Angel!!

Angel!!
Bab 61. Jawaban



Di tengah kehancuran hati Fajar yang merasa kesempatan untuk bersama dengan Ndis sudah pupus, ada seorang Neta yang bersorak gembira. Dan Ada sosok Dewa yang hatinya ditumbuhi kembang sekebun raya Bogor. Hidup memang seperti itu, di balik susahnya orang, penderitaan batin orang, ada beberapa makhluk lain yang justru menikmati saat-saat kita jatuh seperti itu. Bukan menunjuk satu atau dua individu saja, saat hidup digambarkan seperti sebuah perlombaan, maka jangan heran jika ada yang menangis karena kekalahan dan tertawa di atas tangisan.


Neta memasang muka masam saat melihat unggahan Lintang di jejaring sosial tapi, dia juga sedikit menyunggingkan senyum devilnya saat tahu jika rival terberatnya enggak akan lagi menjadi batu sandungan untuk hubungannya dengan Fajar kedepannya. Seenggaknya itulah yang dia tangkap dari cuplikan pidio yang dia lihat.


"Bagus lah si linggis mau terima lamaran Batara Kala itu, jadi ayang Fajar bisa fokus sama aku ajaah!!. Hahaha.. emang ya kalau jodoh itu pasti disatukan Tuhan, meski harus pakai drama lutung kasarung terlebih dulu! Tapi enggak apa-apa, it's oke!! Nice, nanti saat ayang udah jadi dokter dia akan buru-buru lamar aku! Aaaaaccch ayaang aku enggak sabar nunggu kamu pulang! Eh apa aku samperin aja dia di sana ya? Dia pasti terharu dan makin cinta sama aku kalau tahu aku repot-repot ke sana buat dia! Iya.. ide bagus! Kamu pintar Neta!"


Neta membuat dirinya makin mirip pasien RSJ karena berdialog sendiri. Tapi, emang Neta bahagianya simpel kok. Hanya khayalin Fajar datang untuknya aja udah bikin dia sorak-sorak bergembira. Yang enggak disukai sejuta umat dari sikap Neta adalah kadang dia terlalu ekspresif. Meledak-ledak seperti isian combro jeletot. Kadang bar-bar dan menjurus ke tindakan kriminal yang dia anggap sendiri sebagai bentuk pertahanan diri. Jangan ditiru untuk sikap Neta yang satu itu gaess!


Kita tinggalkan kegilaan Neta, biarlah dia gembira dengan khayalannya. Enggak usah diusik karena akibatnya fatal untuk yang nulis maupun yang baca, bisa ikutan gila karena mencerca dia!


"Nduk kamu yakin dengan pilihanmu? Jangan memilih pendamping hidup seperti memilih pakaian yang kamu lihat di toko pakaian. Kamu lihat, kamu coba, saat dirasa cocok kamu beli. Tapi, nanti saat pakaian itu sudah terlihat lusuh dan kamu bosan, kamu akan beli yang baru dan meninggalkan yang lama! Mantapkan hatimu, jangan memilih saat hati masih ragu." Sebuah kalimat panjang yang Ndis dapat dari bapaknya sesaat setelah dia memberi tahu jika keluarga Dewa akan berkunjung ke rumahnya.


Bagi sebagian orang di Jawa, saat seorang gadis menyetujui kedatangan keluarga pihak lelaki ke rumahnya, hal itu merupakan sebuah tanda jika gadis itu menerima hubungan yang lebih serius ke depannya. Dan secara otomatis membuka hati dan memberi lampu hijau untuk si lelaki itu sendiri.


Jadi, Ndis memilih Dewa dari pada Fajar? Iya. Ndis memantapkan hatinya untuk menerima Dewa. Bukan tidak mau menunggu kedatangan Fajar untuknya tapi, setelah beberapa kali sholat di sepertiga malamnya hanya bayangan Dewa yang muncul di sana.


"Insya Allah Ndis yakin dengan keputusan yang Ndis ambil ini pak." Jawab Ndis dengan senyum khasnya.


Dan sampailah di malam itu, saat jemari lentiknya menerima dan terulur saat Dewa memasangkan cincin yang disiapkan hanya untuk Ndis. Bukan acara pertunangan mewah, karena hanya keluarga inti saja yang hadir menyaksikan fase baru seorang Gendis.


"Kenapa kamu bohong mas? Enggak jujur dari awal kalau bapak dan ibu mu sudah enggak ada." Pertanyaan dari Ndis untuk Dewa di serambi depan rumah. Meninggalkan acara beramah tamah antar kedua keluarga.


"Aku enggak pernah bohong, karena mereka kan juga orang tuaku. Tentang ayah dan ibu.. Mereka bukan enggak ada manis, mereka masih ada di hati dan ingatanku. Untuk selamanya. Jujur.. Dulu aku enggak sekuat ini, sakit banget rasanya saat ditinggalkan mereka. Kenapa enggak ajak aku aja sekalian? Itu yang sering aku tanyakan dalam sujudku."


" Saat ayah pergi, aku berdoa setiap hari agar ibuku bisa berumur panjang. Setelah kehilangan sosok yang menjadi imam disetiap sholat ku membuatku ketakutan jika ibu akan pergi juga ninggalin aku.. Tapi, doaku enggak terkabul, ibu lebih suka menyusul ayah di sana. Aku lebih memilih diam, enggak ada tangisan. Hatiku terlalu sakit, aku berpikir.. untuk apa aku lakuin ini semua? Meski lulus dengan nilai terbaik, diterima di fakultas impian tapi, untuk siapa aku lakukan itu semua? Ayah dan ibu sudah pergi." Menghela nafas untuk memberi jeda di cerita panjangnya.


"Aku enggak apa-apa. Sekarang ada kamu yang makin membuat lengkap hidupku. Terimakasih udah terima aku."


Ndis tak kuasa menahan lelehan bening itu, dia sampai membayangkan dirinya sebagai Dewa saat mendengar cerita Dewa barusan. Tidak disangka, dibalik sikapnya yang begitu ramah, Dewa menyimpan luka terdalam di hatinya.


"Hei.. Kenapa nangis manis? Aku enggak apa-apa.. Kalau bapak sama ibumu tahu kamu di sini nangis gara-gara aku, aku bisa langsung diusir saat ini juga." Manis adalah panggilan Dewa untuk Ndis setelah cintanya diterima dihadapan seluruh keluarga mereka tadi.


"Bisa ajak aku menemui ayah dan ibumu mas? Aku ingin berterimakasih kepada mereka karena telah melahirkan, mendidik dan membesarkan anak sebaik kamu." Isak tangis itu masih terdengar.


"Besok ya.. Sekarang jangan nangis lagi. Bukan tangisan yang aku inginkan dari kamu Ndis, jangan pernah menangis saat ada aku di sampingmu. Aku merasa gagal membuat kamu bahagia kalau kamu seperti ini."


Dewa mengusap pelan pucuk kepala Ndis, enggak mungkin dia mau kasih lihat adegan peluk-pelukan di serambi rumah saat masih banyak orang di ruang tamu yang pasti bisa menyaksikan tingkah polah mereka.


"Aku sayang kamu Ndis.." Dewa membuat Ndis tersenyum karena ungkapan sayangnya.


"Ternyata cuma aku aja yang sayang kamu, kamunya enggak.." Merasa terkacangi saat tidak ada jawaban dari Ndis.


"Mau denger apa dari aku mas?" Tanya Ndis. Membuat Dewa gemas jadinya.


"Udah lupain aja, ayo masuk.. Mereka akan mikir aku nyakitin kamu kalau lihat mata kamu merah gitu. Jangan nangis lagi ya.."


Dewa berbalik arah ingin memasuki rumah Ndis, bergabung dengan yang lain. Tapi, langkahnya terhenti saat tangan Ndis menarik tangannya.


"Aku juga sayang kamu."