
Jo memperhatikan deretan galon yang siap untuk diisi air kehidupan dengan seksama. Bentuknya enggak berubah meski matanya hampir keluar karena terlalu lama memperhatikan benda bulat lonjong itu. Kurang kerjaan? Enggak juga, karena kerjaan Jo setiap hari memang main sama galon.
"Mau nyampe kapan kamu pelototin galon-galon itu Jo? Enggak bakal berubah jadi bidadari juga meski matamu lepas dari tempatnya! " Bapak Beni selalu punya kata-kata pedas layaknya seblak hot jeletot untuk ngisengin anak laki-lakinya.
"Mas.. Kamu kok hobi banget ngusilin Jo to, aku enggak suka lho kamu isengin dia terus gitu!" Mamah Virza selalu jadi malaikat penolong untuk Jo.
Jo manggut-manggut membenarkan perkataan mamahnya, emang iya sih sehari aja bapaknya enggak isengin dia terasa sangat hambar rasanya. Yang merasa hambar sih bapak Beben ya bukan Jo nya!
"Lha delok dek delok (lihat) mau kirim air aja galonnya dilihatin terus kayak lihat cewek pake bikini aja. Enggak kedip-kedip matanya." Spontan mamah Virza melotot ke arah bapak Beni.
"Emang kamu kalau lihat cewek cuma pake bikini matanya juga enggak kedip gitu? Mau aku bantu congkel dari tempatnya enggak maaaas??" Pertanyaan berbau ngegass sudah menjadi tanda jika mamah Virza berada di level siaga menuju awas. Bukan bapak Beni namanya jika jinakin singo barong baru mau bangun dari tidurnya aja enggak bisa.
"Dek.. Kamu pasti lebih tahu, di mataku enggak ada perempuan lain yang lebih sempurna dan baiknya luar biasa daripada kamu. Mau di depanku ada para cucunya mbah Sugi yang pamerin dada dan pahanya, aku lebih tertarik sama kamu yang pakai daster aja kayak gini. Kamu enggak usah raguin aku lah dek, puluhan tahun bareng sama aku kok ya masih mikir jelek tentang aku." Rungokno Jo, (dengerin Jo,) ini lah salah satu cara menaklukkan khodam mamahmu yang udah siap mencak-mencak.
Sedikit senyum langsung singgah di wajah ayu Virza. Tidak perlu diragukan, Beni dengan semua pesonanya tak lekang oleh waktu, tak pudar digerus jaman! Nyatanya Virza langsung luluh hanya dengan rentetan kata dari sesepuh satu itu.
Jo geleng kepala melihat mamahnya yang dia pikir terlalu mudah digombali oleh bapaknya.
"Pak, bisa minta tolong?" Ucap Jo mendekati bapaknya.
"Hmm opo? Jaluk duit?" (Hmm apa? Minta duit?)"
"Ndak pak ndaak, jadi gini lho pak.. nanti kalau Lintang udah lulus sekolah aku boleh minta tolong lamarin dia buat aku ndak? Mau aku maju sendiri takut dikira anak durhaka karena ndak anggap bapak ada." Celoteh Jo diberi lirikan mata elang oleh bapaknya.
"Jo kamu minta bapakmu lamarin siapa buat kamu?" Mamah Virza lebih fokus pada nama gadis yang diinginkan putranya.
"Lintang mah! Lintang adiknya Gendis. Yang imut, gemesin itu... Mamah mau ya? Lamarin dia buat aku?" Bujuk Jo kepada mamahnya.
"Emang dia mau sama kamu? Lintang anak Shela kan?" Makin cemberut aja Jo saat mendengar perkataan mamahnya.
Beneran nih enggak ada yang mau bantu Jo dari kebuntuan karena Lintang? Buntu yang dibikin sendiri sih. Masih kecil kok minta nikah mulu.
"Nanti nek enggak cepet-cepet sat set mepet dia pasti diduluin orang mah.. Mamah enggak mau apa punya mantu produk unggul? Cantik, pinter, baik, sholehah-"
"Dia suka sama kamu?" Tanya mamah Virza memotong kalimat Jo yang belum selesai menjabarkan betapa uuuh nya sosok seorang Lintang di matanya.
"Suka kok suka! Dia bilang aku tipe dia banget mah" Bukan main ente kisanak, kapan Lintang bilang kalau dirimu adalah tipenya?
"Lintang bilangnya pas dia baru bangun tidur pasti, jadi mata masih sepet penuh belek!" Tawa renyah mengiringi ucapan bapak Beni. Mamah Virza ikut ngakak bak kunti mendengar suaminya berkata demikian.
Tadi aja bilangnya enggak boleh ngisengin anak gantengnya mulu, lha sekarang malah ikut ngakak dengan gurauan yang suaminya lontarkan untuk putranya.
"Mamah sama bapak enggak dukung aku banget. Aku mau minta tolong budhe sama pakdhe aja! Mereka kan sayang banget sama aku."
Keluarga bapak Beben memang serame itu. Ada saja kekonyolan yang membuat suasana jadi meriah meski rumah mereka hanya dihuni tiga orang saja. Emang Jo anak tunggal? Iya, setelah melahirkan Jo.. Mamah Virza belum juga diberi momongan lagi. Padahal bapak Beben udah berusaha semaksimal mungkin untuk menambah jumlah penghuni di istana kecil miliknya tapi, pada kenyataannya hanya Jo yang dipercayakan Sang Pencipta untuk meramaikan kediamannya tersebut.