
Setelah pernikahan Ndis dan Dewa, hubungan antara Ndis dan Neta juga mulai membaik. meski masih ada rasa canggung diantara keduanya saat bertemu. Mereka lebih memilih diam daripada bingung mau ngobrolin apaan.
Berulang kali Rama mengajak Neta menikah tapi, sepertinya Neta belum tergerak hatinya untuk menyusul jejak Ndis. Padahal tak dapat dipungkiri hati Neta memang sudah milik Rama seutuhnya. Entah alasan apa yang membuat Neta belum mau menerima pinangan Rama, hanya dia dan si othor sengklek aja yang tahu.
Lintang dan Jo.. Kedua kapel yang baru menapaki karir percintaan itu masih anget-angetnya pacaran. Kemana-mana berdua, kadang bertiga juga sih. Bukan setan tentunya yang jadi mahkluk ketiga diantara mereka berdua tapi, si Bagas.
Bagas yang sekarang disibukkan dengan usaha budidaya ikannya kadang jenuh bergelut dengan air dan para ikan mulu, itulah sebabnya dia suka jadi mahkluk ketiga diantara Jo dan Lintang. Kenapa dia enggak cari pacar aja sih? Katanya belum nemu yang pas aja buat dia. Dulu, dia yang terkenal player suka gonta-ganti pacar. Cewek tak cukup satu untuk dirinya tapi, sekarang player itu mendadak insaf karena terus diceramahi mamanya. Ya, mama Indah yang selalu ngingetin Bagas untuk enggak mainin perasaan wanita. Beliau sering membandingkan putranya itu dengan suaminya yang tingkat setianya tak perlu diragukan!
"Gas mau kemana?" Tanya mama Indah.
"Jalan ma. Mau ke tempat mbah kung aja. Jenuh liat ikan mulu." Jawab Bagas sambil mengikat tali sepatunya.
"Inget ya Gas, enggak boleh lagi punya pacar berlapis-lapis! Setia itu wajib. Kalau enggak suka ya enggak usah dibaperin, dipacarin, akhirnya mok putusin, mok tinggalin. Kesian anak orang kamu gituin! Kalau mbak-mbakmu yang digituin sama pasangan mereka gimana?" Mama Indah mulai berceramah.
"Lah... Siapa yang berani mainin mbak Ndis sama Lintang? Kepalanya minta diplontosin pake mesin babat rumput kayaknya. Selama ada aku enggak boleh ada yang gangguin sodaraku ma! Lagian Jo sama mas Dewa orang baik kok ma, aku kenal mereka banget." Bicara sambil mengambil kunci motor di meja dekat mamanya menaruh camilan.
"Bukan Jo atau Dewa yang mama ragukan Gas tapi kamu. Kamu ini kalau dikasih tahu kok jawab mulu. Papamu aja enggak secerewet kamu lho. Entah niru siapa kamu ini."
"Kalau papa kalem ya berarti aku niru mama lah hahaha. Enggak usah raguin aku ma, masa enggak percaya sama anak sendiri sih piye lho? Aku kalem ma, selama enggak dipancing atau diajak duluan ya aku diem." Masih cengengesan.
Begitulah Bagas, selalu bisa membuat mamanya ngelus dada dengan tingkahnya.
Meninggalkan Bagas yang sibuk dengan sesi pertaubatannya, ada yang penasaran enggak sama kapel bu dokter dan pak dokter? Apa? Enggak ada.. Astaghfirullah jangan gitu, mereka juga tokoh penting di sini wahai reader ku yang budiman.. Ya sudah kalau enggak suka sama mereka, kita anggap saja hubungan mereka lurus mulus kek pantat bayi, bayi kingkong!
"Ram, aku mau ke tempat mama." Suara Neta di ujung telepon.
"Aku anterin ya? Tapi, kerjaan ku baru beres nanti siang Net. Kita ke sana sore aja gimana?" Melihat tumpukan berkas file di depannya. Rama memijit pelipisnya yang memang terasa tegang dan sedikit pusing.
"Enggak usah. Kamu fokus kerja aja." Neta menutup panggilan telepon karena Rama malah ngeyel nyuruh dia nungguin Rama pulang kerja.
Maksudnya Rama tuh biar Neta enggak capek nunggu ojek, nunggu kan pekerjaan yang melelahkan. Apalagi menunggu kepastian dari dia, ah mulai deh.. othor kurang hiling ya kek gini hahaha.
Neta berjalan pelan menuju ujung jalan, melelahkan juga ternyata jalan kaki gini, pikirnya. Maklum aja biasanya kan dia kemana-mana naek mobil minimal motor lha sekarang bisa naik gituan pas bareng Rama aja. Beberapa kali dia menggerakkan tangannya dengan gerakan seperti mengipas. Panas rek!
"Net.. Mau kemana?" Suara cempreng Rizna mengagetkannya.
"Ke depan." Neta melihat Rizna yang tampak makin glowing. Ada perubahan nih anak, bagus deh!
"Sama siapa? Mobil kamu mana? Bawa motor? Motor kamu mana? Abis bensin ya? Mau aku beliin bensin dulu tapi, di depan enggak ada warung jual bensin Net. Aku baru ke sana tadi." Rizna turun dari motornya.
"Aku enggak mau beli bensin Riz." Terang Neta.
"Oowh enggak ya, lalu apa? Kamu masih marah sama aku ya Net.. Net, aku enggak ada hubungan apa-apa sama mas Rama. Beneran deh. Emm bentar (menuju motornya, mengambil sesuatu dari sana.) Ini.. Aku mau nikah. Tapi, enggak sama mas Rama kok. Kamu dateng ya.." Rizna menyerahkan undangan untuk Neta.
Neta tak percaya, Rizna masih berpikir jika dia masih marah tentang kejadian terakhir mereka bertemu. Neta merentangkan tangannya, memeluk Rizna sambil meminta maaf.
"Net.. Kamu minta maaf kenapa? Kok malah nangis.. Ini aku undang kamu, aku nikahnya juga enggak sama mas Rama beneran deh. Calon suamiku enggak seganteng mas Rama sih tapi dia baik dan sayang banget sama aku." Rizna bingung kenapa Neta tiba-tiba nangis di pelukannya.
"Riz aku minta maaf ya sama kamu, selama ini aku jahat banget sama kamu, sama Yuni, sama Elis juga. Tapi, kelian masih mau jadi temenku. Nyapa aku pas kita ketemu kayak gini, jujur aja aku malu Riz. Malu sama sikapku dulu.."
Rizna berpikir sesaat. "Kita kan temen Net. Kenapa mikir kalau kamu jahat? Kalau boleh jujur ya kadang aku mikir gini, kamu ini kenapa kok ngomel mulu, sedih ngomel, seneng ngomel, apalagi pas marah hahaha. Tapi, aku enggak pernah masukin hati sih. Soalnya kamu ya kayak gitu, itu ciri khas kamu. Enggak ngomel sehari malah aneh rasanya."
Neta bersyukur, meski sudah senyebelin itu temen-temennya masih mau maafin dia, masih mau deket sama dia. Neta mengakhiri obrolan dengan Rizna saat Rizna pamit ingin nyebarin undangan pernikahannya lagi.
"Beneran kamu enggak mau aku anterin?" Tanya Rizna untuk kesekian kali. Neta menggeleng pelan. "Jangan lupa dateng ya ke nikahan aku! Nanti ajak mas Rama juga sekalian." Teriak Rizna yang motornya semakin menjauh.
Mau gimana lagi, semua udah terjadi.. Dan dia beneran nyesel pernah melakukan hal absurd.
"Assalamu'alaikum ma.." Neta mengetuk pintu.
Tak berapa lama pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul dengan pandangan tajam tak bisa Neta artikan.
"Ma.. Apa kabar?" Masih di depan pintu, Neta bertanya kabar mamanya.
"Kamu kenapa ke sini lagi? Aku udah bilang jangan pernah ke sini! Aku bukan mamamu. Ngerti?" Hardik mamanya Neta berapi-api.
Neta melihat mamanya. Tak berkata apapun. Sampai pada akhirnya Neta mengeluarkan suara. "Ma.. Neta boleh minta sesuatu, abis itu Neta enggak akan ke sini lagi. Neta janji."
"Apa??" Masih dengan bentakan yang membuat panas telinga siapapun yang mendengarnya.
"Neta boleh masuk ke dalam sebentar ma?" Tak peduli wanita sepuh itu terus melarangnya untuk tidak memanggilnya mama tapi, Neta tetap saja mengulang panggilan itu untuk beliau.
Berpikir sejenak. Mamanya Neta membuka pintu lebih lebar guna membiarkan Neta masuk ke dalam rumah. Neta bergerak ke ruang tamu, mata mamanya Neta terus mengikuti pergerakan yang dilakukan Neta. Ternyata di sana dia mengambil sebuah foto kecil yang berjejer dengan foto lainnya. Foto dengan gambar dirinya waktu masih kecil, mama serta papanya yang dia pilih.
"Ma.. Neta boleh minta ini? Bagi Neta mama dan papa adalah orang tua Neta. Tanpa kebaikan hati mama dan papa waktu itu, Neta enggak akan ada di sini.. Memberi status sebagai anak kelian, memberi kasih sayang yang enggak Neta dapet dari orang tua kandung Neta.. Makasih banyak ma.." Berurai air mata Neta mengatakan hal itu.
Langkah Neta mulai mendekati pintu, saat akan pergi.. Tangisan mamanya membuat Neta berhenti. Neta mendekati mamanya. Memeluk tubuh renta itu, tapi tangis beliau makin menjadi. Neta ikut menangis karena suasana haru yang tercipta.
"Jangan pergi Net.. Mama marah, mama belum bisa menerima kepergian papamu.. mama salah. Harusnya mama enggak mengatakan rahasia tentang siapa kamu yang sebenarnya.. mama malah mengacaukan semuanya. Net, sampai hari itu tiba.. Sampai mama ketemu dan bersatu lagi dengan papamu.. tetaplah di sini.. temani mama ya nak.. mama butuh kamu."
Dengan kerendahan hati dan menekan ego masing-masing, akhirnya mereka bisa melanjutkan hidup yang angel ini dengan ikhlas.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Assalamu'alaikum gaess..
akhirnya kita bisa sama-sama ngos-ngosan nyampe sini hahaha. Terimakasih untuk kelian semua ya. Inilah akhir Angel!!. Dengan semua tokoh yang sabar, yang tulalit, yang telmi, yang emosian, yang bikin darting, yang penyayang, yang kang gembel eh gombal, aku othor gabut mengucapkan sayounara! Semoga kita bisa ketemu lagi. Tapi, enggak janji hahaha. Aku yakin kelian bosen sama ku kok🤣.
Sekali lagi terimakasih banyak.. Aku sayang kelian semua!
Untuk para Sultan yang udah relain beratus-ratus ribu poinnya buat angel!! Untuk para pembaca yang ngasih jempol, untuk para kaum tukang intip, untuk semua haters ku. Aku ucapin TERIMAKASIH❤
Othor gabut mau ucapin byee all.. Sayounara! Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.