
Elis kaget saat membuka salon kecilnya sudah ada Neta yang berdiri di depan sana. Makin bikin tepok jidat karena Neta langsung nyengir bak kunti yang kebanyakan sajen langsung masuk gitu aja ke dalam salon milik Elis.
Hanya bisa ngelus dada melihat kelakuan Neta, Elis lantas mengambil sapu untuk membersihkan seisi ruangan. Elis bekerja sendiri di salonnya ini, karena memang dia belum membutuhkan bantuan untuk menangani pelanggan salonnya. Dia masih bisa handle sendiri.
"Lis, kamu enggak hargai aku banget sih! Aku datang pagi-pagi ke sini buat ngasih kamu kerjaan, ngasih kamu rejeki! Kok kamu cuekin aku!!" Mulai....
"Bentar Net, aku beresin ini dulu. Lagian kenapa pagi-pagi udah ke sini? Mau ada acara ya?" Berusaha sabar. Dalam hati udah merapalkan mantra untuk mengusir makhluk menjengkelkan bernama Neta itu.
"Iya. Aku nanti siang mau ke kota buat nyamperin ayang. Aku harus kelihatan perfek! Kamu sini dulu ngapa! Beres-beres apa sih? Enggak penting itu! Aku lebih penting, Eliiiiis buruan ke sini!" Haissh...
Sebelum kunti itu bertransformasi menjadi bentuk lain yang lebih menyebalkan, Elis segera meletakkan sapu di pojok ruangan. Tempat sapu tadi berasal. Menghampiri Neta yang udah sibuk dengan ponselnya tapi tetap aja ngomel-ngomel tanpa bisa dijeda.
"Lis, kamu tahu.. Linggis udah lamaran sama Batara Kala! Itu artinya apa? Artinya ayang Fajar hanya punyaku sekarang! Seneng banget rasanya." Bertepuk tangan seperti anak kecil yang senang karena udah mendapat jajan kesukaannya.
Elis diem aja, menurutnya tak penting berkomentar tentang hubungan orang lain. Apalagi dia juga tidak mengenal siapa itu linggis dan Batara Kala yang tadi disebutkan oleh Neta.
Merasa dicueki, Neta menghadap belakang, melihat Elis dengan tatapan sangar.
"Kok kamu diem aja sih Lis?! Kamu enggak suka ya kalau aku seneng? Atau jangan-jangan kamu ini salah satu musuh dalam selimut hah?! Aku harus lebih berhati-hati sekarang ini. Kamu, Rizna, Yuni kelian semua udah enggak bisa aku percaya!!" Ini orang mungkin kebanyakan makan kecubung!
"Terserah kamu aja lah Net mau ngomong apa." Flat tanggapan Elis. Karena dia tahu, membela diri pun percuma. Neta pasti makin ngereog jadinya.
"Kamu bawa mobil sendiri?" Elis bertanya sambil menerima uang dari hasil kerjanya ngotak-ngatik rambut dan kuku Neta.
"Enggak lah! Nanti aku capek! Punya sopir buat apa kalau enggak disuruh kerja? Aku bukan orang susah kayak kamu Lis, kita beda kasta tahu enggak! Kalau kamu kemana-mana musti naik motor, ngojek, atau paling banter naik mobil itu pun paling truk sama bis lah ya. Kalau aku enggak! Aku enggak bisa kayak kamu gitu, kaum terlunta-lunta dan-"
"Udah kelar Net, pulang sana! Katanya buru-buru kan?!" Elis terang-terangan mengusir Neta yang mulai bikin indera pendengarannya panas dengan semua kata-kata yang keluar dari mulut Neta.
Setelah mengucapkan salam berupa kata-kata pedas lainnya yang enggak usah diketik juga, Neta akhirnya memutuskan pergi dengan perasaan gembira. Berharap nanti bisa langsung bertemu Fajar, menjadi pelipur hati cowok itu dan sekaligus mematenkan diri dengan status baru yaitu pacar Fajar. Seenggaknya itu lah yang dipikirkan Neta.
"Mbak Neta, sepurone njih.. Istri pak Slamet mau lahiran. Tadi pak Slamet udah ijin bapak sama ibu ndak bisa anterin mbak Neta ke kota. Udah dikasih ijin, jadi mungkin acara mbak Neta ke kota ditunda dulu." Agak takut-takut, seorang mbok yang biasa bantu beres-beres dirumah Neta menyampaikan pesan kalau sang supir tidak bisa mengantar Neta bertemu Fajar.
Mata Neta membulat sempurna, ocehan sepanjang jalan kenangan tak bisa Neta tahan. Dia udah menyiapkan diri dari pagi dan saat akan pergi malah harus gagal karena enggak ada supir yang ngantar?? Enggak! Neta enggak mau menunda kesempatan ini untuk mendekatkan diri pada Fajar!
Takut ikut kena sembur, si mbok langsung pergi meninggalkan rumah Neta karena pekerjaannya beberes udah selesai. Kenapa di desa aja ada yang menggunakan jasa ART? Bukannya semua bisa dikerjakan sendiri? Ya karena mereka mampu dan enggak mau repot sendiri. Orang tua Neta, terutama emaknya dari kecil sangat manja dan apa-apa serba ingin dilayani. Dari situ kita tahu, sifat Neta yang terkesan seenaknya dan jarang sekali menghargai orang lain itu diperoleh dari siapa?
Dengan hati dongkol Neta berusaha menghubungi Rizna dan Yuni untuk dia ajak traveling bersamanya tapi, tak satupun dari mereka yang mau ikut. Segala macam alasan mereka katakan untuk menghindari Neta. Karena mereka tahu, traveling bersama Neta artinya menjadi kacung Neta dan harus kuat mendengar semua ocehan gadis itu di sepanjang perjalanan. No! Itu bahkan lebih mengerikan dari mimpi buruk bertemu tuyul selusin!!
Neta yang amat sangat kesal memutuskan untuk melampiaskan emosinya. Belanja? Jalan-jalan? Bikin konten mukbang? Tiktokan nari jaipong di bawah teriknya sinar matahari? Enggak!
Ke kafe Ndis adalah tujuannya!