselamatannya, Kiki langsung berlari ke dalam rumah guna menyelamatkan mainannya yang berserakan di ruang tamu sebelum tetehnya beneran masukin semua mainannya ke dalam karung dan membuangnya.
"Aa.. Sampai sini jam berapa?" Tanya Ayah berwibawa.
"Tadi yah, ayah bagaimana kabarnya?" Basa-basi itu penting gaess!
"Neng, teteh kamana?" Tanya ayah kepada Kiki yang sekarang sibuk dengan krayon dan buku gambarnya.
"Di dapur yah. Bikinin minum buat aa ceunah." Jawab Kiki sekedarnya tanpa melihat ke arah ayahnya. Gadis kecil itu terlalu fokus dengan kegiatan mewarnai dengan imajinasi yang dia ciptakan.
Meica keluar dari dapur dengan membawa dua cangkir teh dan camilan yang di taruh di meja. Raut mukanya cemberut. Ayah mengerti jika kedua anak muda ini perlu waktu untuk bicara, sehingga beliau mengajak Kiki untuk menepi ke samping rumah.
"Kamu kenapa? Maaf kalau aku ada salah, kayaknya aku ke sini bukan bikin kamu seneng malah bikin mood kamu hancur." Mengatakan demikian, Fajar beranjak dari duduknya. Kekecewaan jelas terpancar nyata di wajah Fajar.
"Mau ke mana?"
"Pulang."
"Pulang ke mana?" Fajar melihat ke arah Meica. Tanpa menjawab.
"Jar.. Jujur aja aku enggak suka sifat clemang-clemong mu. Apa yang buat kamu tiba-tiba bilang aku ini calon istrimu? Atau kenapa kamu dengan mudahnya nuduh aku masih mengingat masa lalu bareng dia?" Dengan sedikit ngegass Meica meninggikan suaranya.
Akhirnya Fajar paham kenapa Meica cemberut sedari tadi. "Kamu mau sekedar pacaran aja sama aku? Bukannya orang pacaran itu untuk mengenal sifat dan karakter masing-masing? Menyesuaikan diri sebelum memutuskan melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius? Kamu pikir aku bercanda saat minta kamu jadi pacarku? Jarak dari tempatku ke sini bukan main jauhnya, dan kamu pikir demi apa aku ke sini?"
Baru kali ini Meica mendengar Fajar ngomel.
"Aku hanya tanya, apa kamu masih mengingat mantanmu itu.. Ada yang salah dengan pertanyaan ku? Aku bukan menuduh, kalimatku yang mana yang menjurus aku nuduh kamu?" Kembali Fajar membuat Meica diam di tempat.
"Ca.. Kayaknya kita harus sama-sama introspeksi diri dulu. Omonganku kamu respon berbeda, tanpa bertanya kamu udah marah-marah.. Bahkan terang-terangan kamu tunjukkan itu di depan ayahmu. Aku pulang dulu Ca.."
"Jar.." Meica meraih tangan Fajar.
"Aku enggak marah Ca. Udah hampir malam, enggak mungkin aku nginep di sini." Ucap Fajar mengusap pelan rambut Meica.
"Maaf Jar.. Mungkin aku yang terlalu sensitif kalau bahas tentang Rizal. Aku-"
"Kenapa? Ca.. Kamu sering bilang aku jadiin kamu batu loncatan karena kamu mikir aku belum bisa move on dari Gendis.. Dan aku selalu bilang, untuk melupakan itu enggak mungkin tapi aku selalu jujur dan berusaha membuka hati sama kamu.. Tapi, kayaknya sekarang aku perlu mempertanyakan hatimu. Apa benar ada aku di sana?" Fajar menyipitkan matanya.