
Deheman ringan menghentikan aktivitas bersatunya bibir yang terjadi antara Fajar dan Meica. Makhluk bernama Bagas berdiri bersandar di tiang tak jauh dari tempat Fajar dan Meica yang tadi kepergok melakukan olahraga bibir.
"Wahai umat titisan setan,, Kelian ini ya.. ish ish ish.. yang udah halal aja masih malu mau ngerujak lambe di depan umum lha kamu, belum resmi aja main sosor sana sini. Sungguh umat tak berbudi kau ini!" Mulut Bagas bagai petasan tahun baru dar der loss dol tanpa kontrol melihat ke arah Fajar. Tapi Fajar yang kepergok melakukan hal yang iya-iya itu tetap sok cool melindungi citra dirinya.
"Iri bilang boss!" Jawab Fajar santuy.
"Maaf, aku enggak minat iri sama calon member intipe neroko (Keraknya neraka) hahaha!"
Obrolan seperti itu memang biasa terjadi antara Fajar, Jo, Bagas dan Ndis. Hanya saat ada Ndis saja mulut mereka agak terkontrol serta rem dipasang biar lebih pakem di mulut masing-masing supaya image mereka enggak hancur-hancur banget di depan Ndis.
"Ca, kamu kenapa diem banget? Abis kena srepet Fajar efeknya jadi kicep mulu ya?" Bagas menarik kursi dan duduk bersama mereka.
Meica tersenyum canggung. "Biasa aja kok Gas." Terangnya.
"Ca enggak usah sungkan sama kita di sini. Kamu tahu, Fajar, Jo, Ndis itu emang udah temenan dari kecil. Dari orok kumpul, padahal bukan muhrim hahaha. Jadi enggak usah enggak enak kalau sama kita." Bagas memberi penjelasan yang diterima akal sehat Meica.
"Iya aku tahu kok. Fajar sering cerita Gas." Masih kaku. Meica belum terbiasa ngobrol bareng sahabat Fajar di sini.
"Ya masa sama kamu dan Jo aja dia cemburu lho Gas, ya kali aku doyan batangan. Aku juga enggak edan-edan amat nyampe serong dari dia dan milih main pedang sama kelian." Bagas ngakak. Meica menepuk keras pundak Fajar. Lambemu Jar!
"Tapi ya.. Tapi nih Ca, kamu patut waspada juga sih. Fajar nih kadang-kadang soalnya. Kadang waras tapi banyak enggak warasnya. Siapa tahu dia beneran nargetin aku sama Jo sejak lama.. Cuma enggak enak aja mau diutarain secara langsung hahaha."
"Bang_ke! Minggat sana! Itu mulut... Ngomongmu udah kayak Sengkuni aja, penuh provokasi di setiap tarikan napasnya!?" Seketika itu Meica tertawa.
Mungkin Meica ini termasuk orang yang terlalu lurus-lurus aja idupnya. Jarang bercanda, serius mulu gitu. Jadi kalau ada orang yang candaan dia agak sensi gitu. Untung mukanya enggak berurat saking seriusnya itu orang.
"Eh gabung ma yang lain yuk! Jangan mau diajak mojok ma Fajar mulu Ca, bisa-bisa kamu terkontaminasi sama virus kemesumannya yang udah tervalidasi! Cowokmu ini kelihatannya aja kalem, cool, enggak neko-neko. Tapi, sekalinya keluar sifat agresifnya.. Wes bar Ca.. Kelar! Sumanto aja kalah garang sama lakimu ini hahaha." Bagas sangat suka melihat muka penasaran Meica. Apalagi melihat wajah Fajar yang udah nahan diri untuk enggak jambak dirinya, itu hiburan banget sih buat Bagas.
"Enggak usah ngarang lah Gas. Aku sopan, sholeh, alim, pendiam dan udah jinak dari sononya! Enggak perlu diragukan. Neng ayo lah ke sana aja, makin enggak jelas ini orang." Fajar menarik tangan Meica menjauh dari Bagas. Takut Meica terpengaruh sama kegajean Bagas nantinya jika lama-lama dengerin kicauan manusia satu itu.
Ketiganya kembali bergabung dengan yang lain. Lintang yang kepo nanyain kemana aja Bagas pergi karena tadi ada sesi foto untuk keluarga Bagas bersama kedua mempelai.
"Gas, tadi makmu nyariin mau diajak poto bareng. Iish kamu tadi kemana, dicariin enggak ada nongol!" Lintang udah macam mpok Indun yang nagih kreditan panci mingguan sama ibu-ibu komplek.
"Aku tadi ada misi penting menyelamatkan jiwa-jiwa para umat manusia yang terseret aliran sesat Lin. Tanya aja sama Fajar dan Meica itu, tadi sih aku ngapain ya?" Bagas cekikikan. Meica tersenyum simpul. Fajar hampir mengeluarkan kata-kata berbau makian untuk Bagas. Mulutnya udah komat-kamit merapalkan mantra kutukan untuk pemuda berkulit putih bersih itu.
"Dek.. sayang, cinta, manisku, pujaan hatiku, separuh ginjal ku untukmu.. Udah ya enggak usah ditanyain lagi. Tuh lihat wajah manusia-manusia tua itu makin keriput karena kamu nanyain mulu. Kesian mereka, pasti lelah mikirin jawaban dari semua pertanyaan mu itu honey. Mending kita makan wajik ini lagi aja." Jo memberikan jajan tradisional yang terbuat dari campuran ketan dan gula merah kepada Lintang. Lintang manyun menerimanya.
Yang lain tertawa, hanya Lintang saja yang bingung dengan alasan kenapa mereka semua tertawa.
Neta dan Rama masih di sana. Neta tiba-tiba mengusap air mata yang mendadak lolos dari netranya. Menunduk agar Rama tidak tahu jika dia sedang menangis. Tapi, tak ada yang bisa Neta sembunyikan dengan baik jika bersama dengan Rama. Rama menyadari jika pacarnya itu tengah terisak di tengah kegembiraan dan keramaian acara Ndis dan Dewa.
"Butuh dada atau pundak ku? Pakai aja, aku pun enggak apa-apa kalau kamu minta peluk di sini." Kata Rama menyodorkan tisu untuk Neta.
Rama tak menanyakan sebab Neta menangis, dia hanya ingin membuat Neta lebih tenang. Orang bodoh pun tahu, Neta pasti merindukan sosok keluarganya saat ini. Keluarga harmonis seperti yang dia lihat sekarang. Melihat ramahnya pak Parto kepada dirinya tadi, melihat senyum tulus bu Shela waktu memeluknya.. Rasanya dia ingin bertukar tempat dengan Ndis dan menjadi anak dari orang tua idaman seperti pak Parto dan bu Shela.
Lagi-lagi hal yang tak mungkin terjadi terlintas dalam pikiran Neta. Dia tak ingin kembali menabur sifat iri dalam hatinya. Cukup sudah selama ini dia gila karena rasa dendam yang lebih tepat disebut iri dengan semua yang Ndis punya. Dia tak mau lagi menodai hati mungilnya dengan semua sifat buruk yang pasti dibenci netijen plus enam dua!
"Ram.. Aku kangen papa.. Aku pengen ketemu mama.. Meski aku tahu mereka bukan orang tua kandungku tapi, hanya mereka yang aku kenal sebagai keluarga.." Tangis Neta tertahan dia meremas ujung kebaya yang dia pakai untuk sekedar mengurangi sesak di hati.
"Nanti abis dari sini kita ke rumahmu ya. Ketemu mamamu. Atau ke makam papamu dulu?" Tawar Rama yang langsung diberi anggukan oleh Neta.
Usapan lembut di punggung dan tangan Rama yang memegang jemarinya seakan menyalurkan rasa nyaman. Dari sentuhan itu seolah Rama berkata 'Ada aku. Semua akan baik-baik aja.'
"Ram.. Makasih.." Rama tersenyum lembut. Hati Neta menghangat seketika.
"Untuk apa?" Tanya Rama memandang Neta.
"Untuk semuanya, untuk banyak hal. Aku aja sampai bingung mau nyebutin dari mana dulu. Saking banyaknya hal yang udah kamu lakuin buat aku."
"Semua yang mana? Yang aku lakuin ke kamu cuma satu.. Aku hanya menyayangi kamu, selebihnya semua mengalir aja. Karena rasa sayangku itu, aku jadi pengen ngelindungi kamu, jaga kamu, dan pengen selalu ada buat kamu. Ya Net.. Cuma satu hal aja yang aku lakuin, enggak banyak."
Neta menatap Rama. Seperti ada setrum menjalar ke hatinya saat pandangan mata mereka bertemu.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Masih ada dua bab terakhir.. Harap sabar gaess. Othor juga butuh napas😂