Angel!!

Angel!!
Bab 60. Rahasia Dewa



Hujan selalu membawa keberkahan saat turun. Seperti pagi itu, meski dengan lengan yang nyeri karena hadiah hantaman vas dari Neta yang sebenarnya bukan untuknya, Dewa seperti mendapatkan keberkahan dari luka yang ditimbulkan. Perhatian dari Ndis adalah sesuatu yang jarang sekali dia dapatkan, itulah keberkahan yang dia maksud.


Siraman air dari langit itu sukses membasahi sebagian wilayah desa Wekaweka. Meski begitu, warga desa tak ingin bermalas-malasan dengan mancal kemul (istilah untuk kata 'tiduran santuy') atau rebahan alay di rumah. Mereka tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa.


"Mbak, jadi semalem mbak terima cincin dari pak Dewa?" Lintang kepo. Sambil memasukkan buku dan peralatan sekolah lainnya ke dalam tas untuk esok hari, Lintang seakan ingin tahu jawaban dari pernyataan cinta Dewa untuk kakaknya.


"Cincinnya masih sama dia," Jawab Ndis singkat.


"Artinya mbak nolak pak Dewa lagi?" Si adek ini kepo sekali.


Sebuah senyum diberikan Ndis untuk menjawab pertanyaan adiknya. Lintang menganggap itu sebuah penolakan dari Ndis, timbul segurat kekecewaan di hati Lintang. Kenapa mbaknya enggak mau terima pak Dewa sih? Itu lah yang jadi pertanyaan di hati Lintang.


Ndis melangkahkan kakinya ke luar, dengan meminta ijin terlebih dahulu kepada orang tuanya, Ndis segera tancap gas. Membawa diri menuju kafe karena ini hari Minggu sudah bisa dipastikan tempat kerjanya itu pasti akan sangat menyibukkannya.


Sampai di sana, Ndis sudah ditunggu oleh Dewa. Senyum selamat pagi Dewa tunjukkan untuk Ndis, Ndis membalas senyuman itu dengan anggukan.


"Kamu hobi banget berkeliaran ke sini, masih pagi ini. Mau numpang makan?" Gaya bicara Ndis ini mirip sekali dengan emaknya, Shela waktu seumurannya.


"Mau bantu kamu, boleh kan?" Tanya Dewa mengedipkan satu matanya.


"Bantu apa? Lenganmu pasti nyeri banget itu, harusnya kamu istirahat. Guru kok ngeyelan." Ndis masuk ke dalam kafe. Mulai pekerjaan dengan melihat data di laptop yang ada di meja kasir.


"Nanti sore orang tuaku mau main ke rumahmu. Aku udah bilang itu kan? Cuma mau ingetin aja, takut kamu lupa." Memainkan bunga plastik yang ada di meja kasir. Sambil memperhatikan sang pujaan hati bekerja, Dewa melihat Ndis hanya mengangguk menjawab ucapannya.


"Kamu terpaksa nerima kedatangan orang tuaku ya, gitu amat ekspresinya." Dewa sedikit memprotes.


"Aku lagi kerja mas, nanti sore orang tuamu mau ke rumah kan? Iya udah kamu ulang kalimat itu entah enam atau tujuh kali pagi ini. Belum lagi tadi malam, aku inget mas, inget banget." Melihat sekilas ke arah Dewa yang melebarkan senyumnya sekarang.


"Makasih ya manis. Oiya, aku bisa bantu apa ini?" Dewa menoleh ke kanan kiri melihat apakah ada hal yang bisa dia kerjakan.


"Enggak usah. Ada banyak orang yang kerja di sini. Aku enggak mau nambah pekerja lagi, nambah-nambahin pengeluaran. Mending kamu pulang aja, aku malah enggak bisa konsen kalau kamu masih di sini."


Semua ucapan Ndis seperti oase untuk hatinya. Ndis memang belum mengiyakan hubungan dengan dirinya tapi, sikap Ndis yang jauh lebih ramah kepadanya seakan memberi harapan untuk hatinya.


Beberapa tamu nampak berdatangan. Desa Wekaweka sekarang tidak sejadul dulu. Sekarang akan umum saat pagi-pagi udah ada orang nongkrong di kafe seperti itu. Ada yang sekedar beli camilan, ada yang mau makan, dan ada pula yang cuma numpang WiFi'an dengan modal satu botol air mineral kemasan kecil.


Lalu apa yang dilakukan Dewa di sana? Dia ngotot ikut membantu pekerjaan seperti pekerja lain di sana. Dewa ingin memastikan jika Ndis tidak kesulitan saat bersama dengannya. Luka di lengannya tak jadi penghalang untuknya untuk tetap aktif mengerjakan ini dan itu.


Melihat kegigihan yang Dewa lakukan, timbul rasa simpati di hati Ndis untuk lelaki beralis tebal itu.


"Ndis, aku pulang dulu ya. Ini ada telepon dari rumah. Kamu jangan kecapean, inget nanti aku ke rumah-"


"Ke rumah ku dan ngajak orang tuamu kan? Delapan kali kamu bilang ini mas. Iya aku inget. Hati-hati ya, kamu nyetang enggak usah ngebut, helmnya dipakai jangan dicentelin aja di stang motor."


Dewa tersenyum saat Ndis memotong kalimatnya. Perhatian sekecil apapun sangat berarti untuk Dewa.


Motor itu menjauh dari indera penglihatannya, giliran Ndis yang sekarang membereskan pekerjaannya untuk segera pulang. Masih siang tapi, hari ini ada tamu khusus untuknya dan kedua orang tuanya. Dia tidak ingin dianggap tidak menghormati tamu saat mereka datang berkunjung tapi dia masih asyik di tempat kerjanya.


Singkatnya, setelah rentetan panjang perjalanan Ndis pulang ke rumah, memberi tahu ibu dan bapaknya jika orang tua Dewa mau berkunjung ke kediaman mereka, Ndis akhirnya selesai mempersiapkan diri.


Bisa ditebak siapa yang paling menghappy di sini? Yes, Lintang sodara-sodara! Dia sampai berkali-kali fitting baju, saking antusiasnya.


Hari mulai petang, yang ditunggu beneran datang. Dewa hanya mengajak kedua orang tuanya sesuai permintaan Ndis, karena ini hanya acara perkenalan saja. Bukan lamaran seperti ekspetasi yang diharapkan Lintang. Meski begitu, tentu saja kedatangan orang tua Dewa mempertegas jika Ndis benar-benar membuka hati untuk lelaki berprofesi guru itu.


Perkenalan dan obrolan tentang anak mereka masing-masing berlangsung. Dari cerita orang tua Dewa, mereka baru tahu jika yang diajak Dewa menemui keluarga Ndis adalah kakek dan tantenya. Pantas saja terlihat perbedaan usia yang sangat mencolok saat kedatangan kakek dan tante Dewa ini. Sedangkan kedua orang tua kandung Dewa sendiri sudah lama meninggal.


"Dewa tinggal sendiri di rumahnya pak. Kami yang jadi walinya setelah kedua orang tua Dewa meninggal. Ditinggal sendiri di usianya yang masih sangat muda membuat kami khawatir dengan perkembangan psikis Dewa. Ayahnya meninggal karena sakit, beberapa tahun kemudian ibunya pun pergi untuk selamanya menyusul ayahnya. Saat kepergian ibunya, dia sedang ujian kelulusan SMA."


Tante Aminah, tante Dewa menceritakan kisah hidup keponakannya. Tidak ingin menutup-nutupi apapun dari keluarga Ndis. Mereka mengira Dewa sudah bercerita tentang keluarganya kepada Ndis atau orang tua dari gadis yang dia suka tapi, ternyata tidak. Dewa masih menyimpan rahasia tentang ayah dan ibunya untuk dirinya sendiri.


Dengan senyum Dewa berusaha menenangkan hatinya. Tidak mudah untuknya bisa berdiri sendiri di titik ini tanpa didampingi orang tuanya. Meski ada kakek dan juga tante yang menyemangati dan menghiburnya, pasti akan berbeda rasanya jika momen seperti ini dia didampingi langsung oleh kedua orang tuanya.


"Mereka pasti bangga punya anak seperti kamu mas Dewa." Shela merasa terenyuh. Dewa mengangguk, masih dengan senyum tipis terukir di wajahnya.