
"Mah.. Papah kenapa?" Neta melihat ayahnya terbaring di ruang ICU.
"Kamu kemana aja? Dihubungi dari pagi enggak bisa-bisa! Buang aja sekalian ponselmu kalau dihubungi orang tua aja susah!" Bukan menjawab pertanyaan anaknya, ibunya Neta malah marah tak karuan karena berulang kali menghubungi putri semata wayangnya itu tak kunjung tersambung.
"Mah.. Aku tadi ada urusan.." Ucap Neta takut-takut.
Mimpi buruk apa ini? Tadi semuanya masih baik-baik aja tapi, lihat sekarang.. Papanya terbaring sakit, mamanya tak henti menceramahinya. Pasti ada yang salah. Neta mengusap mukanya kasar, meski terkenal begajulan dan seenak jidatnya sendiri tapi Neta sangat menyanyangi ayah dan ibunya. Hanya saja kedua orang tuanya itu terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri sehingga membuat Neta melampiaskan kesepian di hatinya dengan membully Ndis di manapun mereka bertemu.
Iri! Jelas. Neta sangat iri dengan hidup Ndis yang menurutnya sangat jomplang dengan kehidupannya. Ndis punya orang tua yang selalu ada untuk dia. Dulu, waktu masih sekolah.. Neta dibuat iri dengan kehadiran orang tua Ndis yang bergantian mengantarkan Ndis sekolah. Bahkan saat pengambilan raport, orang tua Ndis selalu bisa hadir. Apa kabar dengan Neta? Dia selalu diantar supir saat sekolah, tak jarang dia hanya dititipkan kepada tetangganya yang kebetulan mempunyai anak yang bersekolah di tempat yang sama dengan Neta.
Pun saat mengambil raport, orang tuanya selalu menyuruh gurunya untuk mengantarkan raport Neta ke rumah. Wah punya hak istimewa ya Neta? Buat orang lain mungkin iya, tapi bagi Neta tak ada yang dia banggakan dari 'hak istimewa' itu.
Saat beranjak remaja, nama Gendis makin menjadi duri dalam daging menurut versinya sendiri. Neta mulai melirik sosok yang sering ngobrol dengan Ndis. Ada dua cowok yang selalu mengawal kemanapun Ndis pergi. Belakangan dia tahu jika kedua pemuda itu bernama Fajar dan Jo. Jo? Tak penting! Mungkin kepanjangannya Paijo, Neta tak ambil pusing dengan mahkluk dengan nama singkat yang hanya menggunakan dua huruf abjad itu. Tapi, Fajar.. entah kenapa Neta selalu tertarik dengan lelaki satu ini.
Meski udah berusaha mendekati dengan berbagai cara namun rupanya pesona Neta kalah kuat jika dibandingkan dengan Ndis. Ya.. Lagi-lagi Ndis, cewek linggis panggilan yang Neta berikan untuk Ndis. Setiap kemunculan Ndis, Neta selalu merapalkan mantra agar sesuatu yang buruk menimpa gadis yang dia benci sejak kecil. Tanpa Ndis tahu apa salah dan dosanya sampai segitunya Neta benci sama dia.
Cukup sudah flashback kisah Neta yang sebenarnya enggak penting-penting amat bagi netijen! Netijen enggak terlalu tertarik dengan tokoh antagonis!
"Papamu sakit pun kamu masih bisa asik main hp? Net, kamu enggak mikir gimana saat ini papamu berjuang antara hidup dan mati di ranjang itu?" Hardikan ibunya membuat Neta kaget dan menjatuhkan ponselnya.
"Ma.. Aku.."
"Mungkin benar kata papamu.. Kami sudah terlalu memanjakan mu sampai kamu berubah jadi anak minus simpati seperti ini!" Terus marah dan marah. Rasanya kuping Neta sekarang sangat panas hanya mendengar semua ucapan mamanya.
"Aku apa ma? Aku anak minus simpati? Siapa yang membuat aku sampai jadi anak minus simpati seperti ini? Ma.. Aku butuh kelian, selama ini aku butuh kelian ma.. Tapi, kelian enggak pernah ada buat aku! Memanjakan apa? Aku bahkan tidak pernah merasakan dimanja oleh kelian! Kapan pernah kelian luangkan waktu buat aku? Mama marah karena aku main hp? Ini dunia aku ma.. Dunia yang aku ciptain sendiri saat kelian enggak peduli sama aku! Aku bisa ketawa lepas, bisa tersenyum senang tanpa kelian juga karena benda ini!!"
Plaaak.
"Bu.. maaf jangan berisik dan mengganggu ketenangan pasien. Pasien butuh istirahat total bu. Jika kelian bertengkar di sini, itu hanya akan memperburuk keadaan pasien." Seorang suster menegur kegaduhan yang terjadi antara ibu dan anak itu di depan ruang tunggu.
"Puas ma? Kalau belum puas tampar lagi aja aku!" Isak tangis Neta pecah. Tapi, dia berusaha tak bersuara dengan menunduk dan membekap mulutnya sendiri.
"Jangan bikin mama tambah pusing Neta!" Ibunya tak mau kalah, meski sudah ditegur suster tapi keduanya seperti tak peduli.
Neta memutuskan meninggalkan ruang tunggu, semakin dia berlama-lama di sana semakin sering mamanya membuat deretan kalimat yang tak bersahabat dengan kupingnya.
Berada di depan rumah sakit, Neta melihat kesibukan orang-orang yang ada di sana. Pandangannya tertuju pada sosok yang selalu membuat hatinya berkembang-kembang. Neta tak lantas nyamperin Fajar, suasana hatinya sedang buruk saat ini. Dia hanya melihat bagaimana kerennya seorang Fajar saat menggunakan balutan seragam putih dengan stetoskop bertengger manis di leher. Satu orang suster berjalan di belakang Fajar, dan satu lagi ada di samping Fajar seperti memberi informasi tentang pasien yang dalam penanganan dokter muda itu.
Fajarnya terlihat gagah di mata Neta. Tidak seperti si sableng Rama yang selalu membuatnya emosi dengan tingkah absurdnya setiap kali mereka bertemu. Baru memikirkan Rama saja sudah bikin kepala Neta nyut-nyutan, mungkin Rama adalah sosok Ndis versi cewek! Hanya mendengar nama mereka saja efeknya bisa bikin Neta jengkel sejengkel-jengkelnya. Neta seperti tak sadar diri jika dia berkali-kali lipat lebih nyebelin daripada dua manusia yang dia anggap menyebalkan tadi.
Setelah Fajar menghilang dari pandangannya, Neta berjalan ke kantin rumah sakit sekedar membeli tisu. Dia harus selalu perfect! Dia tak ingin maskaranya luntur setelah dia menangis tadi dan membuatnya bak kunti di dunia nyata.
Di kantin rumah sakit dia menemukan pemandangan yang menambah emosinya. Bukan bertemu Ndis atau Rama, dia melihat seorang ibu dengan peluh membasahi kening sedang sibuk memotong-motong bakso di mangkok dengan ukuran lebih kecil agar bisa dimakan anaknya. Padahal sang ibu tadi masih harus menggendong buah hatinya yang lain yang masih bayi, sedangkan di depan si ibu tengah duduk bapak-bapak yang mungkin adalah suaminya. Si bapak itu sibuk makan sambil main hp tanpa memperdulikan kerepotan istrinya.
"Ayo! Makan gitu aja lama banget! Abis ini aku mau kerja lagi, USG di bidan kan bisa, kenapa harus ke rumah sakit segala! Buang-buang duit! Mana mahal banget lagi!" Bentakan si bapak tadi membuat si ibu segera mengambil tisu dan mengelap mulut anaknya yang belepotan setelah makan. Ternyata mereka ke sini untuk USG, yang artinya di perut si ibu masih ada anak yang harus dia jaga. Tapi, lihat kelakuan suaminya yang tak menunjukkan perhatian sama sekali.
Neta masih memperhatikan saja saat si ibu belum juga bergerak dari duduknya karena harus menyusui anak keduanya yang ada di gendongan. Bentakan kembali terdengar saat si suami enggak sabar ingin segera meninggalkan kantin rumah sakit itu.
"Heh!!! Pak tua! Kamu lihat enggak istrimu kerepotan ngurus anak-anakmu, coba lihat gimana susahnya istrimu itu! Punya mata jangan dipasang di depan hp yang harganya enggak seberapa mahal itu aja. Orang macam apa kau ini mau bikinnya doang, tapi ngurusnya ogah ck!" Neta tak tahan untuk tidak mencak-mencak.
Berdebat. Neta adalah miss ceriwis sepanjang sejarah pembuatan novel ini, enggak mungkin dia kalah debat dengan bapak-bapak yang dirasa bukan lawan sebanding untuknya. Akhirnya Neta bisa sedikit lega bisa melampiaskan emosinya hari ini dengan ngamuk dan diakhiri melempar segepok tisu ke arah si bapak tadi.
"Dasar cewek gila! Ayu ayu edan!" Maki si bapak sambil nyelonong pergi sambil menggendong anak sulungnya yang menangis ketakutan melihat aksi Neta mencak-mencak memarahi bapaknya.