Angel!!

Angel!!
Bab 51. Obrolan Pagi



Pagi tiba, kicau burung menyambut setiap raga yang bangun dari alam mimpi mereka. Sinar matahari pagi belum nampak tapi, aktivitas di desa Wekaweka sudah menggeliat.


Begitu pula dengan keluarga Parto, semuanya bersiap dengan rutinitas masing-masing setelah sebelumnya mereka melakukan sholat subuh berjamaah di rumah.


"Buk, nanti biar Ndis aja yang ke toko. Ibu di rumah aja, lagian kerjaan Ndis udah beres semua." Ndis menawarkan diri saat ibunya bercerita akan melakukan sidak di toko desa sebelah kepunyaannya.


"Lha yang anter aku sekolah siapa mbak?" Lintang duduk menaruh tas sekolahnya yang sudah dia isi berbagai macam keperluan sekolah untuk hari ini.


"Ya aku. Siapa lagi? Kamu mau dianterin siapa emang?" Jawab Ndis ringkas.


"Mau dianterin bapak Lin?" Tawar Parto kepada anak bungsunya.


Lintang menggeleng pelan. Tahu jika bapaknya sendiri pun sibuk luar biasa. Dia sebenarnya bisa mengendarai motor sendiri, tapi orang tuanya yaitu Shela dan Parto melarang Lintang membawa motor ke sekolah. Kalau hanya main deket-deket rumah sih mereka masih memberi kelonggaran.


Dan begitulah pagi itu, semuanya sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kesibukan yang akan mereka lalui. Dengan semangat, kekompakan, dan hati yang menghappy pada setiap anggota keluarga Parto.


"Mbak.. Mbak yakin enggak mau lapor ke polisi tentang kecelakaan yang nimpa mbak beberapa bulan lalu? Bagas sama aku yakin banget kalau ada orang yang sengaja mencelakai mbak lho! Dan kami tahu orangnya!" Obrolan di atas motor pun terjadi.


"Siapa?" Tanya Ndis fokus sama jalanan.


"Neta! Dia orangnya. Iya kan mbak?" Ini bocah malah balik bertanya tentang tebakannya sendiri.


"Lha kok tanya aku, tadi katanya kamu sama Bagas tahu. Piye lho? Lin, jangan asal nuduh orang. Jatuhnya fitness! Udah biarin aja, aku juga masih bisa nganter kamu sekolah gini. Kalau emang iya dia yang bikin aku celaka, mbenke ae.. ngko rak yo entok balesane dewe! (Biarin aja.. Nanti pasti dapet balasannya sendiri!)"


"Fitnah kali mbak! Arep ndagel opo hmm? Fitnah kok dadi fitness! Kesuwen mbak ngenteni dekne oleh balesane dewe! Mending laporno polisi! Bar urusane!" (Mau ngelawak apa hmm? Fitnah kok jadi fitness! Kelamaan mbak nungguin dia dapat balasannya sendiri! Mending laporin polisi! Kelar urusannya!)


"Kamu punya bukti?" Tiga kata itu menutup obrolan mereka.


Iya ya, Lintang mana punya bukti. Dia hanya menebak dan berspekulasi sendiri tanpa ada bukti yang bisa memberatkan Neta jika dirinya ingin melaporkan Neta pada polisi. Haaah!! Dia sangat menyayangkan kenapa di jalan desanya belum dipasang cctv, agar saat ada kejadian seperti ini ada bukti akurat yang bisa dipakai untuk menegakkan sebuah keadilan! Eleh bahasane rek..


"Salam buat siapa? Udah sana masuk. Belajar yang bener! Jangan uang jajan aja yang minta lebih, prestasimu itu mok ya ditingkatkan juga!" Tegur Ndis menutup kembali helm yang dia pakai.


Dengan sikap hormat seperti saat sedang melakukan upacara, Lintang mengartikan itu sebagai tanda patuh saat mbaknya memberi nasehat.


Ingin segera meninggalkan lokasi sekolah, Ndis dikagetkan dengan kemunculan Dewa yang tiba-tiba ada di depan motornya.


"Long time no see. Apa kabar?" Tanya Dewa tersenyum ramah.


"Astaghfirullah mas! Ngagetin tahu enggak! Apanya yang long long hmm? Bukannya beberapa hari lalu juga kamu main ke rumah, enggak usah drama pagi-pagi deh!" Ndis memanyunkan bibirnya.


Dewa tertawa. Paginya selalu terasa menyenangkan saat bisa bertemu, bercakap dan menggoda Ndis seperti sekarang ini.


"Nih buat kamu." Dewa menyerahkan bungkusan seperti kotak makan untuk Ndis.


"Ini pasti bekal buatan istrimu kan? Kenapa dikasih ke aku? Enggak ah.. aku udah sarapan juga tadi." Jawab Ndis asal.


"Gimana bisa istriku yang buatin kalau cintaku aja belum kamu terima. Apa nanti setelah pulang ngajar aku lamar kamu aja, gimana?" Ndis melebarkan matanya. Dewa adalah lelaki dewasa yang tidak pernah main-main dengan apapun yang dia ucapkan.


Melihat ekspresi Ndis, Dewa semakin melebarkan tawanya.


"Mas.. Maaf sepertinya kita lebih cocok jadi temen. Atau kita bisa jadi kakak adik aja," Kalimat itu membuat tawa Dewa terhenti. Ada guratan keseriusan dalam ucapan Ndis. Dewa bisa menangkap hal itu.


"Enggak usah buru-buru memutuskan. Aku bisa nunggu kamu sampai kamu bilang iya ke aku. Ini, jangan lupa dimakan! Aku masuk dulu ya. Kamu hati-hati jangan ngebut. Assalamualaikum." Dewa memilih mengakhiri obrolan paginya dengan kakak dari Lintang itu.


Dia tahu jika dilanjutkan perasaan tak enak pasti merasuki keduanya. Lagi pula, Dewa tak ingin menjadikan hubungan antara dirinya dan Ndis hanya sekedar kakak adik aja. Kisahnya Ini belum berakhir. Karena baginya sebelum Ndis memutuskan untuk menikah dengan siapapun itu, kesempatan untuk merebut hati gadis manis itu masih terbuka lebar!