Angel!!

Angel!!
Bab 95. Sedih



Ndis menatap nanar pada nisan di depannya. Dia telah menaburkan bunga di atas makam itu. Fajar memegang pundak Ndis guna menenangkan gadis itu. Perasaannya campur aduk.. Sebelumnya Dewa memberi dia amanat untuk menjaga Ndis. Lalu gimana dengan Meica. Dia juga enggak mungkin ninggalin Meica, selama ini Meica lah yang selalu menemaninya saat dia terpuruk karena belum bisa move on dari Ndis. Dan sekarang, apa dia harus ninggalin Meica?


"Ayo Ndis pulang.." Ajak Fajar dengan Hati-hati.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Ndis langsung berjalan meninggalkan makam yang tadi dia taburi bunga.


'Aku akan selalu menjaga hatiku buat kamu mas, aku enggak akan berpaling, aku tetap sayang kamu.. Apapun yang terjadi.'.


Sampai di rumah, Ndis masih diam. Tak ada tawa atau seulas senyum seperti biasanya. Lintang yang melihat kakaknya seperti itu menjadi sangat iba. Tak hanya Lintang, kedua orang tua Ndis juga merasakan kesedihan yang tengah dirasakan putrinya.


"Mbak.. tadi udah makan? Makan dulu yuk. Ibu tadi masak pepes kesukaan mbak Ndis."


Fajar dan Lintang saling pandang saat Ndis tak merespon perkataan Lintang. Jo yang sudah ada di sana sejak tadi juga bingung musti ngapain.


"Jar kamu enggak balik ke rumah sakit?" Tanya Jo memecah keheningan.


"Enggak. Di sana udah banyak dokter." Jawaban dari Fajar yang terbilang cuek mendapat pandangan mencekam dari Ndis.


"Kamu balik ke rumah sakit sana! Tolong orang sebanyak yang kamu bisa. Kamu enggak boleh egois dengan tetap di sini dan mengabaikan tugasmu sebagai dokter. Banyak orang yang butuh pertolonganmu! Kamu harus pikirin itu!" Akhirnya suara Ndis terdengar.


"Aku tugas jaga malam Ndis." Fajar lega akhirnya Ndis mau merespon obrolan mereka.


"Eh kok pada ngumpul di sana, ayo masuk! Nduk, ayo Fajar sama Jo diajak masuk. Kita makan bareng di dalam." Shela menyuruh kedua putrinya mengajak kedua temannya masuk ke dalam rumah guna makan bersama.


"Kelian masuk aja. Aku mau ke toko." Ndis menghampiri ibunya untuk meminta ijin pada beliau untuk pergi ke toko.


"Aku antar Ndis." Tawar Fajar.


"Kamu ke rumah sakit aja Jar. Aku bukan bocah, aku bisa ke sana sendiri. Lin, ajak Jo masuk ke dalam."


"Eh enggak lah, aku belum laper." Kata Jo mengelak.


"Kamu mau dikata calon mantu durhaka sama ibuku? Belum apa-apa aja udah ndablek! Sana masuk, kesian ibuk udah nyiapin makanan, sayang kalau dianggurin." Setelah mengatakan itu, Ndis menaiki motornya. Bermaksud mengendarai motor sendiri.


Sebelum membuka pintu toko, Ndis teringat Dewa. Lelaki itu selalu tersenyum padanya saat dia mengantar atau menjemput Ndis bekerja. Dia selalu duduk di atas motornya memastikan Ndis beneran masuk ke tempat dia bekerja setelah itu baru Dewa memutar motornya untuk kembali ke rumah.


Air mata itu jatuh saat dia tidak menemukan motor Dewa di deretan motor yang terparkir di depan tokonya. Cepat-cepat Ndis mengusap air matanya dan masuk ke dalam toko.


Tak disangka, di sana sudah ada Neta yang tersenyum devil melihat Ndis datang. Ndis tak menggubris adanya sosok yang dianggap demit menurutnya.


"Nah datang juga kamu, sini sini duduk sini! Butuh hiburan enggak? Aku tahu kamu lagi sedih lah ya, jadi aku ke sini buat nambah kesedihan kamu, ups hihihi buat hibur kamu maksudku. Kurang baik apa coba aku? Kayak gini kamu masih nilai aku orang yang menyebalkan?" Ndis berjalan tanpa memperdulikan ocehan Neta. Bukan takut, moodnya beneran hancur. Dia tahu Neta datang hanya untuk memancing emosinya saja.


"Heeeh!! Enggak sopan kamu ya!! Sini enggak!!" Mulai deh gilanya.


"Apa sih mbak? Teriak-teriak, berisik tahu enggak!" Tukas pelanggan lain yang merasa terganggu dengan hadirnya Neta yang mulai ngereog.


"Berisik-berisik apa? Kalau enggak suka aku ngomong keluar aja dari sini, enggak ada yang minta kamu dengerin aku juga. Suka amat bikin bete orang, pergi sana pergi huuust!" Neta berlagak seperti pemilik toko.


Melihat apa yang terjadi di dalam toko, Fajar langsung masuk ke dalam toko. Dia tidak ingin Neta memperburuk suasana hati Ndis. Lagi pula harus ada orang yang membuat Neta minggat dari sana sebelum ngamuk dan makan gelas piring di toko Ndis.


"Heh kudis, sini kamu!!!" Ganti lagi nama panggilan Neta untuk Ndis. Kali ini lebih tidak manusiawi. Masa cewek manis semanis Beby Tsabina di kata kudis, pelecehan sekali!


Merasa bukan namanya yang dipanggil, Ndis tak menggubris teriakan Neta. Neta gemas karena dicueki dengan langkah cepat menghampiri Ndis yang ada di meja kasir.


"kamu budek ya? Oiya aku denger cowokmu itu mati? Mungkin nih ya.. Mungkin, dia enggak betah sama kamu. Sampai dia ninggalin kamu jauuuuuuuh, saking jauhnya nyampe dia ogah balik lagi ke sini buat kamu. Hahaha kok miris ya." Ucapan Neta terasa sangat panas di pendengaran Ndis.


"Jangan asal ngomong Net. Jadi orang mbok ya sedikit aja punya perasaan! Ndis lagi sedih kamu tahu kan, bisa enggak jangan cari masalah?!" Fajar emosi melihat kelakuan Neta.


"Eh ayank.. Ini juga aku punya perasaan yank, tapi rasa aku cuma buat kamu hihihi. Buat dia!! Yang aku punya cuma rasa benci!" Neta menunjuk dan memandang sinis pada Ndis.


Fajar segera menarik tangan Neta keluar toko. Karena dia juga tak mau Neta membuat keributan di sana.


"Ayank enggak usah buru-buru ih.. Kamu enggak sabaran amat sih," Fajar langsung melepas pegangan tangannya.


"Jangan ganggu Ndis Net! Aku serius!!" Sorot mata Fajar menatap Neta tajam.