Angel!!

Angel!!
Bab 62. Mangats Jar!



Perjalanan membawamu


Bertemu denganku


Ku bertemu kamu


Sepertimu yang kucari


Konon aku juga seperti yang kau cari


Kukira kita asam dan garam


Dan kita bertemu di belanga


Kisah yang ternyata tak seindah itu


Kukira kita akan bersama


Begitu banyak yang sama


Latarmu dan latarku


Kukira takkan ada kendala


Kukira inikan mudah


Kasih sayangmu membekas


Redam kini sudah pijar istimewa


Entah apa maksud dunia


Tentang ujung cerita


Kita tak bersama


Semoga rindu ini menghilang


Konon katanya waktu sembuhkan


Akan adakah lagi yang sepertimu


Kukira kita akan bersama


Begitu banyak yang sama


Latarmu dan latarku


Kukira takkan ada kendala


Kukira inikan mudah


Kau melanjutkan perjalananmu


Ku melanjutkan perjalananku


Kukira kita akan bersama


Begitu banyak yang sama


Latarmu dan latarku


Kukira takkan ada kendala


Kukira inikan mudah


Kukira kita akan bersama


Hati-hati di jalan


Fajar melirik malas saat Meica menyanyikan dengan asal lagu 'hati-hati di jalan' milik salah satu penyanyi kondang kebanggaan tanah air kita ini.


"Apa Jar? Suaraku enggak bagus ya? Maklum aku bukan penyanyi." Tersenyum tanpa tahu hati seseorang yang di sampingnya sedang mawut-mawutnya.


"Jar bentar lagi kita selesai koas, aku kemarin inget ceritamu... Katamu setelah pulang dari sini, kamu mau nembak sahabatmu itu lagi ya? Aku doakan semoga dia jodoh terbaikmu." Meica memainkan stetoskop yang bergelantung di lehernya.


"Enggak jadi." Fajar berjalan mendahului Meica, dengan maksud tidak ingin membahas hal yang masih membuat hatinya nyut-nyutan itu.


"Jar.. Jangan cepet-cepet jalannya! Kenapa enggak jadi nembak dia hmm? Takut ditolak ya? Aku yakin kamu pasti diterima kok! Semangat!!" Memotivasi seseorang yang sebenarnya udah gagal dalam percintaan.


"Ca, dia udah milih cowok lain. Enggak usah bahas dia lagi, oke?!" Akhirnya Fajar jujur.


Meica terdiam. Sepertinya dia telah membuat hari Fajar buruk dengan membahas keretakan hati Fajar.


"Kenapa? Kenapa sahabatmu lebih milih orang lain, bukan nunggu kamu yang jelas-jelas selama ini selalu ada untuk dia?" Meica masih kepo. Meski tadi Fajar udah bilang enggak usah dibahas, nyatanya Meica malah makin ingin mengorek info tentang hubungan temannya yang udah karam sebelum berlabuh, kesian!


Fajar menghentikan langkahnya. Meica yang berjalan dengan tempo cepat di belakang Fajar langsung menabrak punggung lelaki itu, padahal Meica jalan juga udah lihat depan tapi karena Fajar terlalu mendadak berhenti, jadi membuat Meica menghantam punggungnya.


"Jar.. Bisa enggak jangan berhenti mendadak gitu!" Memprotes dengan gerakan tiba-tiba yang dilakukan Fajar.


"Memilih siapapun yang akan jadi pendamping hidupnya itu hak dia. Tugasku hanya menyayangi dia, munafik kalau sekarang aku bilang ikhlas dan nerima gitu aja keputusannya.. aku juga ingin perasaan yang aku pendam untuknya selama ini terbalaskan. Tapi, balik lagi.. saat bukan aku yang dia anggap pantas untuknya.. Aku hanya bisa berharap pilihannya adalah lelaki yang baik yang bisa menjaga, melindungi, dan selalu menyayangi dia kedepannya."


Meica berkedip. Tak percaya mendengar penuturan panjang tadi dari seorang Fajar.


"Kamu benar-benar baik." Meica menyunggingkan senyum dan berjalan melewati Fajar.


Kamu enggak tahu, gimana remuknya hatiku.. Sampai mau nafas aja rasanya sulit saat tahu gadis yang aku kagumi, aku sayangi dan setengah mati nahan perasaan ingin memilikinya malah memilih cowok lain. Dan dia milih cowok lain saat aku enggak ada di sampingnya, rasanya seperti semua yang aku lakukan untuk dia enggak pernah ada artinya.


Aku bukan cowok baik, aku hanya mencoba memperbaiki diri. Menata hati yang udah roboh ini. Meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik aja. Aku berusaha kuat menurut versiku. Aku enggak mau hancurnya kisah cinta ini menjadi alasan penghancur masa depanku. Mungkin benar.. Tugasku kemarin hanya untuk menjadi penjaga jodoh orang, dan sekarang tugasku selesai... Berbahagialah.. agar hancur ku tidak sia-sia!


"Hei.. Ayo! Kamu bengong mulu,"


Fajar tersadar dari lamunannya setelah tangannya ditarik paksa oleh Meica. Berjalan tanpa semangat, Fajar masih bisa menanggapi semua ocehan Meica. Meski kadang jawaban yang dia berikan untuk pertanyaan Meica terdengar enggak nyambung, Meica tetap berusaha menjadi penghibur untuk lara hati yang Fajar alami.


Tak mudah memang menyembuhkan luka hati, Meica sendiri juga tahu itu tapi setidaknya, ada orang yang membantu memulihkan rasa sakit itu. Lebih baik dari pada meratapi perihnya sendiri.


"Kamu cowok, jangan lemah. Kamu tahu, aku yang udah pacaran tahun-tahunan aja woles waktu cowokku nikah sama tunangan kakaknya.. Ya, sakit itu pasti tapi, masa mau nangis tiap hari? Mata sampe segede jengkol juga enggak bakal balikin dia ke aku. Terus, apa aku harus diem di tempat saat mereka udah bahagia dengan pasangan pilihannya? Enggak Jar! Bangkit, karena hidup enggak melulu tentang masalah hatimu aja. Ada banyak orang yang dukung kamu. Yang ada untukmu tanpa niat ingin mendapat balasan apa-apa. Semangat pak dokter!!"


Meica mengepalkan tangannya ke udara. Memberi semangat untuk Fajar yang dibalas dengan tatapan biasa aja dari Fajar.


"Kenapa masih diem aja? Yang sakit kan hatimu, bukan mulutmu! Ah.. Tahu gini aku biarin aja kamu ngelamun, diem sendiri. Biar dirasuki jurig-jurig di sini!" Tukas Meica ingin nyelonong pergi.


"Iya yang sakit hatiku, nyetrum ke otak sama mulutku. Males ngomong jadinya.. Tapi, makasih.. Setiap kata di kalimat mu tadi udah aku simpen di memori otakku."


Keduanya terdiam. Hanya terdengar suara langkah kaki yang memecah kesunyian.


"Ca.." Panggil Fajar saat melihat punggung gadis itu mulai menjauh mendahuluinya.


"Hmmm,"


"Makasih."


Meica hanya mengacungkan jempolnya tanpa melihat ke arah Fajar.