
Apa yang Kelian ingin tahu tentang Rama? Visualnya? Pekerjaannya? Atau perasaannya kepada Neta? Mungkin di sini hanya Rama yang visualnya enggak bakal muncul. Karena jujur aja, othor merasa enggak perlu ngasih muka buat tokoh satu itu.
"Net dari cerita kamu tadi, aku mikir kamu lebih cocok sama Rama deh dari pada terus-terusan ngejar Fajar. Jujur aja Net, Rama itu ganteng. Bahkan menurutku Rama lebih ganteng dari pada Fajar, lebih karismatik, ya meski dia bukan dokter kayak Fajar.. tapi Rama punya pesona yang bikin susah berpaling. Kalau kamu enggak mau ya buat aku aja Net hehehe!" Rizna berusaha memberikan saran terbaik untuk orang yang masih dia anggap temannya.
"Siapa yang nyuruh kamu komentar sih Riz? Mata kamu katarak ya? Sampai ngomong kalau Rama lebih ganteng dari ayank Fajarku! Nek kamu mau ya ambil aja sana, malah beneran dia enggak gangguin aku mulu."
Neta mengelap lehernya dengan tisu yang dia keluarkan dari dalam tasnya, hari ini benar-benar sangat panas untuknya.
Sekilas bayangan Rama muncul waktu lelaki yang dianggap tak penting untuknya itu melakukan perbuatan tak terduga. Di warung bakso tadi siang, cowok itu dengan lancang mengelap keningnya dengan tisu karena panasnya cuaca membuat keringat mengucur keluar dari kening Neta. Tak terima dengan perbuatan Rama, Neta langsung menepis tangan lancang Rama dan pergi tanpa makan atau mengucapkan apapun saat Rama terus saja memanggilnya untuk kembali.
"Iyuuuuuh!" Ucapnya dengan gelengan kepala bermaksud menghilangkan bayangan Rama yang berseliweran di benaknya.
"Kenapa Net?" Rizna takut temannya itu kesurupan. Ya, dia takut! Enggak kesurupan aja tingkah polah Neta udah horor apalagi sampai kerasukan makhluk halus. Bisa double angker wujud manusia di depannya ini.
"Kamu nanyeeaaak???" Berucap sambil melotot. Udah mirip boneka chucky gadis satu ini.
Rizna tak menjawab lagi. Dia tahu akan panjang urusannya jika dia terus berbicara dengan Neta. Apapun yang dia ucapkan akan terlihat seperti kesalahan di mata Neta. Jadi bener, yang waras ngalah aja! Itu jauh lebih baik untuk keduanya.
Di tempat lain, Rama sedang bersama dengan Dewa. Dewa yang sedang menyiapkan materi pelajaran untuk anak didiknya besok dipaksa untuk melayani sesi curhat sahabatnya itu. Dengan senyum yang terus berkembang, Rama mulai bercerita kepada Dewa.
Cerita apa? Cerita tentang Neta tentunya. Dewa sampai geleng kepala, bisa-bisanya sahabatnya itu masih ngincer makhluk titisan nyi lorong dari gua Selarong. Enggak ada baiknya, jutek, manja, mau menang sendiri, sedikit gila atau mungkin emang udah gila, dan yang terparah di mata Dewa, Neta ini seorang yang minim rasa malu. Tak sungkan menunjukkan ketertarikannya kepada Fajar yang jelas-jelas sering mengabaikan Neta.
"Kamu apain dia emang? Sebenarnya kamu dan Neta ini cocok. Cocok banget! Kelian ini sama-sama pantang menyerah dan putus asa udah musnah di kamus hidup kelian! Kalau kamu terus berusaha dapet perhatiannya, lah dia juga terus fokus sama Fajar. Kamu enggak capek?" Pertanyaan dari Dewa tanpa melihat ke arah Rama, mata dan jemarinya masih sibuk melihat benda kotak bernama laptop di depannya.
"Bagaimana kamu melihat Gendis, seperti itu juga aku melihat Neta. Dia beda dari cewek lain, aku sendiri tahu dia sedikit liar tapi, itu yang menjadi daya tarik buatku enggak bisa berpaling darinya. Mungkin aku juga udah kehilangan separuh kewarasan yang aku punya saat bilang.. Dia istimewa." Netijen akan muntah membaca dialog Rama ini!
"Terserah kamu. Satu hal yang pasti, Ndisku bukan Netamu," Dewa merasa keberatan saat Rama menyamakan pandangannya antara Ndis dan Neta.
Dengan berakhirnya hari ini, berakhir pula kesemprawutan yang ada di pikiran masing-masing umat. Tak terkecuali Fajar, status dokter sudah di depan mata. Tujuannya sekarang membaktikan diri untuk masyarakat. Meski tahu semua itu butuh banyak pengorbanan, dia juga sadar pengorbanan yang dia lakukan sebanding dengan pencapaian yang dia peroleh saat ini.
Dulu dia berharap kesuksesannya akan bertambah manis dengan diterimanya dia sebagai pasangan Ndis tapi, untuk harapan yang satu itu sepertinya tidak terkabul karena sekarang sosok Meica yang menemani hari-harinya.
"Mikirin apa, dari tadi diem aja?" Sudah malam tapi keduanya masih asyik ngobrol di teras kost Meica.
"Aku mikirin hubungan kita, kok aku masih ragu kalau kita ini sekarang udah resmi pacaran... Jujur aja Jar, aku merasa cuma jadi batu loncatan agar kamu bisa lupain Ndis. Sahabat mu itu." Meica berusaha jujur dengan apa yang dia rasa.
"Ca.. Kita sama-sama tahu, enggak mudah lupain orang yang udah lama terukir di hati. Aku berusaha jujur sama kamu, jujur dari awal.. Kalau kamu enggak bisa terima masa laluku lalu aku harus gimana? Semua kegiatan yang aku lakukan saat aku pulang kemarin juga aku laporin ke kamu.. Enggak sedikitpun aku tutup-tutupi. Sekarang aku tanya, kamu mau apa dari aku?" Fajar berucap serius.