
Lima hari sudah Dewa terbaring di ruang ICU. Kondisinya belum menunjukkan perubahan. Masih seperti saat dia dibawa ke ruangan itu.
Keluarga dan sahabat silih berganti untuk menjenguknya. Bahkan Rama tiap malam selalu menginap di rumah sakit hanya untuk menunggui sahabatnya itu, berharap Dewa segera sadar.
Ndis juga tak mau kalah setia menunggui Dewa, berharap mamasnya akan segera sadar dari kondisinya. Tiada hari dia lewatkan untuk berkunjung ke rumah sakit. Setiap dia masuk ke ruangan ICU untuk menemui Dewa, dia selalu bercerita tentang kegiatannya, bercerita tentang rencana pernikahan mereka, dan memotivasi Dewa agar segera bangun dari tidur agar bisa segera menghalalkannya.
Saat keluar dari ruangan, tangis Ndis selalu pecah. Gadis itu tidak mau terlihat rapuh di depan Dewa.
Seperti biasa, Fajar melakukan visite bersama tim dokter guna mengecek kondisi pasien secara berkala. Tiba di ruangan Dewa dirawat, Fajar menangkap pergerakan pada kelopak mata Dewa. Perlahan mata Dewa terbuka, tentu saja Fajar dan tim terlihat senang.
"Dew.. Alhamdulillah kamu udah sadar." Fajar mengucap syukur.
Dewa hanya mengerjapkan mata beberapa kali, setelah itu kembali mata indah itu terpejam. Fajar langsung menangkap sesuatu yang tidak beres pada diri Dewa.
"Jar.." Pelan, suara Dewa terdengar sangat pelan diantara bunyi mesin penopang hidup yang masih terpasang di badannya.
"Iya Dew, kamu istirahat aja Dew. Semua akan baik-baik aja." Fajar tak ingin Dewa yang baru siuman sampai tak sadarkan diri lagi karena memaksakan diri untuk bicara.
"Jar... Ndis.." Suaranya seperti tercekat. Siapapun yang mendengar akan merasa pilu.
"Iya Ndis di luar. Kamu harus kuat, kamu harus sembuh demi Ndis ya." Fajar berusaha menyemangati Dewa. Yang kembali menutup mata seperti menahan kesakitan yang amat sangat.
Bersamaan dengan itu monitor menunjukkan garis lurus yang membuat Fajar kaget. Bunyi alat kesehatan mendominasi ruangan itu.
"Dok.. Pasien kehilangan kesadaran."
"Dewa!! Kamu jangan bercanda Dew! Bangun, kamu harus tetap hidup! Dewa kamu denger aku kan?!!" Fajar tak peduli saat dokter lain menyuruh dia keluar dari ruangan. Fajar terlalu terbawa suasana. Dan hal itu enggak seharusnya dilakukan seorang dokter.
'Di sini, dari sini aku bisa melihat keikhlasan kelian mendoakan kesembuhan untukku, perhatian kelian aku bisa melihat semuanya.. Cinta untukku dan ketulusan kelian yang membuat aku terus berusaha untuk bangun dari tidurku. Aku bisa melihat kamu dek, mendengar apapun yang kamu ceritakan kepadaku.. Aku juga tahu bagaimana kuatnya kamu menahan air mata itu agar tidak jatuh membasahi pipi chubby mu itu. Aku sudah berusaha.. Aku bukannya tidak mau terus bersama kelian tapi di sinilah batas ku,, Jangan tangisi aku dek.. karena sebenarnya aku masih terus hidup dalam hatimu.. dalam ingatanmu.. dan dalam kenangan mu.. hanya ragaku yang terkubur bukan rasa cinta ini untukmu. Teruslah tersenyum dan bahagia.. meski bukan bersama denganku.. Ribuan kali aku ucapkan rasaku untukmu.. Aku sayang kamu Manisku'
Ndis enggak percaya apapun yang di dengarnya dari penuturan Fajar. Ini pasti mimpi, ya.. ini mimpi terburuk! Dewa nya enggak mungkin meninggal kan? Pasti Fajar berbohong! Ndis tak terkontrol. Dia masuk ke dalam ruangan ICU.
"Mas.. Mas nyuruh aku agar enggak nangis, mas nyuruh aku untuk selalu kuat.. Lihat mas, aku enggak pernah nangis! Ini yang mas mau kan? Bangun mas! Tunjukin sama mereka kalau Fajar bohong! Mas.. Tolong jangan tinggalin aku.. Mas.. bangun mas.." Ndis terus berteriak dan ingin mendekat ke ranjang yang ditempati Dewa tapi suster melarangnya. Tindakan medis dengan melepas seluruh alat penopang hidup di tubuh Dewa harus dilakukan.
"Jangan suster.. Mas Dewa masih hidup!!" Ndis makin menjadi saat suster membuka ventilator.
"Tolong jangan Sus.. nanti mas Dewa sulit bernafas, kelian semua jahat!!"
Fajar menitikkan air matanya melihat Ndis yang tidak bisa menahan kesedihannya.
"Aku enggak akan biarin kelian nyakitin mas Dewa! Mas.. bangun, ya Allah.. mas-" Belum sempat Ndis menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya ambruk, dia pingsan tak sadarkan diri.