Angel!!

Angel!!
Bab 104. Ujian Untuk Neta



Masih menggunakan balutan baju hitam, Neta tak bisa menahan kesedihannya karena setelah pemakaman papanya dia harus langsung pergi ke rumah sakit untuk menemani mamanya.


Mamanya yang baru sadar dari pingsan seperti tak terima dengan kematian suaminya. Beliau merasa suaminya masih hidup. Saking cintanya beliau terhadap suaminya, kenyataan di depan mata pun tak menggoyahkan keyakinannya jika belahan jiwanya hanya tidur bukan meninggal seperti yang orang-orang sampaikan.


"Jar.. Mama ku kenapa?" Tanya Neta dengan pandangan kosong. Kesian sekali kamu nak..


"Beliau syok Net, Kamu tahu Demensia? Atau kita lebih mengenai dengan sebutan pikun itulah yang terjadi pada mamamu saat ini. Demensia bukan penyakit spesifik, tapi merupakan sekelompok kondisi yang ditandai dengan penurunan setidaknya dua fungsi otak, seperti hilangnya memori dan kemampuan menilai." Terang Fajar menjelaskan.


"Apa bisa sembuh?" Kali ini Rama yang menanyakan pertanyaan kepada Fajar tanpa melihat mantan rivalnya itu.


"Semua orang akan mengalami fase itu, hanya saja syok dan stress yang tante alami saat ini memperburuk kondisi fisik dan mentalnya. Sering-sering lah mengajak beliau ngobrol, temani beliau sesering mungkin dan jangan memaksa beliau untuk mengerti kalau papamu sudah meninggal. Memaksa beliau untuk paham dengan situasi sekarang bukan membuat tante membaik justru memperburuk keadaan bahkan bisa mengakibatkan gangguan kejiwaan. Maaf Net.." Helaan nafas terdengar setelah Fajar menyampaikan kondisi mamanya Neta yang diam menatap foto suaminya.


"Secara enggak langsung kamu nyuruh aku hidup di dunia halusinasi mama yang menganggap papa masih ada?" Neta tak memperdulikan jawaban Fajar. Saat ini yang terpenting adalah mamanya, satu-satunya orang tua yang dia punya.


Baru kali ini Neta secuek itu sama Fajar, Fajar tak mempermasalahkannya. Toh dari awal juga dia enggak ada rasa apapun sama gadis yang terkenal seenaknya sendiri itu. Tapi, kali ini beda.. Fajar merasa sangat kesian dengan Neta. Hanya rasa kesian, tak lebih.


"Jar." Panggil Rama saat Neta sudah ke dalam ruangan menemui mamanya. Fajar yang awalnya berjalan seketika berhenti dan memutar arah menangkap sumber suara itu berasal. Alis yang dinaikkan seperti berucap 'opo?'.


"Apa kayak gini sikap cowok yang selama ini Neta perjuangankan? Di mana rasa pedulimu saat dia terpuruk seperti ini? Oke. Aku tahu kamu enggak pernah punya perasaan apapun sama dia tapi, seenggaknya tunjukkin kalau kamu ada buat dia saat dia hampir kehilangan seluruh dunianya. Ck! Cowok macam apa kamu ini, merasa paling Oke hah?" Rama tiba-tiba emosi.


"Maksud kamu apa?" Fajar berjalan mendekati Rama.


"Di hidup Neta, mungkin aku ini dianggapnya parasit yang kehadiranku buat dia alergi. Di mata dia aku enggak penting, enggak nampak, meski berulang kali menyatakan perasaan ke dia. Telinganya seakan tuli saat mendengar aku bicara tapi, aku enggak pernah sedikitpun mengubah rasa sayangku ke dia. Dan siapa yang selama ini dia cinta? Kamu! Aku enggak buta sampai enggak tahu apapun tentang kamu, pentingnya kamu di hidup Neta.. Coba pake hatimu kali ini aja, posisikan jika Neta itu adalah Gendis, apa kamu juga akan setega itu membiarkan Gendis berlarut-larut dalam kesedihan?"


Apa untungnya Rama melakukan hal ini, maksudnya seperti mendorong Fajar agar peduli pada derita Neta? Enggak ada! Rama tidak mendapatkan keuntungan apapun. Tapi, begitulah cara Rama menyayangi Neta.. Sebisa mungkin dia akan memberikan apa yang bisa dia berikan. Bodoh? Mungkin aja. Karena buat Rama mencintai Neta pun adalah sebuah kebodohan yang enggak bisa dia tampik meski udah berusaha melupakan gadis bar-bar itu.


"Aku punya pacar. Dan aku enggak ada niat buat nyakiti hati pacarku dengan over peduli dengan wanita lain. Perhatian apa yang harus aku berikan untuk Neta? Bukannya dia cewek mu? Kenapa malah kamu minta lelaki lain untuk merhatiin cewek mu? Apa kamu saja enggak cukup buat dia?"


Rama menyusul Neta masuk ke dalam ruangan tempat mama Neta di rawat. Dan Fajar, dia masih diam menyaksikan Rama yang menghilang di balik pintu.


'Karena aku enggak mau mengulang kesalahan mengesampingkan Meica seperti dulu. Karena aku enggak mau memberi harapan pada Neta disaat dia terpuruk seperti ini tapi akhirnya aku akan pergi ninggalin dia suatu saat nanti. Aku enggak peka? Atau aku budek? Terserah saja.. Nilai lah sesukamu. Karena semakin aku nunjukin perhatian pada Neta, aku tahu bukan hanya Meica yang terluka tapi juga kamu!'


"Net, ini jam berapa?" Tanya mama menaruh foto suaminya pada ranjang rumah sakit.


"Jam 16.00 ma, udah sore. Kenapa? Mama laper?" Neta mendekati mamanya, disaksikan Rama yang sudah ada di ruangan itu.


"Kamu gimana Net, papamu hari ini kan enggak lembur! Kenapa kita malah di sini? Siapa yang akan nyiapin makan papamu kalau kita semua di sini? Dan.. Kenapa kita di sini? Ini.. (Memegang selang infus di tangannya) mama sakit apa nyampe dipasangin ginian? Ayo pulang Net! Kesian papa kalau pulang enggak ada kita di rumah." Neta menunduk. Air mata itu kembali lolos. Entah sudah berapa banyak air mata yang Neta keluarkan hari ini.


"Tante.. Istirahat aja dulu. Tadi sudah makan tant?" Rama menggeser tubuh Neta agar berpindah ke belakangnya. Berusaha menutupi tangisan gadis itu agar tidak terlihat oleh mamanya.


"Makan? Belum. Aku biasa makan bareng papanya Neta. Kamu siapa?" Mama Neta memiringkan wajahnya memperhatikan wajah Rama, tapi nihil dalam memorinya tidak ada wajah Rama di sana.


"Rama tant. Calon mantu tante." Neta bodo amat dengan pengakuan sepihak Rama. Yang dia perhatikan justru mamanya yang sedikit melupakan pembahasan tentang papanya karena fokus pada kalimat 'calon mantu' yang Rama ucapkan.


Capek ngobrol dengan Rama, mama Neta akhirnya tertidur. Tangis Neta kembali pecah saat meninggalkan ruangan itu.


"Hei.. Lihat aku, jangan seperti ini Net. Mana Neta yang penuh energi buat maki-maki aku? Aku kok malah rindu suara gledek kamu saat kamu maki-maki aku Net." Rama berusaha menghibur Neta.


"Ram.." Tak ada kata lain yang keluar. Neta hanya terisak sambil memanggil nama Rama.


"Kamu pasti bisa lewati ini semua. Jangan takut. Ada aku. Aku enggak akan ninggalin kamu." Ucap Rama mantap sambil memeluk Neta.