Angel!!

Angel!!
Bab 92. Kritis



"Dokter Fajar, harus ada persetujuan pasien atau keluarga pasien sebelum melakukan tindakan nefrektomi (pengangkatan seluruh atau sebagian ginjal). Kita harus mempertimbangkan efek samping pasca operasi dok!" Tegas salah satu dokter bedah memberi opsi kepada Fajar.


"Lakukan apapun untuk menyelamatkan nyawa pasien dok! Masalah formalitas, administrasi dan sebagainya, aku yang bertanggung jawab atas semua hal setelah ini! Aku mengenal pasien, lakukan operasi sekarang. Aku akan menghubungi pihak keluarga." Anggukan mantap dari salah satu dokter membuat Fajar sedikit tenang.


"Dokter Nephrologist akan tiba sepuluh menit lagi dok." Fajar diam. Melihat jam di tangannya. Rasanya waktu seperti sangat lambat saat ini. Nephrologist adalah dokter yang berspesialisasi dalam mengobati penyakit ginjal. Ahli nefrologi tidak hanya memiliki spesialisasi pada penyakit yang secara khusus berpengaruh pada kerja ginjal tetapi, juga memiliki pengetahuan tentang bagaimana penyakit ginjal dapat mempengaruhi bagian lain dari tubuh.


Seorang dokter berjalan cepat di lorong rumah sakit. Setelah membaca laporan hasil pemeriksaan pasien, dokter itu dengan sigap langsung mengajak timnya untuk melakukan tindakan tercepat untuk menyelamatkan nyawa Dewa. Dia adalah dokter Ardiaz. Ipar dari pak Beben dan merangkap pakdhe nya Jo.


Fajar dengan cepat memberi kabar Jo, meminta tolong untuk mengabari keluarga Dewa. Jo yang baru saja mengantar Ndis pulang dan masih di dalam mobil, seketika saja kaget dengan kabar kecelakaan yang menimpa Dewa. Dia makin bingung saat Fajar menyuruhnya menghubungi keluarga Dewa.


"Aku aja enggak begitu kenal sama Dewa Jar, gimana aku bisa hubungi mereka?" Tanya Jo kebingungan.


"Kamu tanya Lintang atau.. Atau Ndis.. Iya! Dia harus tahu Jo. Jo aku tutup dulu telponnya." Telpon terputus secara sepihak. Jo turun dari mobil, kembali mengetuk pintu rumah Ndis. Kali ini pak Parto yang membukakan pintu.


"Lho masih di sini kamu Jo? Ayo masuk." Ajak pak Parto.


"Mboten usah pak.. Pak aku mau ngasih kabar.. Hmm Dewa kecelakaan, kondisinya kritis pak. Fajar tadi menelpon minta aku menghubungi keluarga Dewa tapi, aku enggak tahu harus hubungi siapa." Dengan takut-takut Jo memberi tahu pak Parto tentang kondisi Dewa.


"Astaghfirullah.. Kapan? Ayo masuk dulu Jo. Bapak ndak punya nomer telpon keluarga Dewa tapi, mungkin Ndis punya." Pak Parto menggiring Jo masuk ke dalam rumah.


Hari sudah sangat larut, jam menunjukkan pukul 23.00 malam. Dengan hati-hati pak Parto mengetuk pintu kamar Ndis. Padahal baru saja putrinya itu masuk dalam kamar.


"Dalem pak." Ndis membuka pintu. Bapak meminta Ndis ke ruang tamu guna menemui Jo. Ndis berpikir sejenak, ada apa? Bukannya tadi Jo langsung pamit pulang kok malah masih di rumahnya.


"Kamu punya nomer telepon keluarga Dewa? Ibu, bapak atau siapanya gitu?" Jo tidak tahu jika kedua orang tua Dewa sudah meninggal.


"Orang tua mas Dewa sudah enggak ada Jo. Kenapa? Tiba-tiba kamu tanya gitu? Ada apa?"


Jo tercengang mengetahui bahwa Dewa sudah tidak memiliki orang tua.


"Ndis.. Dewa kecelakaan. Fajar nyuruh aku buat hubungi keluarganya."


"Jo kamu enggak usah bercanda. Ini enggak lucu!" Ndis meninggikan suaranya.


"Apanya yang bercanda. Fajar baru saja telepon aku ngabarin kalau Dewa kecelakaan! Aku enggak akan bercanda soal nyawa orang Ndis."


Pandangan Ndis mendadak menggelap, artinya perasaan tak enak yang sejak tadi dia rasakan adalah firasat jika Dewa tengah mengalami musibah. Rasanya genangan air mata tak bisa dia tahan. Pak Parto berusaha menenangkan putrinya. Mendengar keributan yang terjadi di ruang tamu, Lintang dan bu Shela seketika keluar dari kamar masing-masing. Menanyakan perihal yang terjadi.


Tak mau mengulur waktu lebih lama, Ndis segera mengajak Jo untuk menemui Dewa. Dia ingin tahu kondisi mas pacar secara langsung. Sebelumnya dia telah menghubungi nomer bulek untuk menginfokan kejadian yang menimpa Dewa. Dengan mobil yang berbeda, pak Parto, bu Shela beserta Lintang juga menuju rumah sakit tempat Dewa dirawat.


Selama perjalanan, tak henti Ndis memanjatkan doa agar Dewa baik-baik saja. Dia berharap hanya luka ringan yang dialami mas pacar. Tanpa dia tahu jika saat ini Dewa sedang berjuang untuk tetap hidup. Untuk tetap bersama dengan orang-orang yang menyayanginya. Kondisinya kritis, kehilangan banyak darah, benturan keras yang mengakibatkan kerusakan pada organ dalam, serta detak jantung yang melemah, hanya mukjizat yang bisa membuat Dewa bertahan.


"Aku udah bilang Jo... Kita puter balik aja, perasaanku udah enggak enak waktu kita ninggalin mas Dewa sendirian tadi." Jo tak menjawab. Dia juga merasa bersalah tidak mengindahkan perkataan Ndis waktu sahabatnya itu ngotot minta kembali ke emper warung dekat pantai.


"Maaf.." Satu kata itu aja yang terlontar saat tak tahu lagi dia harus berkata apa. Jo mempercepat laju mobilnya. Meski hanya bertemu beberapa kali, dan dulu juga sempat tidak suka dengan Dewa tapi, Jo tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa tunangan dari sahabatnya itu.