Angel!!

Angel!!
Bab 74. Bertemu Jo



Jam dinding berdetak nyaring. Itu disebabkan karena sunyi dan tidak ada kesibukan apapun di kamar bercat biru itu.


Dengkuran kecil menjadi pertanda jika si empunya kamar sedang terlelap mengarungi alam mimpi.


Ketenangannya terganggu saat gedoran pintu dengan nyaring memaksanya untuk membuka mata. "Sopo?" Mata masih terpejam tapi mulut sudah merespon kehadiran seseorang yang menggangu siangnya yang aduhai ini.


"Sopo gundulmu! Tangi Jo! Arep turu tekan ntek'e jaman tah piye?" (Siapa gundulmu! Bangun Jo! Mau tidur nyampe akhir jaman apa gimana?)


Suara yang familiar. Bapaknya, siapa lagi. Dengan mata masih menahan kantuk, Jo paksa tubuhnya bergerak membuka pintu dan keluar dari sarangnya.


"Dalem pak.. Ada apa to?" Tanya Jo menghampiri bapaknya yang sudah ada di serambi depan rumah.


Senyum itu mengembang saat melihat sohibnya sedang bercengkrama dengan sang bapak tersomplak eh tersayang.


"Jar.. Bali kapan kowe? Weh sangsoyo ganteng rek! Nanging, yo tetep ganteng aku." (Jar.. Pulang kapan kamu? Weh makin ganteng rek! Tapi, yo tetap ganteng aku.)


"Napasmu Jo.. Astaghfirullahalazim, abis cip_okan sama kuda nil ya?" Sang bapak emang entah kenapa bisa aja cari bahan bully-an untuk anaknya.


"Kenapa lho pak, lha wong napasku juga wangi daun mint gini kok. Eh ini tembelek ayam belum kering, kamu kok ujuk-ujuk (tiba-tiba) ada di sini. Libur apa gimana?" Jo duduk di samping bapaknya, si bapak yang tadinya nyepur langsung mematikan batang tembakau yang dirasa sudah cukup memuaskannya.


"Pak.. Tak aduin mamah lho. Bapak nyepur mulu." Jo mulai berani ngancam bapaknya dengan senyum tengilnya.


"Enggak usah mok aduin mamahmu itu pasti juga tahu kalau aku abis udut (ngerokok). Jar.. aku tak masuk dulu, mau bujuk mamahnya Joko biar enggak ngambek pas tahu bibirku enggak cuma buat ngemut dia aja."


Fajar hanya mengangguk. Jo tepuk jidat, tak abis pikir sama kosakata tak layak pakai yang bapaknya gunakan itu.


"Bapakmu emejing! Hahaha.." Fajar baru bisa tertawa lepas saat Beni, ayah Jo udah benar-benar berada di dalam rumah.


"Udah kek gitu dari sononya Jar. Yang bikin aku heran, kok mamahku mau sama bapak yang somvlak enggak ada obat gitu lho.. Aku makin yakin mamah dulu kenyang asap dukun sampai mau sama bapak." Jo ngawur.


"Lambemu jaluk disrampang arit hah?" (Mulutmu minta digorok sabit hah?) Dari dalam Beni berujar.


"Kapok hahaha..." Makin puas lah Fajar tertawanya karena Jo langsung kicep karena takut kalau beneran ada sabit melayang ke arahnya.


"Kamu belum jawab pertanyaan ku tadi lho Jar. Kok kamu udah pulang, ada apa? Libur apa gimana?" Diberondong pertanyaan Jo, Fajar masih santai sambil menikmati minuman berkarbonasi yang diberikan om Beni tadi kepadanya.


"Katamu dulu kalau ada waktu aku mok suruh pulang. Lha ini aku pulang kok sambutanmu kek gitu, kek enggak suka aku ada di sini." Fajar menjawab apa adanya pertanyaan Jo.


'Pengendalian emosinya udah naik level dari cupu jadi suhu nih'. Pikir Jo.


"Reti. Terus kon ngapak'ke? Dia yang milih Dewa jadi pasangannya kok, mau diapain lagi selain menghormati keputusannya."


Jo melongo. Dia seperti tak percaya jika yang mengucapkan kalimat barusan adalah Fajar. Orang yang selama ini dia kenal sangat mengagumi Ndis, bisa sebijak itu sekarang. Baru setahun meninggalkan desanya masa iya rasa itu udah menguap?


"Kamu enggak apa-apa?" Tanya Jo ingin memastikan jika sahabatnya itu bersungguh-sungguh merelakan Ndis bersama orang lain.


"Aku ra popo. Tenangno pikirmu! Nanti sore ngumpul yok bareng dia dan Lintang, aku malemnya langsung terbang lagi ke kota soalnya."


Mendadak Jo merinding melihat Fajar dengan senyum seperti itu. Kok ada sesuatu yang sepertinya dia enggak tahu tapi apa?


"Kamu di kota udah punya pacar Jar?" Mencari info lebih dalam, Jo beneran enggak percaya kalau Fajar bisa berubah secepat itu.


Senyum itu menjawab pertanyaan Jo. Fajar memberikan ponselnya dan menunjukkan foto Meica di sana sebagai wallpaper.


"Ini temenmu yang waktu itu kan? Dia pacarmu sekarang? Eleh pantes aja woles tahu Ndis dipepet pak tua, ternyata di sana kamu juga punya misi mepet perawan to. Ya udah lah, moga kelian bahagia dengan pilihan dan pasangan masing-masing. Tinggal aku dewe ini yang jomblo, aiiishh kenapa juga sih Lintang itu enggak gede-gede.. Enggak sabar aku mau praktek ilmu pernganuan sama dia."


Fajar menepuk keras pundak Jo.


"Pikiranmu kok ya nganu mulu! Lintang masih kecil, belum umur kalau mok jak pacaran."


"Lagian ya Jo.. Aku jadian sama Meica juga baru kemarin. Enggak ada acara mepet-mepetan kek apa yang ada di pikiranmu itu." Imbuh Fajar.


Jo percaya? Tentu tidak!


Dari dalam rumah Jo dan Fajar dibuat gagal fokus dengan suara rintihan perempuan, mereka saling pandang dengan muka oon masing-masing.


Jo sampai geleng kepala, otaknya yang enggak suci-suci amat itu langsung konek ke hal yang 'iya-iya'.


"Jar.. Ke tongkrongan sekarang aja yok. Bapak ku lagi edan, ngadon kok siang-siang."


Fajar hanya tertawa aja menyetujui ajakan Jo. Dia juga enggak mau mencemari pikirannya yang kadung error dengan suara surga yang mamah Virza ciptakan.