Angel!!

Angel!!
Bab 58. Rintik Hujan



Meski lengannya udah terluka seperti itu, Dewa tetap menolak saat Rama akan mengantarkannya pulang.


Ndis melihat ke arah punggung itu yang semakin lama semakin menghilang di telan gelapnya malam. Rasa khawatir tentu saja ada, dia bukan cewek sekaku itu yang tak punya perasaan. Apalagi dia tahu penyebab Dewa terluka karena melindunginya.


Sungguh drama sekali hidup seorang Neta itu, di manapun dia berada selalu bisa bikin keramaian dengan keributan yang dia ciptakan. Mungkin waktu kecil dia bercita-cita jadi speaker aktif. Selalu membahana di manapun dia berada!


"Mbak.. Ayo pulang." Ndis mengiyakan ajakan Lintang. Hari sudah larut, dia juga sudah penat dengan kesibukan hari ini. Lelahnya bertambah saat dia bertemu Neta.


Cewek bernama Neta itu.. Entah punya dendam apa kepada Ndis, dari kecil selalu seperti itu. Mengatakan jika Ndis yang ganggu dia, merusak kebahagiaannya, nuduh Ndis suka mancing emosinya. Padahal hal sebaliknya yang terjadi. Itulah kenapa Ndis tidak suka dengan makhluk bernama Neta ini. Puncaknya saat Ndis tahu kalau Fajar malah milih jadian dengan Neta meski Fajar tahu Neta dan Ndis tidak pernah bisa akur.


Meski Fajar melakukan hal itu dengan alasan agar Ndis tidak lagi dibully atau mendapat tekanan apapun dari Neta tapi, alasan Fajar itu tidak sedikitpun membuat Ndis simpati. Ya kali, sahabatnya malah pacaran sama musuhnya!


"Assalamualaikum pak, buk,.." Salam diucapkan Ndis saat memasuki rumah. Lintang langsung nyelonong pergi ke kamar mandi. Rasanya gerah sekali.


"Waalaikumsalam, capek nduk?" Tanya Parto yang menunggu kedua putrinya pulang.


Ndis duduk di samping ayahnya. Dia ambil tangan lelaki yang menjadi panutannya, diciumnya tangan itu. Parto mengusap pelan rambut Ndis. Kasih sayang itu terasa nyata. Tak terasa gadis kecilnya sudah sebesar ini. Sudah bisa mengerjakan apapun sendiri tanpa merengek minta bantuannya.


Obrolan singkat berlangsung. Ndis menceritakan kesibukannya di tempat kerja tadi, dengan menskip ulah Neta dan keberanian Dewa melamarnya tentunya.


Waktu cepat bergulir, Ndis ada di kamarnya. Membuka ponsel yang sedari tadi dia abaikan saat berada di kafe dan berbincang dengan bapaknya.


Sebuah pesan membuat Ndis menghela nafas. Membaca sambil membayangkan jika orang yang mengirimkan pesan itu ada di hadapannya, makin membuat Ndis galau.


'Memang bukan aku orang yang selama ini ada di sisimu, ada di dekatmu dan membantu menyelesaikan setiap masalahmu. Tapi, sekarang aku ada untukmu. Untuk setiap harimu, dan aku ingin kita menua bersama. Ijinkan aku membuktikan semua omonganku ini bukan candaan seperti yang kamu pikirkan. Ndis.. Aku sayang kamu.'


Pesan dari Dewa. Lelaki itu makin gencar aja ingin memiliki Ndis. Apakah itu sebuah obsesi Dewa saja? Nyatanya tidak. Dewa bergerak sesuai insting aja. Dia lelaki dewasa yang tidak ingin dinilai buaya oleh Ndis. Banyak membual dan obral janji juga untuk apa? Kalau nyatanya tidak bisa menjadikan Ndis halal untuknya, hal itu malah membuat jiwa kelakiannya malu semalu-malunya.


'Tidur sana. Udah malem!'


Hanya itu yang dijawab Ndis. Tidak menjawab 'Aku juga sayang kamu' atau sedikit perhatian dengan menanyakan 'Udah sampai rumah belum? Bagaimana lukamu?'. Nyatanya hanya empat kata saja yang terkirim dan langsung centang biru, menunjukkan jika sang penerima pesan langsung membacanya.


Otomatis Ndis membulatkan matanya. Apa? Jadi dia tadi ngikutin Ndis sampai rumah? Ya salam.. Lalu gimana dengan dia sendiri, ini udah hampir larut malam,


Ndis bergerak cepat membuka pintu kamarnya, melewati Lintang yang rebahan santai di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Berjalan terburu-buru, sedikit berlari saat mendengar suara knalpot motor khas kepunyaan Dewa.


"Maas.." Sebuah panggilan dari Ndis mampu menghentikan deru motor itu. Ndis melihat sosok itu, sosok yang tadi mengorbankan lengannya untuk melindungi Ndis dari lemparan vas dari si brutal Neta.


"Dibilangin jangan keluar." Kata pertama yang Dewa ucapkan.


"Kenapa kamu malah ngikuti aku pulang? Harusnya kamu istirahat. Lihat, sekarang gerimis!" Ndis menatap Dewa dengan sedikit kesal.


"Makasih udah perhatian, Ndis.. kalau besok aku ke rumah kamu sama orang tuaku, kamu siap?" Sepertinya Dewa tidak menggubris apa yang dikatakan Ndis.


"Eh.. Besok?" Ndis tergagap.


Dewa mengangguk mantap. Seperti mendapat keberanian dan ingin meyakinkan Ndis, untuk kesekian kalinya Dewa meraih tangan Ndis.


"Percaya sama aku. Aku enggak akan mainin kamu. Enggak akan ngasih celah buatmu ragu akan perasaanku. Ndis.. bukan tentang berapa lama waktuku mengenal kamu tapi, berapa lama waktu yang nanti akan kita habiskan berdua."


Mendapat gempuran terus menerus seperti itu, cewek mana yang enggak luluh? Hati mana yang enggak bergetar? Dewa menunjukkan pergerakan bukan gombalan, Dewa menunjukkan bukti bukan janji, dan Dewa mampu membuat Ndis mengukir senyum malam ini.


"Kamu jangan seperti ini, cepat pulang mas. Kalau sampai lukamu kena air hujan pasti sakit banget." Ndis memperhatikan lengan Dewa yang masih terbalut perban alakadarnya yang dia ikatkan tadi.


"Enggak akan sesakit saat kamu nolak aku Ndis." Jawab Dewa kembali ke topik perasaan.


Mereka merasakan hujan makin deras meluncur ke bumi. Bagi kebanyakan orang, hujan di malam hari akan membuat tidur semakin pulas dan nyenyak. Tapi, untuk dua orang ini, hujan malah membuat mereka tambah galau. Yang satu menanti jawaban akan perasaannya. Dan yang lainnya masih ragu dengan hatinya.