Angel!!

Angel!!
Bab 44. Kangen?



Ndis berjalan perlahan, kakinya masih nyeri saat dipaksa berjalan dengan langkah cepat. Harusnya dia di rumah aja kan masih sakit! Tapi enggak, dia enggak mau memberi harapan kepada siapapun itu jika dia menunda memberikan benda pemberian Dewa untuknya.


Dia enggak mau Dewa berpikir,'cintaku aja belum diterima tapi mau saat diberikan hadiah seperti itu'. No, Ndis tidak ingin itu terjadi. Matre, akan jadi cap buruk untuknya. Padahal belum tentu juga Dewa berpikir seperti itu. Saat seseorang ikhlas memberi untuk orang yang dia sayangi, enggak pernah ada terbesit kata matre di belakangnya nanti. Ya kan gaess?


"Kamu jalan aja masih susah kok maksa ke sini," Dewa berjalan cepat saat tahu dia punya tamu spesial. "Ada apa?" Sambungnya.


"Ini." Ndis langsung mengeluarkan ponsel yang sudah dia bungkus rapi kembali di kotaknya.


"Buat kamu. Ini punyamu." Enggak kalah irit dalam berbicara, Dewa tidak langsung menerima ponsel yang disodorkan Ndis padanya.


"Aku enggak bisa terima. Sebelumnya terimakasih, tapi maaf aku enggak bisa terima ini." Ngeyel. Iya, karena memang Ndis enggak mau menerima hadiah dari Dewa.


"Kamu enggak harus nyicil kok. Itu beneran udah aku beli kontan, lunas, aku ngasih itu untuk membantu diriku sendiri." Kembali terjadi perdebatan.


"Gratis aja aku enggak mau apalagi harus nyicil! Membantu diri sendiri gimana maksudnya?" Muka Ndis terlihat tak ramah. Dia hanya ingin segera pergi dari lokasi itu, pandangan mata dari beberapa siswi dan guru membuat dia tak nyaman.



"Aku jadi mudah hubungi kamu." Dewa sesekali tersenyum saat ada siswi yang menyapanya.



"Ambil lagi. Aku mau pulang." Tak semudah itu Marimar! Dewa menarik tangan Ndis saat Ndis menaruh ponsel itu di kursi dan berputar arah ingin meninggalkan Dewa di sana.


"Kamu enggak lihat semua orang lihatin kita?! Lepas! Kamu guru di sini, tindakanmu ini akan ditiru murid-murid mu." Sedikit berbisik, tapi tetap dengan sorot mata elangnya. Ndis tidak suka cara Dewa mepetin dia, memegang tangannya di depan umum. Sekolah juga kan tempat umum!


"Iya aku tahu. Aku suka saat kamu menyebut aku-kamu dengan kata kita kayak tadi. Sekarang gini aja, aku anterin kamu pulang. Masalah hape ini anggap aja ini DP hadiah ulang tahunmu. Masih enggak mau?" Tawar Dewa.


"Enggak. Aku enggak mau. Dan lagi enggak usah repot nganterin aku pulang, aku ke sini sama Jo. Aku cuma mau balikin ini aja."


Tidak mau membuat Ndis jadi bahan tontonan di sekolah, Dewa membiarkan Ndis berjalan menuju gerbang depan sekolah. Dia mengikuti dari belakang tentunya. Memastikan Ndis benar diantar Jo saat datang ke sini menemuinya.


"Pak Dewa, itu tadi siapa? Pacarnya ya?" Tanya salah satu guru yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara Ndis dan Dewa.


"Calon istri ku bu." Jawab Dewa santai.


"Udah Ndis?" Tanya Jo setelah melihat Ndis berjalan mendekatinya. Ndis hanya mengangguk.


"Jo, kita ke tempat biasa ya.." Tanpa dikomando atau perintah dua kali, Jo langsung melesat menuju tempat yang Ndis maksud. Taman yang biasa mereka jadikan tempat nongkrong bareng Fajar.


Singkatnya setelah mendaki tujuh gunung dan melewati puluhan lembah serta mengarungi beberapa empang.. Ndis dan Jo sampai di tempat yang mereka tuju.


Suasana sejuk, banyak pohon tinggi dan bunga-bunga mekar. Kek hati adek kalau dapet gombalan dari mamas hahahaha! Sungguh tak penting!


"Kamu pernah kontek Fajar Jo?" Tanya Ndis pada akhirnya.


"Sering, tiap hari. Hampir selalu kirim pesan dia. Kenapa?" Jo membuka helm full face, menaruhnya di stang motor.


"Ada nanyain aku?" Jo tersenyum, mengerti maksud Ndis ngajak mereka ke sana. Ndis merindu sama Fajar! Itu yang ditangkap Jo.


"Dia hubungi aku cuma buat nanyain kabar kamu Ndis. Soalnya tiap wa kamu enggak pernah kamu bales. Aku udah bilang kalau hapemu rusak, makanya kamu enggak bisa bales pesannya." Menjelaskan yang sebenar-benarnya.


"Biasanya jam berapa dia wa kamu?" Tanya Ndis lagi. Terdengar cuek tapi berselimut perhatian.


"Kamu mau telepon dia? Nih telepon aja.." Jo menyerahkan hapenya. Berpikir sesaat, tidak langsung menerima ponsel Jo, Ndis akhirnya mengambil benda persegi panjang itu dari tangan Jo.


"Apa enggak apa-apa aku telepon dia siang-siang begini? Apa dia enggak sibuk?"


"Kamu tanya pendapatku? Aku yakin dia selalu nunggu kabar dari mu, itu yang aku tahu."


Dan setelah beberapa saat terdiam, berpikir untuk menelpon atau enggak, Ndis memutuskan hanya mengirimkan pesan singkat untuk Fajar.


'Apa kabar?'


Dua kata itu terkirim.


Tanpa menunggu balasan, Ndis memberikan ponsel kepada pemiliknya.