
Beberapa minggu setelah kejadian di tempat tongkrongan Fajar cs waktu itu keadaan aman terkendali. Tidak ada gonjang-ganjing yang berarti. Yang pacaran makin mesra, yang pedekate makin lengket, yang jones makin ngenes.
Ya ngenes! Itulah yang dirasakan Neta. Dia kesepian lho aslinya. Kawan tak memihak padanya, orang tuanya selalu sibuk sendiri, gebetan juga sedang jauh di mato!
Rasanya lelah menyelimuti jiwanya, selalu bikin kekacauan, yang tidak menghasilkan apapun. Rasanya hidupnya flat sekali.
Dengan perasaan gundah gulana, Neta melangkahkan kaki ke deretan toko yang menjual berbagai macam barang apa aja ada. Dia lagi di pusat perbelanjaan. Entah apa yang mau dia beli atau dia cari, hanya dia yang tahu. Dia bisa gabut juga ternyata.
Dengan berjalan santai, tiba-tiba dia dikagetkan oleh sosok yang menabraknya dari arah depan. Sorot mata tak bersahabat langsung tercipta di mata Neta. Apalagi melihat pelaku yang menabraknya itu malah tersenyum tanpa dosa.
"Mata dipake!! Jalan itu enggak cuma ngandalin kaki!!" Bentak Neta kesal.
"Harusnya kalimat itu aku yang ucapin lho. Kamu yang meleng kok, jalan lihat depan tapi ada orang segede gini masih aja ghoib di matamu." Rama. Dia cuek aja dengan semua rentetan hujatan dari Neta. Karena dia juga udah terbiasa dengan hal itu.
"Karena kamu enggak penting!!" Sergah Neta cepat. Dengan langkah lebar Neta berusaha meninggalkan Rama dengan keplongoan yang menyelimuti hati Rama. Enggak biasanya Neta ngalah... Hmm menarik! Pikir Rama tersenyum.
Neta ingat terakhir kali berdebat dengan Rama selalu berakhir dengan kecupan yang Rama layangkan ke bibirnya. Dia enggak mau lelaki iyuuuuuh itu kembali melakukan hal di luar akal sehat kepada bibir seksinya. Jelas asetnya yang satu itu telah jadi langganan berkunjung Rama sekarang ini jika keduanya melakukan sesi perdebatan. Dulu Rama adalah cowok cupu yang selalu nurut dengan semua titahnya. Tapi sekarang, Rama berubah jadi cowok mesum yang selalu ngincer bibir Neta.
"Apa sih? Aku buru-buru. Singkirin tangan berkuman mu itu dari tangan suci ku!!" Ucap Neta saat merasakan tangannya ditarik Rama.
"Enggak sebelum kamu ikut aku." Perintah Rama.
Seorang Neta disuruh-suruh? Wah sepertinya ada yang enggak beres dengan otak Rama sampai kembali mendekati gadis kunti itu.
"Aku teriak nih kalau kamu enggak lepasin tanganku! Biar abis kamu digebukin sama orang sini!" Meski berucap demikian, Neta tetap mengikuti langkah Rama menarik tangannya. "Kamu budeg ya?? Lepasin!! Dasar sableng!!" Kembali suara Neta terdengar.
Bukannya melepaskan, Rama malah semakin erat menggenggam jemari lentik Neta. Menyatukan dengan jemarinya. Membuat kesan mesra siapapun yang melihatnya.
"Duduk." Rama menyuruh Neta duduk di sebuah toko warung bakso di ujung pertokoan dekat tempat parkir motor.
"Ogah!" Tak kalah garang, Neta langsung mengambil tisu di meja itu dan cepat-cepat mengelap tangannya yang terasa panas berkeringat karena genggaman Rama barusan.
"Mau makan apa mas mbak?" Tanya karyawan warung bakso itu ramah.
"Kamu nanyeeaaak hmm??? kamu bertanya tanyeaaak???" Mode mercon yang udah diupgrade jadi boom rakitan saat Neta menjawab pertanyaan pelayan warung itu. Neta memutar bola matanya malas.
Si mbak yang kebingungan dengan sikap dan jawaban Neta, lantas melihat ke arah Rama yang mengisyaratkan untuk membawa dua mangkuk bakso aja ke meja mereka. Mengerti, si mbak langsung melipir pergi dengan tujuan membuatkan pesanan dua makhluk itu.
"Net, kamu bisa enggak bersikap sewajarnya?" Rama membukakan tutup botol air mineral untuk Neta. Menyodorkannya ke arah cewek judes itu.
"Jangan mikir hanya karena aku mau diajak ke sini, terus kamu bisa ngatur-ngatur aku sesukamu ya?! Haaaah.. Kenapa hidupku kayak gini amat sih, ngeselin!! Orang yang aku sayang sulit banget aku deketin, orang yang enggak penting hadirnya kayak kamu malah nempel mulu kayak lem lalat." Meski ngomel-ngomel, Neta tetap meminum air mineral yang Rama berikan padanya.
Rama menautkan alisnya. Enggak biasanya Neta mau menerima pemberian orang lain.
"Kamu kok mau minum air yang aku kasih? enggak takut air itu aku ambil dari tujuh kobokan, dengan jampi-jampi tujuh dukun, atau aku campur rendaman kaos kakiku tujuh hari? Dulu kamu paling anti dapet apapun dari orang lain."
Seketika air yang belum turun ke tenggorokan langsung nyembur membasahi wajah Rama. Rama pasrah mengelap mukanya dengan tisu yang ada di depan mereka. Wes bau jigong deh itu muka!
"Kalau sampai aku keracunan atau masuk rumah sakit gara-gara air dari mu ini, aku pastiin seumur hidupmu harus diabdikan untuk jadi pelayanku!!" Mungkin Neta menganggap dirinya ratu di negeri yang dia ciptakan sendiri.
"Kamu pikir kamu ini anak presiden? Calon ratu? Atau seseorang yang punya derajat setinggi itu sampai ngasih titah buatku untuk jadi pelayanmu? Net.. Bangunlah dari fantasi mu! Sadar,,, ini bukan dunia halu. Ini real.. Dan hidupmu mungkin terlalu banyak nyemil micin. Setiap orang harus patuh sama kamu, itu yang kamu mau? Come on baby, jangan kayak anak kecil! Umurmu berapa? Masih belum bisa berpikir dewasa juga. Mau aku ajari beberapa hal agar kamu bisa sedikit lebih dewasa?!"
Rama memperhatikan mimik wajah Neta yang memancarkan aura kemarahan yang tertahan. Merah menyala kek baju partai!
"Diem!! Aku enggak suka diceramahi, aku-"
Ucapan Neta terhenti oleh gerakan bibir Rama yang berucap tanpa suara karena adanya si mbak pelayan yang kebetulan datang membawa pesanan mereka.
'Mau aku cium di sini? Aku serius!'