
Apa yang membuat seseorang merasa bahagia? Banyak lah ya pastinya. Tapi, bagi Dewa hanya duduk di dekat Ndis seperti sekarang ini merupakan hal yang membahagiakan untuknya. Terlalu sederhana ya? Iya, karena sejak awal Ndis adalah tujuan Dewa. Saat seseorang bisa mencapai tujuan di hidupnya, sudah bisa dipastikan orang itu akan mendapatkan kepuasan yang membuat hati menghappy.
"Mbaaaak.. Lihat deh desa kita kelihatan cantik banget dari sini. Sini deh mbak!" Lintang berteriak seperti hanya dia aja yang ada di sana. Tidak memperdulikan pengunjung lain yang menatapnya dengan tatapan 'iiiyuuuuh' ngerti kan, jenis tatapan apa itu?
Ndis tetap diam di tempatnya. Duduk di samping Dewa.
"Itu Syahira manggil kamu dek." Dewa menyenggol Ndis yang malah langsung menatapnya.
"Dek?" Ndis mengulang panggilan yang barusan dia dengar dari Dewa untuknya.
"Huum, kenapa? Mau dipanggil yang lain?"
Eleh kalau udah berduaan kayak gitu sebelahnya ada yang teriak-teriak pake toa juga berasa sunyi sepi senyap. Dunia milik mereka, yang lain ngungsi di lubang semut. Terlalu lebay? Lha emang kok.. Nyatanya Ndis cuek aja meski Lintang udah duduk di sebelahnya. Menunjukkan muka masamnya.
"Ah tahu gini aku enggak mau ikut! Besok mau ke sini sama mas Jo aja ah." Berkata sendiri meski enggak ada yang mengajaknya bicara. Sungguh kesian kau nak.
Ndis yang merasakan udara di sana cukup dingin menggerakkan tangannya untuk memeluk lututnya sendiri. Dewa yang melihat hal itu bergegas melepas jaketnya, menyisakan kaos hitam yang melekat di badan.
"Pakai dek. Di sini dingin. Apa mau pulang aja? Kayaknya Syahira juga udah ngantuk." Dewa melihat Lintang yang sesekali menguap.
"Romantis banget sih mas iparku ini, aku jadi pengen punya pacar deh. Pasti seru!" Lintang mesem membayangkan serunya keromantisan Dewa dan Ndis terjadi padanya.
"Enggak usah banyak khayal kamu. Sekolah aja yang bener." Ndis membuyarkan kehaluan yang diciptakan Lintang di pikirannya sendiri.
Mengiyakan ajakan Dewa untuk pulang saat Dewa bertanya untuk kedua kalinya, Lintang tak lagi seheboh waktu mereka berangkat tadi. Mungkin batrenya udah habis. Kecapean ngecipris dari tadi. Maklum ababil (abegeh labil) seumuran Lintang kan emang lagi akti-aktifnya.
"Capek mas?" Tanya Ndis kepada Dewa.
"Enggak. Kenapa? Kamu capek?" Ndis menggeleng pelan saat Dewa bertanya kepadanya.
Itulah derita Lintang selama perjalanan pulang. Melihat kemesraan nyata yang ditunjukkan Dewa untuk kakaknya. Dia senang sekaligus kesal karena merasa terkacangi sejak tadi. Ya salah sendiri, orang ngedate dia maksa ngintilin aja. Enggak ada yang ngajak juga kan?
Sampai rumah, Lintang langsung segera memasuki kamarnya. Sedangkan Dewa, dia berbincang sebentar dengan Parto. Yang ternyata menunggu kepulangan kedua putrinya yang diajak healing bareng Dewa tadi.
Ndis menyuguhkan dua cangkir kopi untuk dua lelaki yang sangat menyayanginya. Memilih duduk bersebelahan dengan Parto, Ndis terlihat begitu dekat dengan bapaknya.
"Tadi kemana nduk?" Tanya Parto kepada Ndis. Padahal Parto tadi juga udah bertanya ke Dewa.
"Ke puncak pak. Momong Lintang." Perkataan Ndis langsung disambut tawa Dewa dan Parto.
Ketika malam sudah makin pekat, Dewa meminta ijin untuk pulang. Mengakhiri acara ngapelnya untuk pertama kali malam ini. Memang terasa singkat tapi, bagi Dewa semua itu sudah lebih dari cukup karena segala hal yang berlebihan pastilah tidak akan baik. Maksudnya berlebihan itu ya kunjungannya. Tidak baik dolan (main) ke kediaman perempuan sampai lupa waktu. Pamali gaess!
"Makasih," Ucap Dewa saat dia sudah ada di luar rumah Ndis.
"Untuk apa?" Ndis ingin membuka jaket yang masih bertengger membungkus badannya. Bermaksud mengembalikan kepada pemiliknya.
"Enggak usah dibuka. Pakai aja. Dan.. Makasih untuk kamu yang udah bikin malam ku bertabur kebahagiaan. Kamu.. Kamu senyum seperti itu aja udah bikin detak jantungku tak karuan. Saat memegang tanganmu tadi, terasa seperti tersengat aliran listrik. Ya udah, kamu masuk aja.. aku takut kamu muntah karena mendengar omonganku yang kamu pikir seperti bualan untukmu. Padahal aku mengatakan yang sebenarnya."
"Megang aku bisa kesetrum? Mungkin aku punya keahlian penghantar arus listrik." Ndis tersenyum melihat Dewa yang juga tersenyum karena perkataannya.
"Hati-hati di jalan," Ndis berkata saat Dewa akan membuka pintu mobilnya.
"Hatiku ada sama kamu, bukan di jalan. Masuk sana. Aku enggak mau pulang kalau kamu belum masuk rumah."
Eleh eleh yang baru jadian, bikin kaum jones semakin pengen gigitin jempol kaki aja. Ya ya ya.. Nikmati saja kebersamaan kelian, karena kita enggak tahu skenario apa yang akan othor gabut ini kasih buat kelian berdua.