Angel!!

Angel!!
Bab 111. Hari Istimewa



Untuk pertama kalinya, Fajar dan Meica go public. Di hari istimewa untuk Ndis dan Dewa mereka datang bersama menghadiri pesta penyatuan janji suci Dewa dan Ndis.


Acara ijab qobul tadi siang berjalan lancar jaya. Sekarang tinggal acara resepsi yang dihadiri banyak tamu undangan dari kedua belah pihak keluarga.


Yang paling menarik adalah Neta datang ke acara resepsi itu. Tak ada atmosfer permusuhan lagi diantara Ndis dan Neta. Rama menceritakan semua hal yang dialami Neta kepada Dewa dan Ndis saat ketiganya berkumpul.


Kala itu Rama meminta ijin kepada Dewa untuk memakai rumah lama Dewa agar bisa ditempati Neta sementara waktu. Neta dengan segepok gengsinya enggak mau diajak tinggal bersama Elis di rumah Elis yang terletak di samping salon mungil langganan Neta dulu. Alasannya? Dia tak mau jadi beban untuk Elis.


Dan saat Sinta, adik Rama mengajak Neta tinggal bersama dengannya di rumah keluarga Rama tentunya, Neta juga menolak hal itu. Ya kali mau serumah sama Rama tanpa status yang jelas. Lha mau diajak ke arah yang lebih jelas aja dia tak nak kok, heran deh.


Alhasil, atas persetujuan Dewa dan keluarga Dewa tentunya, Neta diijinkan tinggal di rumah lama Dewa selama yang Neta inginkan.


"Ya Allah Gusti.. Lintangku uayune rek. Lin sini Lin peyuk mamasmu ini." Jo seperti cacing disiram air garem, kelojotan tak jelas saat melihat Lintang keluar dari rumah dengan pakaian bak peri kayangan.




"Modus mu Jo." Bagas sebenarnya juga kagum dengan kecantikan Lintang. Gadis itu jarang, bahkan hampir enggak pernah dandan menor seperti cewek-cewek sebayanya. Pas dia menunjukkan pesonanya seperti ini tak ayal banyak mata yang tertuju padanya.


"Gas.. Mana cewek mu? Kamu ke sini sendiri?" Tanya Jo cengengesan. Sudah siap membombardir Bagas dengan kejulid'tan level suhu ala Jo. Jo juga ingin membalaskan kekesalan Lintang beberapa waktu lalu karena terus diledek Bagas saat dia sudah pulang mengantar Lintang malam itu.


"Kamu enggak usah khawatirin aku soal cewek Jo, salah orang kalau nanyain cewek ke aku. Tinggal tunjuk aja cewek yang di sini, juga pasti mau sama aku." Anaknya pak Seno menyombongkan diri.


"Buktiin brother!" Tantang Jo bersemangat. Jo mendekati Lintang setelahnya.


"Hai say.. boleh mamas duduk sini?" Tanya Jo mengawali obrolan mereka.


"Jangan mau dipanggil say sama dia Lin, bisa aja kepanjangannya sayton bukan sayang hahaha!" Ujar Fajar menjadi propokator tingkat wahid!


"Diem kau tomcat! Bisa mu cuma merecoki kesenangan orang aja! Mending kau mojok aja sana di bawah pohon pisang sama bu dokter!" Fajar tertawa. Rasanya puas sekali bisa gangguin Jo dan Lintang.




"Neta dateng sama Rama ya Jo?" Tanya Fajar saat matanya bertemu pandang dengan Neta. Neta hanya melihat sesaat lalu mengalihkan pandangan ke tempat lain. Bukan canggung tapi, dia ingin menghormati dan menghargai Rama yang selama ini ada untuknya.




"Kenapa?" Tanya Rama yang tahu Neta langsung membuang pandangan saat bertemu sosok dokter muda itu.


"Apanya lho? Kamu selalu enggak jelas kalau nanya." Neta duduk di sebelah Rama.


"Enggak nyesel kan ke sini sama aku?"


Rama tertawa. Dia hanya memastikan Neta tak menyesal karena udah hadir ke acara ini bareng dirinya. Pandangan mata Rama tertuju pada sosok sahabat karibnya. Dewa selalu tersenyum saat menyalami para tamu undangan yang mengucapkan selamat atas pernikahannya dengan Ndis.


Pun dengan Gendis, ratu sehari itu juga terlibat anggun. Dibeberapa kesempatan kedua anak adam yang telah sah menjadi suami istri itu terlihat saling pandang. Aura penuh cinta langsung terpancar di sana.


Setelah perjalanan panjang, rumit, penuh liku, drama ini berujung pada penyatuan Dewa dan Gendis. Benar kata Fajar dulu, saat Ndis menikah nanti.. Dia dan Jo akan datang memberi selamat abis itu memilih mojok sambil makan kacang rebus. Seperti sebuah kebetulan yang tidak direncanakan, nyatanya Fajar dan Jo memang melakukan hal demikian. Tersenyum ikhlas mendoakan kebahagiaan salah satu member somvlak mereka yang sekarang berstatus istri Dewa.




"Capek dek?" Tanya Dewa melihat Ndis yang sesekali menghembuskan nafas panjang.


"Ehem.. Bohong kalau bilang enggak. Duduk bentar boleh kali ya mas?" Dewa tertawa mendengar pertanyaan istrinya.


"Siapa yang melarang kamu duduk? Bahkan enggak ada yang bakal protes semisal kamu pengen duduk di pangkuanku sekarang. Hahaha" Ndis membulatkan matanya. Rasanya pengen sekali dia mencubit perut rata itu sekarang! Nyebelin banget. Pikirnya.


"Mas jangan aneh-aneh deh, ini banyak orang." Bisik Ndis lirih saat tangannya ditarik Dewa agar lebih mepet ke sisinya.


Tak menghiraukan ucapan Ndis, Dewa menarik Ndis sampai jatuh ke pangkuannya. Tontonan gratis itu mendapat sorakan dari teman-teman Dewa dan tamu undangan lainnya. Dih lebaynya yang udah sah!


Fajar yang tadi sibuk berbincang dengan Jo dan Bagas, sekarang ngajak Meica ke tempat yang lebih sepi agar bisa ngobrol berdua dengan tunangannya itu.


"Kok manyun? Laper ya? Haus? Mau aku ambilin air?" Tawar Fajar berusaha membaca pikiran Meica. Kenapa gadisnya ini diam seribu bahasa?



"Enggak." Ucap Meica malas.


"Kenapa lho Ca? Kamu marah? Marah kenapa?" Ini cowok emang enggak peka atau gimana, dia dari tadi ketawa ketiwi sama temennya dan ninggalin Meica bareng kedua orang tuanya, giliran balik dan lihat Meica manyun dia masih tanya kenapa? Oh my..


"Jar.. Aku ke sini sama kamu. Tapi, kamu malah sibuk sama temen-temen mu." Ucapnya datar.


"Ca.. Tadi aku udah ngajak kamu gabung sama mereka Ca tapi, kamu enggak mau. Kamu bilang mau bareng papa mama aja. Kenapa kamu malah jadi ngambek gini lho? Jangan ngajak ribut untuk hal sepele lah Ca. " Fajar berusaha mendinginkan suasana.


Meica diam. Bukan karena takut kalah debat tapi, dia juga tahu sikon. Dia di sini tamu, datangnya pun bareng Fajar.. Enggak mungkin juga dia malah berdebat sama Fajar. Apalagi sekarang mereka sudah bertunangan, huuft.. Meica kembali menurunkan egonya agar tidak terjadi perang yang makin besar.


"Ca.. Kamu marah ya? Aku minta maaf Ca." Fajar menyentuh punggung tangan Meica.


Meica masih diam. Rasa kesal di dadanya belum hilang. "Neta cantik! Dia kan yang ngebet banget sama kamu? Kenapa enggak jadian aja sama dia Jar?"


Entah kenapa Meica jadi uring-urungan. Dengan keberanian yang turun dari langit, Fajar meraih dagu Meica sehingga bibir mereka bersatu sempurna. Bukan ciuman kilat seperti yang udah-udah mereka lakukan tapi, sebuah ciuman menuntut yang belum pernah mereka praktekan sebelumnya. Seperti tak peduli jika ada yang melihat perbuatan mereka, Fajar malah semakin intens mengeksplor bibir Meica. Yang awalnya ingin menolak, Meica juga seperti kehilangan kewarasan karena serangan yang Fajar lakukan.


Dan... Lanjutannya besok🤣